Islamofobia : Upaya Penyudutan Islam Oleh Barat


Oleh : Rima Septiani

(Mahasiswi PGSD UHO)

Setelah kejadian pembantaian Muslim di Selandia Baru, kaum Muslim lagi-lagi mendapat tindakan intoleran dari orang-orang kafir.

Seperti yang dilakukan pemimpin partai sayap kanan Denmark Starm Kurs, Rasmus Paludan yang melakukan aksi pembakaran salinan Al-Qur’an. Hal itu dia lakukan sebagai bentuk protesnya atas sejumlah Muslim yang menunaikan shalat jumat di depan gedung parlemen negara tersebut.

Dilaporkan laman Anadolu Agency  sejumlah Muslim di Denmark menggelar aksi solidaritas untuk para korban penembakan dua masjid di Christchurch,  Selandia Baru, pekan lalu. Mereka berkumpul dan sempat menunaikan Shalat Jumat di muka gedung parlemen Denmark. Kepolisisan Kopenhagen segera mengambil langkah pengamanan intensif dan menahan enam orang yang terlibat dalam aksi provokasi tersebut.

Partai paludan , yakni Stram Kurs memang dikenal sebagai partai anti-imigran dan anti Muslim. Pada Jumat pekan lalu, dua mesjid di Christchurch menjadi sasaran penembakan brutal. Insiden itu menyebabkan 50 orang meninggal dan puluhan lainnya luka-luka.

(www.republika.co.id/23/3/2019

Fitnah Terhadap Islam

Kejadian tersebut merupakan dampak dari sentimen Islamofobia yang menyebar di berbagai belahan dunia. Islamofobia adalah istilah kontroversial yang merujuk pada prasangka dan diskriminasi pada Islam dan Muslim. Istilah itu sudah ada sejak tahun 1980-an, tetapi menjadi lebih populer setelah peristiwa serangan 11 september 2001.

Runnymede Trust seorang Inggris mendefinisikan Islamofobia sebagai rasa takut dan kebencian terhadap Islam, oleh karena itu juga pada semua Muslim. Adanya praktik diskriminasi terhadap Muslim dengan memisahkan mereka dari kehidupan ekonomi, sosial, dan kemasyarakatan bangsa.(www.wikipedia.com)

Hal serupa juga ditunjukkan oleh masyarakat Jerman terhadap Islam. Penelitian yang dipublikasikan oleh  University of Leipzig menunjukan bahwa sentimen Islamofobia meningkat tajam di Jerman.  Penelitian ini menunjukkan ketegangan di masyarakat Jerman setelah lebih dari satu juta imigran, sebagian besar Muslim, tiba di negara itu tahun lalu.

Satu dari dua responden dalam penelitian itu menyatakan mereka merasa seperti orang asing di negeri sendiri karena banyak umat Islam di sekitar mereka. Jumlah ini meningkat 43 persen dari penelitian tahun 2014 dan 30,2 persen dari tahun 2009. Jumlah responden adalah sebanyak 2.420.

BACA JUGA :   Dua Agenda Gubernur Sultra Kunjungi Kolaka Timur

Penelitian ini juga menunjukan bahwa jumlah orang yang menilai bahwa umat Islam harus dilarang datang ke Jerman juga semakin meningkat, yakni sebesar 40 persen. Ini merupakan peningkatan signifikan dibanding seperlima jumlah responden pada 2009.(www.cnnindonesia,15/6)

Hal tersebut merupakan bukti kuat bagaimana pandangan dunia tentang Islam. Nyatanya Islam dianggap sebagai suatu ajaran yang membahayakan. Ini adalah salah satu framing negatif yang disebarkan ke penjuru dunia.

Bukan hanya di Eropa, Indonesia pun terkena imbasnya. Seperti yang dituturkan Ustadz. AdninArmas menyebutkan  Islamofobia bisa jadi tidak hanya terjadi di Eropa dan Amerika, tetapi juga di Indonesia.Orang-orang yang ingin berkontribusi dan mencintai agama ini bisa dituduh konservatif, fundamentalis, radikal,anti kemajuan, anti barat, anti NKRI, dan fitnah-fitnah serupa.

Adanya Gerakan Islamofobia yang semakin meluas di berbagai negara saat ini, sejatinya hal ini menunjukan banyak orang yang tidak mengenal hakikat Islam. Mereka memiliki pandangan negatif terhadap Islam. hingga berimbas pada sikap interaksi masyarakat yang  mengarah pada bentuk phobia terhadap Muslim.

Akibat dari fenomena Islamofobia yang tinggi ini, cenderung memberikan efek intoleran kepada kaum Muslimin, bahkan diperparah dengan tindakan diskriminatif dan pelecehan terhadap kaum minoritas Muslim. Mereka dianggap sebagai ancaman bagi keberlangsungan masyarakat. Sebab, meresahkan ajaran Islam yang dianggap bermuatan Islam radikal. Hal ini juga berpengaruh terhadap kasus penghinaan simbol-simbol Islam. Penodaan terhadap Al-Qur’an (dilempar ke toilet, diinjak, dibakar dll), bahkan Nabi Muhammad saw(digambar dalam bentuk karikatur yang menghinakan beliau).

Ditambah lagi pemberitaan media yang menyuarakan phobia terhadap Islam. Islam dalam pandangan media ini diidentikkan dengan kekerasan dan intoleran padahal realitasnya tidak seperti itu.

Salah satu media penyumbang informasi terbesar adalah internet. Hal ini semakin mendorong ketakutan dunia terhadap Islam. Orang-orang akhirnya berfikir kalau orang beragama Islam,  terkait dengan terorisme.  Tetapi, ini sangat tidak benar.

BACA JUGA :   MK Tolak Gugatan Berlian Murni, Ini Jadwal Penetapan Pasangan KSK GTS Bupati Terpilih

Bahkan sampai mengidentikkan Islam dengan Osama bin Laden sebagai pelaku pemboman World Trade Center(WTC). Stigma ini semakin diperkuat dengan gambaran media yang memojokkan Islam. Muslim direpresentasikan sebagai orang-orang yang tidak suka kedamaian antara umat beragama.Bentuk phobia ini diperparah dengan minimnya pengetahuan terhadap Islam itu sendiri baik itu dikalangan masyarakat ataupun komunitas Muslim sendiri.

Memang benar, dalam Islam terdapat ajaran jihad fii sabilillah. Namun jihad dan tindakan terorisme sangat  jauh berbeda. Islam mengharamkan tindakan membunuh orang tanpa dosa dan sebab. Islam mengharamkan tindakan teror dan kekerasan. Bahkan mengutuk tindakan tersebut.  Islam adalah agama yang menghargai jiwa. Tak boleh ada darah yang tertumpah tanpa makna. “siapa saja yang membunuh seseorang bukan kerena orang itu membunuh orang lain, atau bukan karena berbuat kerusakan di bumi, maka seakan akan dia telah membunuh semua manusia.” Begitu makna Al–Qur’an surah al –Maidah ayat 32. Jelas, Allah SWT melarang menumpahkan darah seorang tanpa hak.

Dari semua ini, tentu kita menolak tuduhan yang salah tersebut. Mereka keliru mengaitkan ajaran Islam dengan tindakan terorisme. Bagaimana mungkin ajaran Islam yang mulia, yang berasal dari Allah SWT, dan kalau diterapkan akan berbuah rahmat bagi seluruh alam(rahmatan lil ‘alamin), disebut sebagai ide radikal pemicu terorisme?

Sesungguhnya tersebarnya paham-paham negatif terhadap Islam di tengah dunia sekarang, ini terjadi karena umat hidup dalam sistem Jahiliyah. Pada era umat tidak hidup dalam naungan sistem Islam, umat mengalami banyak penindasan, ketidakadilan, dan kezaliman akibat kebencian terhadap Muslim, inilah dampak Islamofobia. Keadaan umat dan citra Islam makin terpuruk.

Upaya penyudutan Islam semakin gencar dilakukan oleh pembenci Islam. Dari sini, hendaknya Muslim menyadari hal tersebut. Perlu ada upaya untuk membentuk pemahaman yang benar terhadap Islam. Hendaknya siapa saja yang mengaku Muslim, mengambil andil dalam mendakwahkan Islam. Memperbaiki pemikiran masyarakat terhadap citra Islam yang buruk. Baik itu berupa dakwah lisan maupun tulisan.

BACA JUGA :   Konawe Segera Terbitkan Izin Pengelola Kawasan Industri Seluas 5500 ha

Islam Rahmatan Lil ‘Alamin

Rasulullah saw. diutus Allah SWT sebagai rahmat bagi sekalian alam. Mengajarkan hakikat kehidupan, dan membawa petunjuk yang akan membawa kebahagiaan dunia-akhirat. Tercermin dari sejarah Bagaimana Nabi saw. memberikan perlindungan atas jiwa, agama, harta penduduk Ailah, Jarba’, Adzrah dan Maqna yang mayoritas penduduknya beragama Kristen. Nabi saw. juga memberikan perlindungan atas harta, jiwa dan agama penduduk Khabair yang mayoritasnya beragama Yahudi.

Beliau juga memberikan perlindungan kepada penduduk Juhainah, Bani Dhamrah, Asyja’, Najran, Muzainah, Aslam,Juza’ah, Jidzam, Qadla’ah, Jarsy, orang-orang Kristen yang ada di Bahrain, Bani Mudrik, Ri’asy masih banyak lagi. Praktik ini dilakukan setelah kekuasaan Daulah Islamiyah meluas ke Jazirah Arab, Nabi memperlakukan orang-orang kafir dengan tidak semena-mena.

Dalam buku Holy War, Karen Amstrong mengambarkan saat-saat penyerahan kunci Baitul Maqdis kepada Khalifah Umar bin al-Khattab ra., “pada tahun 673 M, Umar bin Khattab memasuki Yerusalem dengan dikawal oleh Uskup Yunani Sofronius. Sang Khalifah meminta agar dibawa segera ke Haram asy-Syarif. Di sana ia berlutut berdoa di tempat Nabi Muhammad saw. melakukan perjalanan malamnya. Sang Uskup memandang Umar penuh dengan ketakutan. Ia mengira, ini adalah hari penaklukan yang akan dipenuhi oleh kengerian yang pernah diramalkan oleh Nabi Daniel. Namun, kekhawatiran Solfronius sama sekali tidak terbukti.

Setelah itu penduduk Palestina hidup damai, tenteram. Tidak ada permusuhan dan pertikaian meskipun mereka menganut tiga agama besar yang berbeda, Islam, Kristen, dan Yahudi. Fakta ini menunjukan, penerapan syariah Islam saat itu berhasil menciptakan keadilan, kesetaraan dan rasa aman bagi seluruh warga negara, baik Muslim maupun kafir.

Sehingga orang-orang yang memeluk agama yang berbeda menjalani kehidupan dengan saling percaya dan bersaudara tanpa ada konflik dan perselisihan. Mereka mengakui, hidup dalam negara Islam dijamin ketenangan dan kebahagiaan dalam dirinya. Wallahu ‘alam bi ash-shawab.

Tentang Penulis: admin

Gambar Gravatar
PT Kalosara Media Sultra | Penerbit www.kalosaranews.com merupakan anggota Serikat Media Siber Indonesia (SMSI) Sulawesi Tenggara (Sultra) serta tergabung dalam jaringan Siberindo.co