Jalan Tengah, Istilah Lama Yang Menyesatkan

Penulis : Fitriani S.Pd

(Revowriter)

Sebuah istilah terkadang mampu menyihir dan memperdaya siapapun. Terlebih, jika dikatakan dengan penuh retorika oleh tokoh-tokoh terpandang. Hal ini nampaknya berlaku dalam istilah jalan tengah atau moderat, yang belakangan ini dikampanyekan kembali oleh para cendekiawan dan beberapa pihak.

Masih hangat dalam memori, bagaimana Islam moderat atau Islam wasathiyah di usung sebagai jalan tengah untuk memperoleh perdamaian di negeri ini. Wacana ini tentu dideklarasikan sebagai obat penawar dari isu terorisme dan radikalisme yang “katanya” mengancam negeri. Gagasan inipun kian hangat karena dipercaya menjadi kunci perdamaian dalam peradaban manusia. Hal inilah yang menjadi perbincangan dalam acara World Peace Forum ketujuh yang dihadiri oleh 231 ulama, cendekiawan, ulama, aktivis dari berbagai negara dan organisasi internasional, yang diselenggarakan pada 14-16 Agustus 2018 lalu, di Hotel Sultan, Jakarta (Kompas.com, 16/08/2018). Jalan tengah diharapkan bisa menjadi referensi umat Islam dunia pada umumnya dan umat Islam Indonesia pada khususnya, agar  mampu menjaga kebersamaan dan perdamaian.

Hal tersebut dikarenakan peradaban dunia yang terus menghadapi krisis, seperti kekurangan pangan, masalah energi, bencana lingkungan, perubahan iklim, pengungsi, degenerasi moral yang menyebabkan tidak adanya perdamaian. Belum lagi ketidakadilan yang semakin meluas. Kemiskinan ekstrim. Buta huruf yang belum terpecahkan, teologi egosentris; kurangnya keragaman; dan diskriminasi sosio-ekonomi, rasial, dan agama, yang semuanya merupakan masalah serius yang mengancam peradaban. Belum lagi ekstremisme dalam bentuk apa pun – sosial-religius, ekonomi, atau politik – menghambat tindakan yang lebih positif dari manusia. Sehingga diperlukan jalam tengah untuk menanganinya agar tercipta perdamaian dan kesejahteraan. (Kiblat.net, 17/08/2018)

Jalan Tengah Bikin Jengah

BACA JUGA :   Kadia Masuk Kategori Daerah Rawan Pelanggaran Pemilu, KPU Sultra Beri Edukasi dan Sosialisasikan

Sepintas, istilah jalan tengah merupakan gagasan yang seolah asli, elegan, terbaik dan sejalan dengan pemikiran Islam. Alasannya, pemahaman dan praktik Islam yang terlalu kaku dan ketat, sehingga sikap jalan tengah diklaim sebagai posisi yang paling tepat dan aman. Akan tetapi jika kita telusuri, kampanye jalan tengah atau moderat ini tidak lepas dari peristiwa WTC ( World Trade Center) 11 September 2001, dimana kelompok muslim dituduh bertanggungjawab atas kejadian tersebut. Akhirnya, umat Islam jadi tertuduh dan terciptalah istilah Islam radikal untuk menggiring kaum muslim agar tersesat dan mau menerima Islam moderat atau jalan tengah yang bikin jengah.

Padahal, jalan tengah yang dimaksud ialah jalan yang tidak bertentangan dengan sekularisme Barat serta tidak menolak berbagai kepentingan Barat Kapitalis. Ia adalah jalan agar kaum muslim mau menerima nilai-nilai Barat seperti kapitalisme sekularisme, serta mau berkompromi dengan imperialisme Barat dan tidak menentangnya.

 Jalan tengah juga disinyalir sebagai solusi atas Islam radikal dan ekstrimis yang konon kabarnya mulai massif akhir-akhir ini. Islam radikal dan ekstrimis yang dimaksud ialah Islam yang menolak ideologi kapitalisme sekularisme, anti pancasila dan demokrasi, dan tidak mau berkompromi dengan Barat. Dengan kata lain, Islam radikal ialah muslim atau sekumpulan muslim yang setia dengan pandangan hidup dan nilai-nilai Islam, serta taat pada ideologi dan syariat Islam secara kaffah (menyeluruh). Karena bagi Barat, kelompok Islam seperti ini tentu mengancam peradaban mereka di negeri-negeri kaum muslim dunia, sehingga menghadirkan jalan tengah atau Islam moderat adalah solusi absolutenya. Moderat mengambil jalan tengah. Islampun dikebiri. Diakui hanya sebatas spritual-moral, namun dalam kancah kehidupan bermasyarakat dan bernegara mengadopsi hukum yang bertentangan dengan Islam.

BACA JUGA :   Wabup Konawe : Pembentukan Kecamatan Anggotoa Tak Ada Kendala

Inilah jalan yang menyesatkan kaum muslim dunia serta penyebab terprovokasinya kaum muslim bahwa ber-Islam itu harus netral, tengah-tengah dan moderat. Wacana jalan tengah adalah jalan yang bertujuan agar nilai-nilai dan praktik Islam, khususnya yang berhubungan dengan politik Islam dan berbagai hukum Islam lainnya, dapat dieliminasi dan dikebiri dari kaum muslim. Hingga kemudian bisa diganti dengan pemikiran dan budaya Barat.

 Di kutip dari Danielpipes.org, 2008, Robert Spencer seorang analisis Islam terkemuka di Amerika Serikat bahkan telah menejabarkan ciri khas muslim moderat lebih vulgar.

“Acknowledge the exixtence of and rempudiate the traditional Islamic imperative, taugh by the schools of Islamics jurisprudence that muslims recognize as orthodox, to impose Islamic law upon non-muslims, whether by force or by stealth” (Mengakui keberadaan dan menolak ajaran Islam tradisonal yang diajarkan semua mahzab fikih Islam ortodoks, untuk menerapkan hukum Islam pada non-muslim, baik secara paksa atau diam-diam).

Renounce any intention, now or in the future to replace the U.S constitution with Islamic law”( Meninggalkan keinginan, baik sekarang atau masa depan untuk menggantikan konstitusi AS degan hukum Islam)

Sehingga  dapat kita simpulkan bahwa klasifikasi moderat atau jalan tengah menggambarkan cara pandang Barat terhadap Islam dan kaum muslim sesuai ideologi mereka. Konsep Barat yang melahirkan  jalan tengah ialah agar hemegominya tetap eksis dan bertahan lama, membius kaum muslim dunia.  Barat berambisi, hanya ada satu Islam, yakni Islam yang mau menerima ideologi, nilai-nilai, dan peradaban Barat serta berbagai kepentingan mereka. Jalan tengah sesungguhnya bukan jalan untuk mewujudkan rahmat bagi seluruh alam, namun sebaliknya untuk menusuk Islam dari dalam.

BACA JUGA :   G30SPKI dan Noktah Hitam Ideologi Kejam

Islam Kaffah, Jalan Terbaik

Islam sesungguhnya tidak mengenal istilah jalan tengah, Islam moderat, Islam bengis, radikal ataupun eksthmrimis. Karena Islam adalah agama yang diturunkan oleh Allah Swt kepada Nabi Muhammad Saw sebagai rahmat bagi seluruh alam semesta. Mengatur hubungan antara manusia dengan Allah, dengan sesamanya dan dirinya sendiri. Sebab, Islam tidak hanya mengajarkan akidah saja namun juga harus terikat dengan hukum syariat, baik yang berkaitan dengan masalah ibadah, muamalat ( sistem ekonomi dan jual beli), hudud dan jiniyat (sistem sanksi dan peradilan) , munakahat (pergaulan pria-wanita), jihad maupun ahkamsulthaniyah (sistem pemerintahan) dan lain sebagainya. Inilah yang disebut Islam kaffah, keberislaman yang diperintahkan oleh Allah Swt, jalan terbaik untuk umat manusia.

Tentang Penulis: admin

Gambar Gravatar
PT Kalosara Media Sultra | Penerbit www.kalosaranews.com merupakan anggota Serikat Media Siber Indonesia (SMSI) Sulawesi Tenggara (Sultra) serta tergabung dalam jaringan Siberindo.co