,

Jangan Abai! Uighur Saudara Kita

Oleh : Lisa Aisyah Ashar

(Aktivis BMI Kolaka)

Peristiwa keji yang dirasakan muslim Uighur di China bukan hanya sekedar diskriminasi agama, namun juga suatu tindak pelanggaran HAM. Peristiwa yang menyayat hati ini, bagaikan tamparan keras bagi seluruh umat di dunia khususnya muslim.

Dilansir Hidayatullah.com– Dugaan pelanggaran hak asasi manusia (HAM) yang dialami lebih dari satu juta masyarakat Muslim etnis Uighur di China, turut menjadi sorotan serius Wakil Ketua DPR RI Fadli Zon.

“Dari pemberitaan media internasional, perlakuan diskriminatif dan tindakan represif pemerintah China terhadap Muslim Uighur sebenarnya sudah berlangsung cukup lama. Tapi sayangnya belum ada negara-negara Muslim, termasuk Indonesia, yang berani mengecam tindakan pemerintah China,” ujar Fadli dalam pernyataannya diterima hidayatullah.com, Sabtu (15/12/2018).

Meski katanya diberikan status otonomi, penduduk Muslim di Xinjiang faktanya justru mengalami perlakuan represif. Lebih dari 10 juta Muslim di Xinjiang mengalami perlakukan diskriminatif, baik diskriminasi agama, sosial, maupun ekonomi.

Bahkan berdasarkan hasil investigasi UN Committee on the Elimination of Racial Discrimination dan Amnesty International and Human Rights Watch yang dikeluarkan pada Agustus lalu, ungkap Fadli, sekitar dua juta warga Uighur ditahan otoritas China di penampungan politik di Xinjiang.

“Banyak para tahanan yang dipenjara untuk waktu yang tak ditentukan dan tanpa dakwaan. Bahkan ironisnya, penahanan tersebut tidak sedikit yang berujung pada penyiksaan, kelaparan, dan kematian.”

“Kerja sama ekonomi yang sedang dijalin Indonesia dengan China, tidak bisa menjadi alasan Indonesia untuk tetap diam atas nasib jutaan Muslim Uighur yang teraniaya. Politik luar negeri kita menganut prinsip bebas aktif.

Apalagi katanya sejumlah elite di lingkaran pemerintah saat ini memiliki hubungan yang baik dengan elite pemerintah di China.

BACA JUGA :   Irawan Laliasa : Ingin Merubah Konawe, Kita Harus Ada Dalam Struktural

“Semestinya ini menjadi modal tambahan bagi Indonesia untuk bersikap lebih aktif membebaskan jutaan Muslim Uighur yang saat ini ditahan di political camp di Xinjiang,” pungkasnya.

Nasionalisme Akar Masalahnya

Apa yang dirasakan muslim Uighur melengkapi berbagai penderitaan dan kedzaliman yang telah dirasakan di negeri-negeri muslim. Segala bentuk kepedulian dan kecaman umat tak cukup menyelesaikan  genosida terhadap etnis muslimin di Uighur, maka perlunya peran militer secara rill. Peran militer dan senjata yang banyak semestinya menjadi perisai bagai mereka nyatanya tak memiliki guna bagi mereka akibat terjebak dalam bingkai nasionalisme. Masyarakat berharap adanya suara tegas dari pemerintah.  Namun faktanya, sikap tersebut sama sekali tidak tercermin dalam pernyataan perwakilan pemerintah Indonesia.

Dikutip dari cnnIndonesia.com. Kondisi yang sangat mengkhawatirkan ini tidak mendapatkan respon yang memadai dari dunia internasional, termasuk pemerintah Indonesia. Presiden Jokowi tidak bersuara. Wakil Presiden JK menganggap Indonesia tak dapat ikut campur dalam permasalahan ini karena itu merupakan masalah dalam negeri.

Sangat disayangkan sikap pemerintah yang hanya berdiam diri layaknya setan bisu. Adanya kerja sama ekonomi yang terjalin antara Cina dan Indonesia dijadikan dalih pemerintah tetap diam atas nasib jutaan Muslim Uighur yang teraniaya. Dan lebih parahnya lagi, sekat-sekat pemahaman nasionalisme dijadikan landasan kepedulian  kita hanya sebatas ikatan nasionalisme saja. Rasa kepedulian terhadap saudara-saudara muslim seolah mati rasa, bahkan tidak ada satu pun kekuatan yang bisa mencegah dan melindungi untuk membebaskan saudara-saudara seakidah akibat paham nasionalisme yang di tanamkan kafir kepada kaum muslim.

Agar tak terjebak dalam bingkai nasionalisme. Hendaknya kita mencampakan ikatan nasionalisme yang terbukti rusak dan tidak layak dijadikan pengikat antar manusia dalam kehidupannya untuk meraih kebangkitan dan kemajuan. Lalu masih inginkah kita bertahan pada ikatan nasionalisme terbukti gagal dan hanya menimbulkan berbagai polemik?

BACA JUGA :   Tolong Jangan Lakukan Ini Pada Payudara

Uighur Butuh Khilafah

Pasca Runtuhnya Khilafah Islamiyah membuat umat kini kehilangan persai yang menjaga dan melindungi kehormatannya. Bukan hanya Uighur yang merasakan kepedihan tidak adanya Khilafah, tetapi seluruh dunia khususnya negeri-negeri muslim saat ini mengalami kedzaliman terhadap musuh-musuh Islam. Hanya Khilafah yang mampu menjadi persai bagi seluruh umat.

Nabi saw bersabda: “Sesungguhnya Imam (Khalifah) itu laksana persai. Kaum muslim akan berperang dan berlindung di belakang dia (HR al-Bukhari dan Muslim)

Ironisnya, masyarakat kini dengan mudahnya terbius oleh ikatan nasionalisme yang terbukti rusak, padahal Islam memiliki ikatan yang benar yaitu ikatan aqidah aqliyah (akidah yang sampai melalui proses berpikir) yang disebut dengan ikatan Mabda yang melahiran peraturan secara menyeluruh.

Lalu apa yang akan kita pertanggung jawabkan kelak dihadapan Allah SWT atas nasib jutaan muslim di Uighur yang berteriak meminta pertolongan? Padahal jelas dalam firman Allah SWT yang menjelaskan kewajiban bagi kita menolong saudara muslim yang meminta pertoloongan. Sebagaimana yang termaktub dalam  QS al-Anfal:72, “Jika mereka meminta pertolongan kepadamu dalam (urusan pembelaan) agama, maka kamu wajib memberikan pertolongan”.

Akankah kita mampu mempertanggung jawabkan semua itu dihadapan Allah SWT atas apa yang menimpa jutaan muslim di Uighur? Akankah kita mampu menyaksikan saudara seakidah kita diperlakukan secara keji terhadap komunis Cina? Saat ini kita hanya mampu mengecam, seraya mengelus dada atas apa yang menimpa saudara-saudara muslim kita yang tak hanya di Uighur, melainkan di Gaza,Rohingya,Syam dan negeri-negeri muslim lainnya. Maka dari itu, hendaknya kita Siap menjadi penolong  agama Allah SWT  dalam mempercepat datangnya Nushrah dengan bersatu dan memperkuat tubuh jammah guna melindungi dengan kekuatan militer.

BACA JUGA :   Warga Desa Sulaho Keluhkan Lumpur Tambang, Pemda Kolut Jangan Tutup “Mata”

Karena itu jelas, kita tak bisa berharap banyak kepada para pemimpin Muslim saat ini. Khilafahlah satu-satunya harapan. Sebab Khilafahlah pelindung sejati umat sekaligus penjaga agama, kehormatan, darah dan harta mereka. Khilafah pula yang bakal menjadi penjaga kesatuan, persatuan dan keutuhan setiap jengkal wilayah mereka.

Semoga kali ini, semua penderitaan kaum Muslim di seluruh dunia, khususnya Muslim Uighur, menyadarkan kita semua bahwa Khilafah sudah saatnya hadir kembali. Tak bisa lagi kaum Muslim menunggu terlalu lama. Saatnya Khilafah Rasyidah ‘ala Minhajin Nubuwwah yang kedua ditegakkan di muka bumi ini. Allahu Akbar! (***)

Tentang Penulis: admin

Gambar Gravatar
PT Kalosara Media Sultra | Penerbit www.kalosaranews.com merupakan anggota Serikat Media Siber Indonesia (SMSI) Sulawesi Tenggara (Sultra) serta tergabung dalam jaringan Siberindo.co