Jejak Khilafah di Nusantara, Menolak Lupa

Ummu Zhafran
Ummu Zhafran

Oleh: Ummu Zhafran
(Pegiat Literasi, member AMK)


Beberapa waktu lalu, publik sempat dihebohkan dengan launching perdana sebuah film dokumenter besutan sutradara, Nicko Pandawa. Wajar sebab muatannya masih merupakan isu yang seksi di negeri ini. Hal yang tiga tahun terakhir jadi buah bibir di segala kalangan, tua muda, serta awam hingga para selebriti. Tepat, khilafahlah yang dimaksud.

Dengan tajuk Jejak Khilafah di Nusantara (JKdN), film ini sukses meraup penonton hingga ratusan ribu sejak menit pertama. Sayang jalannya film sempat terganggu dengan pemblokiran serta penghentian acara oleh pihak yang kurang bertanggungjawab.

Anehnya, berbagai upaya yang coba menghadang ditayangkannya film ini justru seolah menuai ‘berkah’ bagi tim JKdN sendiri. Narasinya jadi viral, sempat trending bahkan membuat sebagian pihak kegerahan. Luar biasa.

Padahal bila berpatokan pada sejarah, sederhana jadinya. Bertebaran bukti dan atsar yang menandakan jejak-jejak kekuasaan Islam di Nusantara. Begitu banyaknya, bahkan dapat dirasakan sambil menutup mata.

Bagaimana tidak, Islam yang dianut mayoritas rakyat dari Maroko sampai Merauke hari ini cukup jadi buktinya. Merupakan buah dari aktivitas dakwah yang militan luar biasa. Tak hanya karena sadar akan wajib hukumnya berdakwah tapi juga dilakukan dengan semangat militan menggema. Jadi ingat senandung anak yang hingga kini melegenda.

Nenek moyangku orang pelaut Gemar mengarung luas samudra Menerjang ombak tiada takut Menempuh badai sudah biasa Ya, melakukan perjalanan berbilang bulan dari negeri gurun sampai ke zamrud khatulistiwa saat itu tentu butuh motivasi yang kukuh dan kuat. Sebab harus siap bertarung dengan alam berikut nyawa yang dikandung jasad. Motif sekedar mencari keuntungan materi jelas menjelma receh saat berhadapan dengan niat dakwah karena Allah. Setidaknya hal itu menurut apa yang disinyalir oleh Buya Hamka dalam pidatonya pada Dies Natalies PTAIN ke-8 di Yogyakarta 1958.

Menurut Hamka, kedatangan awal bangsa Arab tersebut tidaklah dipengaruhi oleh aktor ekonomi, tetapi lebih kepada motivasi dan dorongan untuk menyebarkan agama Islam. Teori yang dikenal dengan nama teori Makkah ini juga disampaikan oleh Hamka untuk menyangkal teori bahwa Islam dibawa oleh para pedagang Gujarat yang berdagang di Nusantara.

Gujarat dinyatakan hanya sebagai tempat singgah, dan Mekkah sebagai pusat atau Mesir sebagai tempat pengambilan ajaran Islam.
Hal ini diperkuat fakta bahwa pada abad ke-13 di Nusantara sudah berdiri suatu kekuatan politik Islam. Termasuk di dalamnya kesultanan Aceh, Ternate dan Buton. Maka sudah tentu Islam masuk jauh sebelumnya yakni abad ke-7 Masehi atau abad pertengahan Hijriyah.

Bila sejarah tak bisa dibantah dan dakwah yang selamanya wajib hukumnya bukan remeh dan remah, maka soal berikutnya adalah mengapa nenek moyang kita mudah menerima Islam? Jawabnya sudah pasti ada pada keagungan Islam yang terpancar dari juru dakwah utusan kekuasaan Islam alias khilafah yang tegak selama belasan abad.

Sikap santun, welas asih dan penuh kasih sayang hanya sebagian dari akhlak mulia yang diajarkan dalam Islam. Rasulullah Saw bersabda,
“Sesungguhnya aku diutus untuk menyempurnakan kemuliaan akhlak.” (HR. Al-Baihaqi)

Itu satu sisi. Di sisi lain Islam adalah agama fitrah. Mudah diterima oleh akal dan selaras dengan kondisi manusia yang lemah dan terbatas di hadapan Sang Pencipta. Wajar bila berbondong-bondong yang memeluk Islam di seluruh dunia hingga akhir zaman. Tak terkecuali di negeri zamrud khatulistiwa. Jejaknya bahkan terserak bagai butiran permata di penjuru Nusantara. Sukar dilupakan. Pun sulit jika ingin diabaikan. Maka aneh bila kini ada yang seolah ingin lupa sementara bukankah keislaman kita sendiri termasuk di antara bukti tilas dakwah oleh khilafah?

Meski demikian, penting untuk jadi catatan di tengah euphoria pro-kontra terhadap JKdN. Bahwa film tersebut bukan sekedar untuk menjadikan kita hanyut pada romantisme sejarah lantas lupa pada syariah. Karena sejarah hanya menunjukkan bahwa Nusantara sejak awal telah menerima dan menyambut sentuhan Islam. Sedang yang terpenting untuk selalu diingat bahwa Islam adalah agama samawi yang sempurna. Dakwah itu bagian dari syariat Allah yang kaffah mencakup seluruh aspek kehidupan. Menerapkannya adalah semata konsekuensi dari iman. Sebagai jejak bahwa kita umat Rasulullah Saw. Berharap kelak di akhirat mendapat syafaat.

Hal ini pula yang dipahami para Sultan di kesultanan -kesultanan Islam hingga di pelosok khatulistiwa. Bahwa Islam selamanya bukan khayalan tentang surga dan neraka melainkan untuk diterapkan secara nyata demi balasan yang pasti adanya.

“Dan tinggalkan lah orang-orang yang menjadikan agama mereka sebagai main-main dan senda gurau, dan mereka telah ditipu oleh kehidupan dunia. Peringatkanlah (mereka) dengan Al-Quran itu agar masing-masing diri tidak dijerumuskan ke dalam neraka, karena perbuatannya sendiri. Tidak akan ada baginya pelindung dan tidak pula pemberi syafaat selain daripada Allah………” (QS Al An’aam:70)

Jika nenek moyang kita dahulu paham hal tersebut lalu bisa menorehkan jejak Islam dengan tinta emas, bagaimana dengan kita? Insya Allah juga. Wallaahu a’lam.


error: Hak Cipta dalam Undang-undang