KALOSARA SEBAGAI INSTRUMEN UTAMA DALAM KEHIDUPAN SOSIAL BUDAYA SUKU TOLAKI DI SULAWESI TENGGARA

Penulis Oleh: Prof.Dr.H. Anwar Hafid, M.Pd

Penghayatan dan pengkajian budaya yang minim selama ini, berdampak langsung terhadap rendahnya pemahaman generasi akan kekayaan budaya daerahnya. Hal ini terungkap dalam berbagai kesempatan pertemuan ilmiah di Sultra, selalu muncul keluhan peserta akan kurangnya literatur tentang budaya dan sejarah Sulawesi Tenggara.

Minimnya bacaan dan bahan amatan dalam bentuk pentas budaya, semakin mengikis kepedulian dan penghayatan masyarakat akan pengembangan budaya daerah, sehingga dikhawatirkan akan berpengaruh terhadap pengikisan nilai-nilai budaya yang memiliki nuansa inovatif yang telah tumbuh pada budaya suku bangsa yang ada di Sultra.

Telah disadari banyak pihak bahwa salah satu prinsip manajemen dalam menghadapi polarisasi adalah berpola pada budaya. Para manajer dalam era modern makin memahami pentingnya budaya dalam pengembangan sumber daya manusia. Namun harus diakui bahwa perubahan budaya tidak dihasilkan secara langsung melalui upaya untuk mengubah budaya itu sendiri, tidak pula melalui pelatihan budaya, pencatatan sejumlah nilai dan keyakinan, atau perintah kepada orang lain untuk berbudaya.

Suatu hal yang pasti bahwa nilai-nilai budaya harus mampu diinternalisasikan dalam setiap aktivitas sosial masyarakat, sehingga dapat dengan mudah diadopsi oleh anak sebagai peserta didik atau generasi pelanjut yang akan mengembangkan kebudayaan itu baik dalam bentuk invensi maupun melalui proses akulturasi.

Suku Tolaki telah lama mendiami Jazirah Tenggara Pulau Sulawesi. Suku ini menyebar di beberapa wilayah yang cukup luas yakni wilayah Kota Kendari, Konawe, Konawe Utara, Konawe Selatan, dan Kolaka. Persebaran Suku Tolaki ini membawa serta pranata-pranata sosial, politik, ekonomi dan tata nilai.

Sumber nilai dalam Suku Tolakibaik yang berdiam di pedesaan sebagai petani tradisional maupun yang bermukim di perkotaan sebagai pegawai negeri atau pengusaha, sampai saat ini mesih menempatkan instrumen adat yang disebut Kalo sebagai suatu yang sakral (Tarimana, 1993; Idaman, 2012). Kalo, dapat berfungsi sebagai lambang pemersatu dan alat penyelesaian berbagai masalah dalam  kehidupan masyarakat.

BACA JUGA :   Demo Unilaki Ricuh, Rektor Diseret Mahasiswa

Secara sosio-psikologis, budaya masyarakat Tolaki di Sulawesi Tenggara dewasa ini memiliki ciri-ciri umum, yang berpotensi besar sebagai pendorong pembangunan daerah. Ciri-ciri itu, adalah:

  1. Memiliki naluri untuk hidup bertetangga secara baik
  2. Mempunyai keinginan dan sikap kerja sama dalam bentuk gotong royong, yang diaplikasikan dalam budaya samaturu.
  3. Memiliki sikap kekerabatan yang dicerminkan dalam solidaritas dan tenggang rasa terhadap sesama yang diaplikasikan dalam budayamedulu.
  4. Rukun dalam kehidupan, mau bermusyawarah yang diaplikasikan budaya mepokoaso.
  5. Memiliki sifat penyabar,
  6. Menghormati orang lain yang memiliki status sosial yang lebih tinggi di masyarakat atau lingkungan kerjanya, tercermin dalamungkapan inggomiu (Hafid, 2008).

Potensi inovatif dari budaya Suku Tolaki saat ini, harus dipandang sebagai suatu potensi dan peluang, bukan tantangan dan hambatan pembangunan menuju kesejahteraan masyarakat. Secara filosofi Suku Tolaki telah menetapkan kerangka budayanya dalam bentuk falsafah hidup, yang merupakan penjabaran dari budaya kalosara, diungkapkan sebagai berikut:

Medulu mbenao = satu dalam jiwa

Medulu mbonaa = satu dalam pendirian

Medulu mboehe = satu dalam kehendak/cita-cita.

Ketiga ungkapan tersebut dapat diaplikasikan dalam bentuk:

  1. Satu dalam jiwa, diaplikasikan dalam bentuk:

Mombe kamei meiri ako            = saling cinta-mencintai;

Mombeka pia-piarako               = saling pelihara-memelihara

  1. Satu dalam pendirian, diaplikasikan dalam bentuk:

Mombekapona-pona ako           = saling menghargai pendapat;

Mombeka peha-pehawako         = saling ingat-mengingatkan;

Mombeka pei-peiranga ako       = saling saran-menyarankan.

  1. Satu dalam kehendak/cita-cita, diaplikasikan dalam bentuk:

Mombeka sudo-sudo ako           = saling topang-menopang;

Mombeka tulu-tulungi ako         = saling tolong-menolong;

Mombeka tamai ako                  = saling memberi dan menerima;

Mombeka alo-alo ako                = saling ambil-mengambil satu tenaga;

Mombekakai-kai ako                 = saling menikmati makanan;

Mombeka powe-powehi ako      = saling memberi dan menerima (Tarimana, 1993).

Bahasa filosofi tersebut mencerminkan keluhuran budaya Suku Tolaki. Potensi tersebut memiliki nuansa inovatif yang dapat berfungsi sebagai landasan kemajuan budaya dan menjadi daya dorong utama peningkatan kreativitas masyarakat Sultra, khususnya dalam mewujudkan masyarakat yang maju dan damai.

Bagi Masyarakat Tolaki, kalo merupakan suatu pedoman yang mempengaruhi kehidupan masyarakat.  Kalo pada tingkat nilai budaya merupakan sistem norma adat yang berfungsi mewujudkan ide-ide yang mengkonsepsikan hal-hal yang paling bernilai dalam kehidupan masyarakat.

BACA JUGA :   Katanya Merdeka Berpikir, Tapi Aspirasi Malah Diblokir

Kalo pada tingkat aturan khusus mengatur aktivitas-aktivitas yang amat jelas dan terbatas ruang lingkupnya dalam kehidupan masyarakat. Dalam konsep kalo yang mengatur aktivitas tersebut dikenal meraou, yaitu aturan khusus yang mengatur setiap individu dalam berbahasa yang menunjukan sopan santun (bertata krama); Atora, yakni aturan khusus dalam komunikasi sosial.

Supaya setiap individu dapat terhindari dari pelanggaran yang menyebabkan hadirnya kalo, maka dikembangkanlah kata-kata falsafah yang dapat memberi sugesti kepada anggota  masyarakat untuk bertingkah laku dengan  baik.  Misalnya: Inae kosara iee nggopinesara, Inae lia sara iee nggopinekasara. Artinya: Siapa yang tahu adat, ia yang akan dihargai dan dihormati dan sebaliknya siapa yang melanggar adat akan dikasari (dihukum).

Ungkapan ini mempunyai makna yang sangat dalam bagi kehidupan masyarakat.  Tiap orang diharapkan untuk hidup dan bertingkah laku sesuai dengan norma adat istiadat yang hidup dalam masyarakat.

Seseorang akan mendapat penilaian yang baik dari masyarakat, apabila sikap dan tingkah lakunya sesuai dengan norma-norma yang berlaku.  Sebaliknya seseorang akan mendapat penilaian yang negatif atau kurang baik, bila yang bersangkutan sering melakukan perbuatan tercelah yang bertentangan dengan norma-norma yang berlaku (Mazi, 2004).

  1. Sekilas Tentang Suku Tolaki

Suku Tolaki adalah sebuah komunitas masyarakat yang mendiami pulau Sulawesi di sebelah Tenggara persisnya di Kota Kendari, Kabupaten Konawe, Konawe Selatan, Konawe Utara.

Kebanyakan dari mereka punya profesi sebagai petani yang rajin dalam bekerja. Selain itu mereka juga punya semangat gotong royong yang tinggi. Sementara itu, Tolaki adalah sebuah kata yang mengandung arti jantan. Sedangkan orang suku Tolaki menyebut dirinya Tolohinagga yang maksudnya adalah orang yang dating dari langit.

Secara historis wilayah Suku Tolaki merupakan bagian dari konawe, sebuah kerajaan yang berada di wilayah Unaaha menetapkan suatu aturan yang dinamakan Siwole Mbatohu.

BACA JUGA :   Skill Alasan Ampuh, PT.VDNI Perbanyak TKA Di Morosi

Untuk kehidupan bermasyarakatnya, suku Tolaki mempunyai symbol budaya yang membuat mereka bisa bersatu padu untuk mengatasi berbagai macam persoalan yang mincul. Symbol ini dinamakan Kalosara yang dimunculkan dengan tujuan untuk menciptakan masyarakat yang berbudi luhur dan mau menjaga ketentraman dan kesejahteraan secara bersama-sama dan bisa bergaul secara akrab dengan anggota masyarakat yang lain.

Dalam hubungan antar anggota masyarakat ini, terdapat unsure-unsur yang mengandung nilai filsafat tinggi. Mereka menjadikannya sebagai tongkat pegangan untuk menjalani kehidupan sehari-hari. Adapun jenis budaya hasil karya dan cipta yang punya nilai sosial sangat tinggi antara lain:

  1. Osara

Osara ialah seperangkat aturan-aturan pokok yang mengatur hubungan hukum antara seorang dengan orang lain, antara individu dengan kelompok, dan antara kelompok dengan kelompok yang apabila dilanggar dapat menim­bulkan sanksi baik dalam bentuk hukuman fisik mau­pun berupa kutukan masyarakat.

Osara, mengajarkan kepada setiap individu Suku Tolaki untuk selalu menaati segala keputusan yang dikeluarkan oleh adat dengan tujuan untuk mengajak masyarakat agar mau menciptakan rasa damai dan cinta dalam kehidupan mereka. Terutama ketika sedang bermasalah atau bersengketa dengan anggota masyarakat yang lain. Keseluruhan aturan hidup bermasyarakat tersebut sifatnya (tidak tertulis”, namun secara turun temurun diketahui, dihayati dan dipatuhi oleh setiap warga masyarakat Tolaki dari semua unsur lapisan termasuk penguasa/Mokole (Raja).

  1. Osamu

Osamu, sering juga disebut dengan budaya malu. Osamu, merupakan sistem pertahanan moral bagi diri sendiri, misalnya ada orang yang dikatakan malas bekerja, maka selanjutnya mereka menerapkan budaya kohanu ini dengan cara lebih tekun dan rajin dalam bekerja, sehingga sebutan sebagai pemalas akan hilang dari dirinya, berganti dengan sebutan pekerja keras yang rajin dan tekun. Secara tidak langsung budaya ini mengajak setiap orang untuk selalu memaksimalkan tenaga maupun pikiran yang dimilikinya untuk memajukan dia sendiri atau anggota suku yang lain.

Tentang Penulis: admin

Gambar Gravatar
PT Kalosara Media Sultra | Penerbit www.kalosaranews.com merupakan anggota Serikat Media Siber Indonesia (SMSI) Sulawesi Tenggara (Sultra) serta tergabung dalam jaringan Siberindo.co