Kenapa Bilang Benci saat Impor Masih Dinanti?

Zulhilda Nurwulan
Zulhilda Nurwulan

Oleh : Zulhilda Nurwulan, S. Pd (Relawan Opini Kendari)


Benci, benci, benci tapi rindu jua. Lagu milik Pance Pondang ini selaras dengan tindakan rezim hari ini. Keras menggemakan kebencian terhadap produk luar negeri, namun disisi lain tidak mampu menolak tawaran impor dari luar negeri. Seriuskah benci ini? Atau sekadar penenang angin kencang  kritikan masyarakat?

Dalam Pembukaan Rapat Kerja Nasional Kemendag secara virtual, Kamis (4/3), Presiden RI, Joko Widodo mengajak masyarakat Indonesia membenci produk-produk asing. Bahkan, Jokowi meminta produk asing ditaruh di tempat yang sepi pembeli. Akan tetapi, pernyataan Jokowi kali ini seolah bertolak belakang dengan kondisi yang terjadi di lapangan hari ini mengingat arus deras impor yang tak bisa dikendalikan.

Menanggapi hal ini, Fithra Faisal, ekonom Universitas Indonesia yang juga Direktur Eksekutif Next Policy, menganggap pernyataan benci produk asing bisa menimbulkan retaliasi ke produk Indonesia di luar negeri. Ia pun menambahkan jika Indonesia belum bisa mandiri tanpa bantuan dari negeri asing. Oleh karena itu, seruan benci produk luar negeri nampaknya hanya retorika politik memikat hati rakyat. Faktanya, impor terus berlangsung dalam jumlah besar dan berlangsung di sektor vital yang strategis.

BACA JUGA :   Tak Terima Atas Penganiayaan Oleh Oknum Satpol PP, Ribuan Mahasiswa Aksi Besar Besaran

Tentang Penulis: admin

Gambar Gravatar
PT Kalosara Media Sultra | Penerbit www.kalosaranews.com merupakan anggota Serikat Media Siber Indonesia (SMSI) Sulawesi Tenggara (Sultra) serta tergabung dalam jaringan Siberindo.co