Ketika Al-Qur’an Kian Dipolitisasi

ilustrasi alqu'an
ilustrasi alqu'an

Oleh: Fahmiyah TsaqofahIslamiy

 

Kekayaan demografi Indonesia berupa besarnya jumlah pemeluk Islam menjadi komoditas strategis dalam mengumpulkan dukungan di ajang pemilu, apalagi dalam tiga tahun terakhir geliat kebangkitan umat Islam terkuak sejak adanya kasus al-Maidah:51, hal ini tentu memberikan dampak positif, sebab kaum muslimin semakin sadar akan kewajiban membela agama dan ulama.

 

Akhir Desember kemarin, masih hangat kita ingat bagaimana persaingan dua kubu mempertahankan kuantitas perolehan suara dan dukungan masyarakat. Sampai sampai, tantangan tes baca Qur’an menjadi ajang mencari simpatisan demi memperoleh kesempatan duduk di kursi kekuasaan.

 

30 Desember 2018 lalu, sebagaimana yang diwartakan tribunnews.com, Ikatan Dai Aceh mengundang dua kandidat calon Presiden RI untuk uji baca Al Quran. Tes ini direpresentasikan sebagai kesempatan mengakhiri perdebatan soal kualitas beragama masing-masing calon yang diketahui merupakan pemeluk agama yang hanif, Diin Al-Islam.

 

Anggapan bahwa baca al-Qur’an menjadi parameter kualitas beragama sungguh merupakan kedangkalan berpikir dalam beragama.

Begitu masyhur sabda Rasulullah SAW tentang munculnya suatu kaum dari umatnya yang hanya fasih membaca Al-Qur’an namun kosong dari pemahaman terhadap Kitabullah.

“ Akan muncul suatu sekte / firqoh / kaum dari umatku yang pandai membaca Al Qurʻan. Di mana, bacaan kalian tidak ada apa-apanya dibandingkan dengan bacaan mereka. Demikian pula shalat kalian dari shalat mereka. Juga puasa mereka membandingkan dengan puasa kalian. Mereka membaca Al Qurʻan dan mereka menyangka itu Al Qurʻan itu adalah (hujjah) bagi mereka, namun ternyata Al Qur’an itu adalah (bencana) atas mereka. Shalat mereka tidak sampai melewati batas tenggorokan. Mereka keluar dari Islam.” (HR Muslim 1773)

Kutipan sabda Rasulullah SAW yang menggambarkan bagaimana Ibadah mereka tidak sampai melewati batas tenggorokan, menunjukkan betapa sia-sia nya ibadah mereka. Al-Qur’an yang mereka baca tidak sampai masuk melewati kerongkongan, apalagi merasuk kedalam hati untuk dihayati maknanya, diamalkan dalam kehidupan, diterapkan dalam bernegara, dan didakwahkan kepada manusia.

BACA JUGA :   Bupati Kolut Ingatkan Kades Hati - Hati Mengelola Dana Desa

 

Disisi lain, tes membaca Al-Qur’an semacam ini amat sangat dikhawatirkan dapat membawa pelakunya kepada sikap riya’ dan ‘ujub.

Dari Mahmud bin Labid, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, “Sesungguhnya yang paling aku khawatirkan akan menimpa kalian adalah syirik ashgor.” Para sahabat bertanya, “Apa itu syirik ashgor, wahai Rasulullah?” ‘ Allah Ta’ala berkata pada mereka yang meminta riya ‘pada hari kiamat kompilasi manusia mendapat balasan atas amalan mereka:’ Pergilah kalian pada orang yang kalian tujukan melakukan riya ‘di dunia. Lalu lihatlah apakah kalian mendapat balasan dari mereka? ‘ (HR. Ahmad 5: 429. SyaikhSyu’aib Al Arnauth mengatakan bahwa sanad hadits ini shahih).

 

Tentang Penulis: admin

Gambar Gravatar
PT Kalosara Media Sultra | Penerbit www.kalosaranews.com merupakan anggota Serikat Media Siber Indonesia (SMSI) Sulawesi Tenggara (Sultra) serta tergabung dalam jaringan Siberindo.co