, , , , , , , , , , ,

Ketika Rakyat Menjadi Tuhan dalam Menentukan Segala Aturan Termasuk Pemilu di Sistem Demokrasi

Ketgam : Makassar.tribunnews.com
Ketgam : Makassar.tribunnews.com

Oleh : Lia Destia

Pada masa Romawi kuno terdapat bentuk kediktatoran penguasa di dunia. Sehingga Yunani kuno menawarkan sebuah sistem yang berarti “diperintah oleh rakyat” dan dari sinilah muncul pikiran awal tentang demokrasi yang terus berkembang hingga saat ini. Pada sistem demokrasi, warga memerintah dirinya sendiri melalui wakil-wakilnya yang dipilih sesuai dengan konstitusi, bebas, teratur dan memungkinkan terjadi perubahan.

Demokrasi sendiri berasal dari Bahasa Yunani, yaitu “demos” yang artinya rakyat dan “kratos” yang artinya kekuasaan, jadi demokrasi secara terminology berarti pemerintahan yang menghendaki kekuasaan oleh rakyat.

Dalam sistem demokrasi, pemilihan umum lahir dari gagasan besar yang merujuk pada John Locke dan Rousseau, keterjaminan kebebasan, keadilan serta kesetaraan bagi individu dalam segala bidang.

Dalam sistem ini hubungan antara warga negara dan negara masih berjarak meskipun difasilitasi oleh berbagai lembaga serta elemen masyarakat karena adanya kebebasan bagi semua pihak untuk ikut aktif dalam pembangunan nasional baik pembangunan politik maupun bidang lain. Masyarakat diberikan peran aktif dan menjadi bagian dari proses demokrasi.

Sumbergambar: geotimes.co.id

Ya sedikitnya itulah tulisan yang dikutip dari Jurnal Politik Profetik oleh Farahdiba Rahma Bachtiar (2014) dengan judul Pemilu Indonesia: Kiblat Negara Demokrasi dari Berbagai Refresentasi. Di dalam demokrasi terdapat keterjaminan kebebasan pada masyarakat. Selain itu, dalam Jurnal Wacana Politik oleh Triono (2017) dengan judul Menakar Efektivitas Pemilu Serentak 2019 juga dituliskan bahwa rakyat merupakan pemegang kedaulatan, maka rakyatlah yang menentukan corak dan cara serta tujuan apa yang hendak dicapai dalam kehidupan kenegaraan. Hal ini menunjukkan bahwa berkuasa secara independen atas dirinya sendiri.

Kedua poin diatas menunjukkan bahwa dalam sistem demokrasi rakyat adalah Tuhan. Semua aturan yang ada pada sistem ini, rakyatlah yang berperan aktif dalam menentukan segala. Padahal sesungguhnya rakyat adalah manusia biasa yang pada hakikatnya memiliki keterbatasan. Dari sinilah sudah menjadi kepastian bahwa cara atau metode yang dibuat pun memiliki kecacatan. Termasuk metode pemilihan umum presiden yang pada saat ini menjadi fokus pemberitaan.

BACA JUGA :   Pegawai Diknas Konawe Diduga Bogem Seorang Mahasiswa

Dalam pemilihan umum demokrasi, terdapat partai politik yang beperan sebagai wadah untuk menyalurkan aspirasi rakyat dengan pemerintah. Sebagai organisasi yang hidup ditengah masyarakat, partai politik berperan dalam menyerap, merumuskan dan mengagregasi kepentingan masyarakat.

Partai politik memiliki kandidat untuk dipilih dan ikut berlaga dalam pemilihan presiden dan wakil presiden. Selain itu juga terdapat lembaga independen yaitu KPU yang berperanan dalam menetapkan partai yang berhak ikut pemilu, menetapkan tata cara pemilu, menjadwalkan pemilu dan peraturan lain yang kesemuanya mengatur jalannya pemilu untuk menampung seluruh suara rakyat.

KPU terdiri dari orang-orang terpilih yang ditentukan dalam undang-undang dimana undang-undang ini juga disusun oleh DPR dan pemerintah. Sedangkan DPR dan pemerintah sendiri adalah orang-orang yang dipilih oleh rakyat atau biasa disebut sebagai wakil rakyat. Ya, lagi-lagi semuanya berpusat pada satu kata yaitu rakyat. Mari kita lihat bagaimana hasilnya ketika rakyat yang menjadi Tuhan dalam sistem demokrasi.

Dilansir dari www.liputan6.com(20/01/2019) Komisioner Komisi Pemilihan Umum (KPU) Ilham Saputra mengakui bahwa debat pilpres 2019 pertama tidak sesuai ekspektasi. Bahkan bisa dibilang tidak seru karena peserta debat telah terlebih dahulu diberikan kisi-kisi pertanyaan.

“Ya sekali-kali kita menerima masukan dari masyarakat, bahwa memang mungkin karena diberikan kisi-kisi debat ini menjadi yang masyarakat sebut kurang seru,” ujar Ilham.

Disisi lain, Tim Kampanye Nasional kedua kubu yakni Jokowi-Ma’ruf dan Prabowo-Sandi pun kini telah setuju untuk debat edisi kedua tidak ada kisi-kisi pertanyaan.

Sumbergambar: Makassar.tribunnews.com

Dari berita diatas, sudah bisa kita simpulkan bahwa ketika manusia membuat sebuah aturan maka akan terjadi suatu kekurangan. Lalu kenapa tidak menggunakan peraturan dari Sang Maha Sempurna yaitu Allah SWT yang sudah barang pasti tidak ada kecacatan didalamnya? Padahal Allah SWT telah memberikan syariat Islam pada kita semua. Dimana syariat Islam merupakan sebuah ideologi yang tentunya mengatur segala aspek dalam kehidupan dunia beserta akhirat kelak. Islam mengatur urusan individu hingga seluruh manusia bahkan alam semesta. Islam mengatur segala aspek baik politik, kesehatan, keamanan, pendidikan dan yang lainnya.

BACA JUGA :   Ketika SDA Negeriku Diobral Murah

Allah Azza wa Jalla berfirman:

 “… Pada hari ini telah Aku sempurnakan untukmu agamamu, dan telah Aku cukupkan kepadamu nikmat-Ku, dan telah Aku ridhai Islam sebagai agama bagimu …” [Al-Maa-idah: 3]

Al-Hafizh Ibnu Katsir rahimahullah (wafat th. 774 H) menjelaskan, “Ini merupakan nikmat Allah Azza wa Jalla terbesar yang diberikan kepada umat ini, tatkala Allah menyempurnakan agama mereka. Sehingga, mereka tidak memerlukan agama lain dan tidak pula Nabi lain selain Nabi mereka, yaitu Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa sallam.

Oleh karena itu, Allah Azza wa Jalla menjadikan beliau sebagai penutup para Nabi dan mengutusnya kepada seluruh manusia dan jin. Sehingga, tidak ada yang halal kecuali yang beliau halalkan, tidak ada yang haram kecuali yang diharamkannya, dan tidak ada agama kecuali yang disyari’atkannya. Semua yang dikabarkannya adalah haq, benar, dan tidak ada kebohongan, serta tidak ada pertentangan sama sekali.

Sudah terbukti bukan, bahwa sistem buatan manusia yaitu demokrasi beserta aturan didalamnya memiliki kekurangan? Maka atas dasar apa kita bisa mengatakan sistem demokrasi lebih baik dari syariat Islam? Mari bersegera kita berjuang menerapkan sistem Islam dalam negeri ini. Wallahu ‘alam.

Tentang Penulis: admin

Gambar Gravatar
PT Kalosara Media Sultra | Penerbit www.kalosaranews.com merupakan anggota Serikat Media Siber Indonesia (SMSI) Sulawesi Tenggara (Sultra) serta tergabung dalam jaringan Siberindo.co