Komersialisme Pariwisata, Kekufuran Makin Nyata

OPINI : Indonesia, dengan jumlah penduduk mayoritas muslim terbesar, namun sebagian masyarakatnya masih mempercayai hal-hal mistik untuk mengiringi segala urusan dalam kehidupannya. Dari mengesampingkan Allah sebagai A-Khaliq dalam banyak aktifitasnya, hingga rela melakukan ritual kekufuran dengan dalih melestarikan  budaya lokal sebagai tradisi masyarakat yang telah turun-temurun.

 

Seperti dilansir rebublika.co. id. Pemerintah Kabupaten Purbalingga akan mengusulkan Festival Gunung Slamet (FGS) yang rutin diselenggarakan setiap tahun, agar bisa masuk dalam agenda pariwisata nasional. Hal itu disampaikan Plt Bupati Purbalingga Dyah Hayuning Partiwi, saat membuka pelaksanaan PGS.

 

“Saya berharap, tahun depan PGS dapat menjadi salah satu agenda pariwisata nasional yang ditetapkan Kementerian Pariwisata,” jelasnya.

 

Sebanyak 15 ribu wisatawan ditargetkan mengunjungi kegiatan Festival Gunung Slamet (FGS) 2018. FGS digelar di desa Serang, Kabupaten Purbalingga, Jawa Tengah, pada 27-29 September, rebuplik.co.id, Purbalingga (12/9/2018).

 

“Kami menargetkan sedikitnya 5000 wisatawan selama pergelaran FGS 2018 yang digelar selama tiga hari,” kata Kepala Desa Serang Sugito, pada Rabu 12/9.

 

Komersialisme Pariwisata

Pariwisata, baik berupa gunung, laut, atau daratan sejatinya adalah ciptaan Allah SWT, dan boleh dinikmati siapa saja secara gratis. Namun kini banyak tempat pariwisata dikomersialkan dengan alasan agar memiliki daya jual, demi menumpuk pundi-pundi rupiah dan menjadi salah satu sumber pendapatan negara.

 

Dalam pandangan kapitalisme, pariwisata hanya dijadikan sebagai tempat mendulang pundi-pundi rupiah. Dengan memolesnya hingga cantik, dan mampu mempesona pandagan siapapun yang melihatnya, bahkan menggunakan budaya daerah yang notabene mengandung nilai-nilai kemusyrikan  sebagai tambahan daya pikat, kemudian mengeksploitasi seluruh sumber daya alam yang ada dengan mengedepankan komersialisme, serta sekedar sebagai hiburan/entertainmen semata.

BACA JUGA :   Ini Penyebab Kantung Mata dan Cara Mengatasinya

 

Pengelolaan pariwisata yang dilakukan dengan menghidupkan aktifitas kesyirikan (Animisme/dinamisme), terlebih mendapat legalitas pemerintah demi alasan meningkatkan pendapatan suatu daerah, maka hal itu menjadi berbeda. Kemungkaran dan kekufurun dengan alasan apapun sesungguhnya tidak dibenarkan karena mengundang murka Allah, dan mengundang datangnya masibah.

 

Tentang Penulis: admin

Gambar Gravatar
PT Kalosara Media Sultra | Penerbit www.kalosaranews.com merupakan anggota Serikat Media Siber Indonesia (SMSI) Sulawesi Tenggara (Sultra) serta tergabung dalam jaringan Siberindo.co