,

Korban Sistem, Pejabat yang Tak Tau Makna Infrastruktur Sesungguhnya

ilustrasi-pembangunan-infrastruktur-indonesia
ilustrasi-pembangunan-infrastruktur-indonesia

Oleh : Lia Destia

 

Dikutip dari Jurnal Cut Nanda Keusuma dan Suriani (2015) yang berjudul Pengaruh Pembangunan Infrastruktur Dasar Terhadap Pertumbuhan Ekonomi di Indonesia, terdapat tiga pengertian infrastruktur yakni menurut MacmillanDistionaryof Modern Economics (1996), infrastruktur adalah elemen struktural ekonomi yang memberikan fasilitas terhadap arus barang serta jasa antara pembeli dan penjual. Menurut The RoutledgeDictionaryofEcomics (1995), infratruktur diartikan lebih luas menjadi suatu pelayanan utama dari sebuah negara yang membantu kegiatan ekonomi dan kegiatan masyarakat sehingga berlangsung melalui penyediaan transportasi serta fasilitas pendukung lainnya. Sedangkan menurut Larimer (1994), infrastruktur adalah pondasi atau rancangan kerja yang mendasari pelayanan pokok, fasilitas serta institusi bergantungnya pertumbuhan dan pembangunan suatu area, komunitas dan sistem. Infrastruktur meliputi variasi yang luas dari jasa, institusi serta fasilitas yang juga mencakup sistem transportasi dan sarana umum untuk membiayai sistem, hukum, penegakan hukum pendidikan dan penelitian.

Itulah pengertian sesungguhnya dari kata ‘infrastruktur’. Bisa diambil kesimpulan dari tiga definisi diatas yakni infrastruktur merupakan sebuah pelayanan dari suatu negara untuk memberikan fasilitas kepada masyarakatnya sehingga berlangsung kehidupan yang lebih mudah dan baik. Sehingga dari definisi tersebut, pembangunan infrastruktur memang merupakan kewajiban negara untuk memberikan pelayanan bagi rakyatnya. Bukanlah satu hal yang wah apabila sebuah pemerintah membangun infrastruktur karena memang salah satu kewajiban pemerintah adalah memberikan pelayanan yang terbaik bagi rakyat.

Definisi diatas tampaknya bisa jadi kurang dimengerti oleh Walikota Semarang. Dilansir dari regional.kompas.com (03/02/2019), Wali Kota Semarang Hendrar Prihadi
meminta masyarakat untuk tidak memakai jalan tol jika tidak mendukung pasangan Jokowi-Ma’ruf di Pilpres 2019.

Ia mengatakan hal tersebut pada saat menghadiri silaturahmi Jokowi dengan paguyuban pengusaha di Jawa Tengah tepatnya di Semarang Town Square, Semarang pada 2 Februari 2019. Hendrar hadir sebagai Ketua Dewan Pimpinan Cabang PDI-P Kota Semarangdimana ketika Jokowi belum datang, ia naik ke atas panggung dan menyapa para pengusaha yang hadir.

BACA JUGA :   Mahasiswa Sebagai “Agent Of Change And Agent Of Control”

“Di sini ada yang pernah lewat tol?” tanya dia.

Kemudian ia bertanya berapa lama jarak tempuh Semarang ke Surabaya jika lewat tol. Sejumlah pengusaha yang hadir pun menjawab 3 jam.

Setelah itu ia menegaskan bahwa keberadaan jalan tol yang memudahkan transportasi ini disebabkan karena kerja keras Jokowi selama empat tahun memimpin. Karena hal inilah menurutnya masyarakat yang tak mendukung Jokowi tidak boleh menggunakan jalan tol yang telah dibangun pemerintah.

“Disampaikan ke Saudaranya di luar sana. Kalau tidak mau dukung Jokowi, jangan pakai jalan tol,” kata Hendrar.

Pernyataan seorang pejabat diatas sungguh sangat berlawanan dengan makna infrastruktur yang telah dijelaskan diatas. Ia justru menggunakan infrastruktur sebagai bahan kampanye yang mana sebenarnya pembangunan infrastruktur oleh pemerintah justru sangat berbanding terbalik dengan pernyataannya. Salah satu contoh fakta yaitu dilansir dari finance.detik.com (Minggu, 03/02/2019), dimana pengusaha logistik membenarkan bahwa para supir truk mengalihkan lajunya kembali melalui Jalur Pantura dari pada melewati Tol TransJawa yang digadang-gadang sebagai suksesnya kinerja Jokowi. Hal ini disebabkan karena tarif tol yang dinilai tinggi bagi para pengemudi truk.

Bahkan Ketua Asosiasi Logistik Indonesia Zaldy Ilham Masita pun meminta PT Jasa Marga untuk menurunkan tarif tol Trans Jawa karena truk yang melalui jalan dari Jakarta ke Surabaya harus merogoh kocek hingga jutaan.

“Kan truk itu totalnya sampai Rp 1,5 juta itu ke Surabaya, kalau ukuran truknya makin besar lagi bisa sampai Rp 2 juta, mahal bener itu,” kata Zaldy.

Dari fakta diatas, lalu dimanakah kata ‘sukses’ bisa disematkan? Mempermudah transportasi yang manakah pembangunan jalan tol itu?

Satu fakta lagi yang miris dan mungkin juga belum diketahui oleh Walikota Semarang yaitu penelitian dari laporan World Economic Forum yang justru menunjukkan bahwa kualitas infrastruktur di Indonesia masih tergolong rendah. Dari World Economic Forum, Global CompetitivenessReport 2010-2016 mencatat bahwa tingkat daya saing Indonesia terus mengalami peningkatan tetapi masih tertinggal, terutama pada pilar infrastruktur. Secara lebih spesifik, kendala pilar infastruktur antara lain bersumber dari masih rendahnya kualitas jalan, infrastruktur kereta, infrastruktur pelabuhan, infrastruktur transportasi udara hingga kualitas pasokan listrik. Lalu dimanakah letak kebanggaan yang digembar-gemborkan?

BACA JUGA :   Sistem Yang Baik, Mampu Memberantas Kathula

Dari sinilah sebenarnya kita sebagai rakyat diharuskan cerdas dalam mencerna informasi yang terjadi pada tahun-tahun politik ini. Supaya kita tak perlu sungguh berlelah-lelah mati-matian membela salah satu calon berdasarkan informasi yang sesungguhnya kita masih belum tahu makna yang sebenarnya. Apalagi sistem yang dijalankan saat ini masih menggunakan sistem buatan manusia yang tentunya memiliki kecacatan seperti contoh fakta diatas. Saat manusia yang mempunyai keterbatasan, maka apapun yang dibuat oleh manusia tentunya juga tidak akan sempurna. Berbeda dengan sistem Islam yang merupakan sistem bersumber dari Al Qur’an dan Hadits dan tentunya buatan Sang Maha Sempurna dan Maha Pengatur. Dimana sistem ini akan melahirkan kehidupan yang sejahtera bukan hanya di dunia namun hingga akhirat kelak.

Oleh sebab itu, masihkah kita akan bertahan dalam sistem yang sungguh tak sempurna ini? Sistem yang justru membuat manusia lupa akan kewajiban suatu negara yang memang sudah selayaknya membuat rakyat sejahtera? Mari kita bersegera memperbaiki kondisi menyedihkan ini dengan berjuang menegakkan kembali sistem Islam dalam naungan islam yang terbukti menyejahterahkan seluruh rakyat. Wallahu‘alam. (***)

 

Tentang Penulis: admin

Gambar Gravatar
PT Kalosara Media Sultra | Penerbit www.kalosaranews.com merupakan anggota Serikat Media Siber Indonesia (SMSI) Sulawesi Tenggara (Sultra) serta tergabung dalam jaringan Siberindo.co