Kosmetik Berbahaya Mengundang Petaka

Oleh : Lia Amalia

(Anggota SWI Kolaka)

OPINI : Kendaripos.- Peredaran kosmetik dengan bahan berbahaya sudah masuk wilayah Konawe. Badan Pemeriksa Obat dan Makanan (BPOM) Provinsi Sulawesi Tenggara yang melakukan inspeksi di Pasar Modern di Kelurahan Wawotobi, berhasil mengamankan 32 jenis kosmetik berbahaya. Kondisi ini patut menjadi perhatian bagi masyarakat dalam memilih alat kecantikan tersebut.

Kepala Seksi Penindakan BPOM Provinsi Sultra, Wahyudin Muis, membenarkan, pihaknya melakukan inspeksi mendadak (Sidak) dan berhasil mengamankan sejumlah kosmetik ilegal dan mengandung bahan berbahaya yang dijual bebas di Pasar Modern Wawotobi. Petugas BPOM melakukan penyitaan dikawal personel Direktorat Kriminal Khusus (Dirkrimsus) Polda Sultra dan anggota Polsek Wawotobi.

Kosmetik saat ini semakin luas dan banyak peminatnya, kecenderungan wanita untuk tampil cantik,putih dan menarik, mendorong mereka untuk menggunakan berbagai macam produk kosmetik tanpa memperhatikan kandungan yang ada dalam kosmetik itu sendiri, salah satu bahan berbahaya yang terkandung pada kosmetik biasanya “merkuri”. Zat kimia merkuri ini dihasilkan dari endapan unsur logam yang terkontaminasi aktivitas vulkanik, kebanyakan merkuri ini pun  juga mengandung banyak sisa bahan industri yang seharusnya tidak di guanakan oleh manusia.

Penggunaan kosmetik yang mengandung bahan berbahaya tidak hanya berakibat fatal bagi penggunanya,tapi juga orang-orang terdekat pengguna bisa terpapar  dampak negatifnya. Orang yang menghirup merkuri,walaupun tidak melakukan kontak langsung di kulit,bisa terpapar efek bahayanya. Pada penggunaan jangka panjang, kosmetik ilegal dapat menimbulkan penyakit di seluruh tubuh,organ-organ vital, bahkan dapat mengakibatkan depresi.

 

Kapitalisme Akar Masalah

Pada prakteknya peran pemerintah di Indonesia masih sangat lemah dalam menegakkan undang-undang perlindungan konsumen,buktinya saja walaupun telah disahkan undang-undang perlindungan terhadap konsumen, tetapi tetap saja pada prakteknya masih banyak sekali kasus-kasus dalam perdagangan yang merugikan konsumen.

BACA JUGA :   Komodo Diusik Tuai Polemik, Butuh Solusi Sistemik

Peningkatan penggunakan kosmetik menjadi peluang bagi tangan-tangan jahat yang tidak bertanggung jawab, yang dengan bebas menjaul kosmetik dengan bahan yang berbahaya, mereka tidak memikirkan lagi bahaya yang mereka timbulkan, demi kelangsungan usaha mereka, demi untuk menghasilkan uang.

Inilah dampak dari sistem hari ini, dimana yang mereka lakukan hanya untuk kepentingan diri sendiri tanpa menghiraukan orang lain, bahkan menghalalkan sesuatu yang haram. Dengan berbagai macam kebutuhan hidup di Sistem kapitalis hari ini seolah-olah memaksa seseorang untuk melakukan kejahatan demi memenuhi kebutuhan hidup .

dan di dukung oleh pola hidup yang liberal, dimana seseorang bebas melakukan apa saja selagi itu menguntungkan bagi negara, maka usaha seseorang akan tetap berlangsung (aman). Maka dari itu, peran pemerintah sangatlah penting dalam menangani masalah ini, haruslah kemudian perintah meningkatkan pengawasan dan  tegas dalam memberikan hukuman bagi para pengusaha-pengusaha yang curang.

 

Pandangan Islam

Setiap muslim di perintahkan  menggunakan (mengonsumsi) produk yang halalan thoyyiban (halal lagi baik), produk tersebut tidak melulu soal makanan dan minuman,begitupun dengan kosmetik, haruslah menggunakan kosmetik yang halal. Kosmetik sendiri tidak di larang dalam Islam, karena di jelaskan dalam sebuah hadist bahwa , “Sesungguhnya Allah itu indah dan menyukai keindahan.” (HR. Muslim).

Dari hadist tersebut di simpulakan bahwa Allah menyukai keindahan, maka dari itu berhias menggunakan kosmetik hukumnya “mubah” selagi tidak berlebihan,tidak mengandung bahan  yang haram,tidak mengandung unsur-unsur yang berasal dari barang-barang berbahaya atau ilegal,seperti Al-kohol,lemak hewan, atau zat-zat beracun.

Maka dari itu sebagai umat Islam, haruslah pandai dan teliti dalam memilih apa-apa yang bisa di gunakan dalam kehidupan kita, apakah sudah tergolong halal atau tidak.

BACA JUGA :   Bapenda Sultra Gelar Sosialisasi di Konawe Perda Nomor 4 Tentang Pajak

Dalam sistem Islam  ada  keadilan. Keadilan adalah lawan dari penganiayaan, penidasan, dan pilih kasih. Keadilan harus dirasakan oleh semua pihak dan golongan. Diantaranya dalah dengan mengambil keputusan yang adil antara dua pihak yang berselisih, mengurus dan melayani semua lapisan masyarakat tanpa memandang agama,etnis,budaya, dan latar belakang.

Hal inilah yang telah dilakukan oleh khalifah Umar didalam negara yang dipimpinnya. Ia telah membuka akses agar setiap rakyat dapat meraih hak-haknya. Ia sendiri terkadang terjun langsung untuk mengamati keadaan rakyatnya. Ia mencegah terjadinya praktek kezaliman. Ia memutuskan hukum diantar manusia dengan benar. Ia tidak peduli terhadap status orang yang datang mengajukan perkara kepadanya, apakah orang yang kuat atau musuh, orang kaya atau orang miskin.

Masalah di kalangan masyarakat semakin kompleks,dan jika di lihat yang paling besar pengaruhnya adalah masalah ekonomi dan memang membutuhkan penanganan yang serius agar kemudian tidak lagi ada kasus-kasus yang seperti kosmetik ilegal ini, mengapa seseorang tega menjual bebas bahan-bahan berbahaya, itu di karenakan beban ekonomi yang mendorong seseorang untuk berlaku jahat, demi memenuhi kebutuhan jasmaninya.

Demikian, semua itu tidak lepas dari sistem kapitalisme-sekuler, yang mendorong seseorang untuk terus memenuhi keinginannya dengan berbagai cara, tanpa menghiraukan dampak dari perilaku mereka, mereka seolah-olah tak memikirkan bahwa setiap apa yang mereka lakukan ada Allah yang melihatnya, dampak dari pemisahan agama dari kehidupan membuat seseorang  tidak memakai aturan Allah dalam kehidupan mereka. Padahal sudah selayaknya lah kita hidup dengan aturan yang terlah Allah turunkan yaitu Al-quran beserta dengan teladan umat manusia yaitu Rasulullah dengan sunnah-sunnahnya.

Alhasil, kita butuh Aturan Allah yang tegas, yang bisa diterapkan dalam kehidupan, yang sesuai dengan fitrah manusia, dan inipun tidak dapat diterapkan secara keseluruhan tanpa adanya sistem Islam, yaitu sistem Khilafah ‘ala minhaj nubuwwah. Wallahu a’lam

Tentang Penulis: admin

Gambar Gravatar
PT Kalosara Media Sultra | Penerbit www.kalosaranews.com merupakan anggota Serikat Media Siber Indonesia (SMSI) Sulawesi Tenggara (Sultra) serta tergabung dalam jaringan Siberindo.co