Krisis Moral Dibalik Industri Perfilman Indonesia


Oleh: Hamsina Halisi Alfatih


 

Industri perfilman di Indonesia saat ini tengah digandrungi baik anak-anak, remaja maupun orang dewasa. Mulai dari film bioskop, ftv maupun sinetronnya yang kerap mewarnai seluruh layar kaca televisi. Beragam film yang ditampilkan bahkan hampir dinikmati oleh setiap kalangan meskipun telah ada rambu-rambu khusus sebuah film tidak boleh ditonton oleh anak-anak dibawah umur.

Kita tentu belum lupa bagaimana pro dan kontra ketika film layar lebar berjudul ” Dua Garis biru ” yang sempat booming saat penayangannya dibioskop tanah air. Film yang menuai pro dan kontra tersebut berceritakan dua pasang anak SMA yang menjalani hubungan bak sepasang suami istri lalu kemudian pemeran wanitanya hamil diluar nikah.

Belum move on dari film yang merusak jiwa generasi bangsa, baru-baru ini kembali pertelevisian negeri ini kembali dihebohkan dengan sinetron berjudul ” Dari Jendela SMP “. Dilansir dari Tagar.com (02/07/20) kehadiran sinetron “Dari Jendela SMP” yang tayang di stasiun televisi SCTV sejak sejak Senin, 29 Juni 2020 masih terus menjadi pembicaraan publik. Pasalnya, sejumlah kontroversi menyertai tayangan adaptasi dari novel karya Mira W ini, hingga membuat Komisi Penyiaran Indonesia (KPI) ikut angkat bicara.

Tak beda jauh dengan film ” Dua Garis Biru ” sinetron remaja SMP ini pun berakhir dengan kondisi pemeran wanitanya hamil diluar nikah. Pertanyaannya, seburuk inikah Indonesia mengahasilkan karya yang tak bermoral? Jika difikir lebih jauh lagi, film-film maupun sinetron yang disajikan bukankah bakalan disaksikan oleh jutaan anak bangsa dinegeri ini. Bukankah hal ini akan berefek pada pola pikir anak remaja yang rentan masih mencari jati diri.

Dalam perspektif kapitalisme liberal, mencari keuntungan secara besar-besaran merupakan tujuan utama. Hasil yang memuasakan, materi dan manfaat merupakan asas yang hendak dicapai. Meskipun hal ini bakalan mengancam apa-apa yang ada disekitarnya. Bagaimana cara kerja sistem yang dipelopori Indonesia saat ini adalah memberikan kebebasan yang sebebas-bebasnya meskipum aqidah tergadaikan.

Contoh fakta diatas tengah memberikan gambaran kepada kita bahwa sejatinya kebebasan dinegeri ini adalah bentuk tingkah laku yang memang berasaskan atas landasan jaminan yang diberikan oleh pemerintah. Padahal kerusakan yang diakibatkan dari jaminan kebebasan ini adalah rusaknya moralitas anak bangsa. Bagaimana tidak, berbagai tontonan yang tak layak untuk ditayangkan justru dijadikan konsumsi publik. Tak hanya itu, dari tontonan yang tak layak itu pula berefek pada prilaku remaja yang menyimpang dari ajaran islam. Seperti seks bebas, hamil diluar nikah hingga berujung pada pengaborsian hingga bunuh diri.

Meskipun demikian, banyak kalangan yang mengapresiasi tontonan tak mendidik bagi anak-anak remaja. Dengan dalih bahwa setiap tontonan memiliki ibroh yang bisa dipetik toh justru ini menjadi gejolak bagi pemikiran sekelas anak-anak dibawah umur. Tak hanya itu, berdalih dengan kawalan orang tua menjadikan tontonan tak mendidik seolah layak untuk dikonsumsi oleh anak-anak dibawah umur. Padahal, kawalan orang tua belum menjamin bahwa si anak tidak terjerumus untuk melakukan kemaksiatan. Apalagi jika orang tua tanpa bekal ilmu agama yang dimiliki, bagaimana bisa mendidik anaknya untuk menghindari hal-hal yang tak layak untuk di konsumsi?

Untuk itu berbagai pihak seharusnya memperhatikan terkait beberpa hal yakni:

Pertama, bagi orang tua terutama seorang ibu untuk memperhatikan tontonan sang anak. Apalagi disini seorang ibu berperan sebagai Al Madrasahtul U’la bagi anak-anaknya. Maka hendaknya memberi edukasi tentang pendidikan islam agar anak-anak tak mudah terjerumus dalam kemaksiatan. Untuk itu seorang ibu harus memiliki ilmu agama yang luas agar bisa diedukasikan kepada anak-anaknya.

Kedua, pihak yang berperan penting dalam industri perfilman seperti KPI (Komisi Penyiaran Indonesia) untuk menindak tegas pertelevisian yang menyajikan tontonan yang merusak akhlak anak-anak.

Ketiga, pemerintah pun seharusnya melakukan pemblokiran terhadap situs-situs yang menyajikan tontonan tak mendidik. Begitu halnya pihak-pihak yang memproduksi film-film yang tak layak untuk di buat.

Dengan memperhatikan beberapa hal diatas ini mampu menyelematkan generasi muda bangsa ini dari kerusakan moral. Tak hanya itu, meniadakan pendidikan sekuler pun penting. Sebab, dari sini pula nafsiyah maupun aqliyah para generasi bangsa saat ini tidak terbentuk dan rusak.

Sementara jika kita berkiblat kepada syariat Islam, bahwa menampilkam tontotan tak layak dan tak mendidik adalah sesuatu yang tidak dibenarkan. Islam sendiri sangat memperhatikan terkait interaksi baik wanita maupun laki-laki. Meskipun Islam membolehkan adanya kebebasan dalam bertindak maupun berprilaku tetapi hal ini harus sesuai dengan koridor hukum syara.

Diera modernisasi saat ini teknologi merupkan salah satu kebutuhan bagi manusia. Dari sanalah kita dapat mengakses informasi dan dapat mengetahui serta mengalami sendiri kemajuan jaman di bidang teknologi yang layak untuk kita ketahui karena segala ilmu tentu ada manfaat dan keberkahannya, termasuk diciptakannya film. Dalam pembuatan film juga tentu di dalamnya menyimpan kebaikan jika dijalankan dan digunakan sesuai dengan syariat Islam dan tidak mendekat pada pelanggaran hukum dan norma-norma yang berlaku.

Untuk itu dalam menyaksikan sebuah tontonan, Islam sangat menegaskan agar memperhatikan isi dari konten atau film yang hendak ditonton. Kemudian film yang hendak dibuat harus sesuai dengan pergaulan dalam Islam. Tak hanya itu, ada manfaat atau ilmu yang bisa didapat dari tontonan tersebut. Tidak Bertentangan dengan Syariat Islam serta bukan Sesuatu yang diharamkan.

Rasululah Saw bersabda : “Barangsaiapa melihat ‘aurat saudaranya (melihat gambar/film porno, dan lain-lain) dengan sengaja, tidak diterima Allah SWT shalatnya selama 40 hari, dan tidak diterima do’anya selama 40 subuh (hari)” (Lihat halaman: 83 Kitab Ruh As-Sunnah wa Ruh An-Nufus Almuth-mainnah Sanad Saidi Ahmad bin Idris r.a Alhasani Almaghribi).

Film yang haram ditonton seperti film yang di dalamnya terdapat orang-orang yang membuka aurat atau melakukan sesuatu hal yang tidak pantas dan tidak layak diperlihatkan kepada orang lain yang berisi tentang hawa nafsu, hukumnya jelas haram untuk ditonton. Oleh karena itu, penting untuk memperhatikan terkait hal-hal yang hendak untuk disaksikan. Apakah tontonan tersebut membawa kebaikan atau tidak. Didalamnya membawa manfaat atau tidak, adakah ilmu yang bisa didapat atau tidak. Jika salah satu  diantaranya tidak ada didalam tontonan tersebut maka jelas hal ini diharamkan.

Wallahu A’lam Bishshowab


error: Hak Cipta dalam Undang-undang