Kurikulum Moderasi Bukti Pendidikan Minus Visi


Oleh : Citrawan Fitri, S. Mat., M. Pd.

Moramo, Sulawesi Tenggara (Pemerhati Sosial)


Pendidikan merupakan salah satu unsur penting bagi setiap insan. Pasalnya dengan pendidikan akan tercipta proses perubahan sikap dan tata laku, yang akan membentuk seseorang melalui upaya pengajaran dan pelatihan secara kontinu.

Saat ini salah satu integral dari pendidikan yaitu proses pembelajaran tidak sedang stabil, dikarenakan adanya pandemi Covid-19 yang belum melandai. Mengakibatkan para pelajar harus melakukan proses belajar dari rumah, dengan menggunakan daring bagi daerah yang termasuk dalam kategori zona kuning, oranye, dan merah. Sedangkan bagi daerah kategori zona hijau, maka tetap melakukan proses belajar dengan tatap muka dan tentu tetap memperhatikan protokol kesehatan.

Namun penerapan proses pembelajaran daring di masa wabah ini tidak sedikit menuai kontra, pasalnya proses ini dianggap memberatkan untuk para pelajar, terlebih bagi pelajar yang standar ekonominya menengah ke bawah.

Seperti halnya kurikulum yang diterapkan, juga belum menunjukkan titik keberhasilannya. Padahal jika kita hendak menelisik, sudah berapa kali kurikulum yang ada diubah dengan harapan dapat membawa perubahan signifikan bagi generasi-generasi penerus bangsa ini. Namun hingga saat ini bagai pungguk yang merindukan bulan, sungguh belum nampak perubahan yang dapat memuaskan akal dan memberi ketenangan kepada para pendidik dan peserta didik melainkan justru menuai kontra di tengah masyarakat.

Misalnya saja, baru-baru ini Kementerian Agama mengubah kurikulum Pendidikan Agama Islam (PAI) dan Bahasa Arab untuk Madrasah. Penyempurnaan kurikulum ini tertuang dalam Keputusan Menteri Agama (KMA) Nomor 183 tahun 2019 tentang Kurikulum Pendidikan Agama Islam dan Bahasa Arab di Madrasah.

Pelaksana tugas (Plt) Dirjen Pendidikan Islam Kamaruddin Amin mengatakan kurikulum baru ini digunakan mulai tahun ajaran 2020/2021. Kurikulum baru ini tidak mengubah secara total isi kurikulum sebelumnya yang tertuang dalam KMA Nomor 165 tahun 2014. medcom.di (13/06/2020)

Kabar tersebut begitu cepat mencuat, ketika surat edaran telah dilayangkan oleh pihak yang berwenang di kalangan masyarakat. Sontak hal itu membuat geger sejumlah pihak, pasalnya semua orang pun tahu bahwa mata pelajaran PAI dan Bahasa Arab merupakan ciri dari madrasah, jadi tentu menjadi riskan jika harus dihapuskan.

Bentuk protes secara langsung disampaikan oleh Pengasuh Ponpes Daarul Hijrah Habib Thohir Al Kaff menegaskan pihaknya memprotes keras surat edaran tersebut. Pasalnya, jika memang dihilangkan, maka diduga itu adalah upaya untuk menghancurkan generasi muda tanpa akhlak. “Kami jelas protes. Ini tidak benar,” tandasnya.
Dan ia juga menyatakan bahwa telah menyampaikan protes ini kepada pihak Kemenag yang berada di daerahnya Kota Tegal, dan berharap agar pihak Kemenag dapat menyampaikan protesnya pada Kemenag pusat. Radar Banyumas (15/07/2020)

Namun ketika kita lebih menelisik lebih dalam, kekisruhan ternyata bukan hanya terjadi di masa wabah ini saja. Sejak jauh sebelumnya, dunia pendidikan di negeri ini memang sudah nampak begitu bermasalah. Visi yang tak jelas, membuat pendidikan kian sesat arah. Sebab, selain kurikulum yang telah berubah berkali-kali, kesenjangan pun masih menjadi persoalan. Buruknya politik anggaran untuk pendidikan membuat gap antara pusat dan daerah selalu dalam kondisi memprihatinkan. Baik soal aksesibilitas, ketersediaan sarana prasarana pendidikan, maupun ketersediaan tenaga pendidik yang berkualitas.

Selain itu, buruknya sistem pendidikan juga diperparah dengan masifnya proses sekularisasi kurikulum melalui proses marginalisasi agama. Karena dalam doktrin sekularisme, agama adalah lokus pribadi. Haram turut campur dalam segala urusan kehidupan, termasuk urusan pendidikan.

Maka sudah menjadi hal biasa jika tak sedikit generasi terdidik yang mumpuni dalam pengetahuan, namun minus dalam adab dan kesopanan. Bahkan laku alay, hedonisme, pergaulan bebas, penyimpangan seksual, narkoba, kekerasan, plagiarism, dan semacamnya, seolah lekat dengan kehidupan sebagian milenial.

Hal ini harus menjadi perhatian bagi negara, sebab negara mempunyai peranan penting dalam meriayah rakyatnya termasuk dalam hal pendidikan, agar mempunyai visi yang jelas, sehingga output yang dihasilkan melalui pendidikan, tidak hanya mencerminkan untuk duniawi melainkan juga mementingkan akhirat. Maka untuk menghasilkan yang demikian, mengharuskan sistem pendidikan yang diemban berasaskan Islam.

Sebab, sistem pendidikan Islam ini tegak di atas asas akidah Islam yang sahih lagi kokoh. Yakni berupa keyakinan bahwa manusia, kehidupan dan alam semesta adalah ciptaan Allah Ta’ala. Dan bahwa apa yang ada sebelum kehidupan dunia, serta apa yang ada setelahnya, berkaitan dengan apa yang dilakukan manusia di dunia. Yakni dalam bentuk hubungan penciptaan dan pertanggungjawaban (hisab).

Dan dalam konteks sistem pendidikan, akidah ini mengarahkan visi pendidikan Islam sebagai wasilah untuk melahirkan profil generasi terbaik yang paham tujuan penciptaan. Yakni sebagai hamba Allah yang berkepribadian Islam dan sebagai khalifah yang punya skill dan kecerdasan untuk pembangun peradaban cemerlang.

Visi inilah yang kemudian diturunkan dalam kurikulum pendidikan Islam di setiap tingkatannya, berikut metoda pembelajarannya. Yang dalam penerapannya di-support penuh oleh negara dengan berbagai sarana dan prasarana penunjang. Kondisi ideal ini sangat niscaya. Karena sistem pendidikan Islam didukung oleh sistem-sistem lain yang menjamin tercapainya visi pendidikan.

Sistem pendidikan Islam ini hanya dapat diterapkan dengan support sistem Islam. Sebab Islam telah menyediakan aturan dengan konsep yang sempurna. Yang menjamin secara utuh dalam kehidupan umat, baik kebutuhan duniawi dan juga kebutuhan spiritual.

Wallahu ‘alam bisshawab

Editor : Rj | Publizher : Iksan

error: Hak Cipta dalam Undang-undang