Lebih Menakutkan mana, Good Looking atau Guy Lying?

#Zulhilda Nurwulan, S. Pd ,
#Zulhilda Nurwulan, S. Pd ,

Oleh    : Zulhilda Nurwulan, S. Pd (Aktivis Dakwah Muslimah Kendari)


Alangkah lucunya negeri ini. Seradikal apa orang yang good looking  sehingga lebih menakutkan dibanding koruptor kelas kakap bahkan pegiat pelangi (red LeGeBeTe)? Mungkin pemerintah kurang kerjaaan hingga lebih fokus mengurusi hal remeh temeh semacam ini dibanding harus menuntaskan berbagai kejanggalan  kasus korupsi mega bintang bahkan kaum pelangi yang merajalela bak rumput liar.

Bahkan, good looking menurut Menag Fachrul Razi adalah agen penyebaran radikalisme. Hal ini disampaikan di acara webinar bertajuk ‘Strategi Menangkal Radikalisme pada Aparatur Sipil Negara’ yang disiarkan di YouTube KemenPAN-RB, Rabu (2/9) .Menurutnya, cara paham radikal masuk adalah melalui orang yang berpenampilan baik atau good looking dan memiliki kemampuan agama yang bagus. Tidak salah memang, orang-orang yang menjaga diri dari maksiat identik dengan good looking dan  menarik. Ini disebabkan kesadaran mereka untuk selalu dalam keadaan baik saat hendak bertemu Rabb mereka, Allah Swt. Berbeda halnya bagi mereka yang tidak takut bahkan lupa dengan kehadiran Rabbnya, mereka terkesan bad looking dan tidak menarik.

Lucu, pemerintah reflek saat berkaitan dengan  islam namun latah saat berkaitan dengan kapitalis. Pemerintah tak henti-hentinya menyerang umat islam dengan label “radikal” namun tutup mata terhadap pihak “radikal” sesungguhnya yang jelas merugikan negara, contohnya para koruptor dan kaum pelangi (red LeGeBeTe).

Ironisnya, pemerintah sangat sigap memerangi ajaran islam seperti cadar, celana cingkrang bahkan khilafah namun berdiam diri pada kasus korupsi kelas kakap yang sudah menjamur diseluruh sisi lembaga pemerintah.

Pemerintah dalam Jeratan Sekularisme

Jika menelisik lebih jauh, begitu banyak kasus korupsi mega bintang yang akhirnya ditutup tanpa penyelidikan  lebih lanjut. Bahkan, menjelang penyelidikan kasus-kasus tersebut ada saja kejadian tak terduga mewarnai proses penyelidikan. Contohnya, kantor kejagung terbakar saat tengah menangani kasus Jaksa Pinangki Sirna Malasari dan kasus asuransi Jiwasraya. Apa ini insidental?

Kebakaran yang terjadi pada sabtu malam (22/08) lalu itu akhirnya menimbulkan banyak spekulasi. Diantaranya kekhawatiran masyarakat terhadap dokumen-dokumen penting yang ikut terbakar sehingga bisa saja menghilangkan bukti kasus korupsi yang tengah diselidiki pihak kejagung.

Namun, pemerintah turut memberikan penjelasan untuk menepis berbagai spekulasi yang tengah berkembang di ruang publik. Menteri Koordinator Bidang Politik, Hukum dan Ham (MenkopolhukamMahfud MD melalui acara Mata Najwa yang diunggah di kanal YouTube Najwa Shihab pada Kamis, 27 Agustus 2020 menegaskan bahwa berkas-berkas perkara yang sedang ditangani oleh Kejagung dipastikan aman, diantaranya kasus Jaksa Pinangki dan jiwasraya.

Sayangnya, hal ini tidak lantas membuat publik menjadi lebih tenang. Pasalnya, beberapa pihak bahkan meragukan penyebab kebakaran Kejagung tersebut. Diantaranya Indonesia Corruption Watch  yang  mendesak  keterlibatan KPK dalam penyelidikan penyebab kebakaran Kejagung, mengingat kasus besar yang sedang ditangani kejagung.

Menurut peneliti ICW, Kurnia Ramadhan, bukan tidak mungkin jika ada pihak yang berencana menghilangkan barang bukti yang tersimpan di dalam  gedung tersebut. Tambahnya, setidaknya dengan keterlibatan KPK bisa membuktikan apakah  hal ini merupakan kelalaian atau bahkan sesuatu yang direncanakan oleh pihak tertentu.

Ironis memang, pemerintah terkesan lamban menangani kasus-kasus urjen yang jelas merugikan negara dalam bentuk finansial maupun  martabat negara namun begitu latah ketika menyangkut islam. Kemudian,  negara ini tidak hanya gagap menangani kasus korupsi namun juga diam terkait masalah pelangi (red ElGeBeTe). Masalah ini bahkan enggan diangkut ke ruang publik untuk didiskusikan.

Dilansir dari CNN Indonesia, Rabu, 02/09/2020 12:06 WIB, Direktorat Reserse Kriminal Umum Polda Metro Jaya menggerebek pesta gay yang digelar di sebuah apartemen di wilayah Kuningan, Jakarta Selatan. Namun, nampaknya kasus ini sunyi senyap dari pemberitaan. Bahkan, pemerintah tidak mengeluarkan statemen apapun terkait masalah ini. Anehkan?

Mereka yang jelas merusak nama bangsa malah dipelihara sementara orang-orang yang getol menyuarakan  islam malah hendak dipenjara. Sebenarnya, Menag berpihak pada siapa? Umat muslim yang katanya “radikal”  atau  kaum sekuler yang jelas “radikal”?

Inilah yang terjadi ketika sekularisme masih mendominasi kekuasaan. Segala yang berbau agama dianggap ancaman hingga harus dimusnahkan. Namun, sesuatu yang “radikal” jika lebih bermanfaat maka dipelihara dan dibudayakan. Pemerintahan yang berbasis kepentingan dan manfaat akan tetap menjadi musuh umat islam sampai akhirnya kelak islam kembali menguasai bumi.

Good Looking di dalam Islam

Good looking harusnya tidak menjadi standar dalam  menilai kepribadian seseorang terlebih lagi menyangkut akhlaknya. Sebagaimana firman Allah Swt:

“Sesungguhnya orang yang paling mulia di antara kamu di sisi Allah ialah orang yang paling bertakwa di antara kamu,” (QS: Al-Hujurat: 13).

Dengan demikian, tampilan tidak bisa dijadikan sebagai tolak ukur dalam menilai seseorang. Namun, good looking ternyata merupakan sunnah nabi sehingga tidak masalah jika seseorang berusaha good looking demi memelihara pemberian Allah atas dirinya. Menjaga pemberian Allah merupakan  salah satu bentuk syukur atas nikmat yang telah dititipkan sang Khalik.

Akan tetapi, tidak good looking bukan berarti tidak radikal alias ramah, terdidik, dan berakal. Sebagaimana kisah Julaibib yang mampu membuat seluruh penduduk dunia cemburu padanya. Julaibib, begitu sapaannya seakan menggambarkan kedudukannya yang rendahan dan jasmaninya yang kerdil. Rupa yang begitu buruk bagi penduduk bumi namun tidak bagi Rasulullah Saw. Keimanannya yang kokoh serta kegigihannya dalam berjihad menjadikannya spesial dihadapan Rasulullah saw.

Julaibib, bahkan  tak seorangpun yang hendak menikahkan anak gadisnya dengan Julaibib karena menganggap Julaibib adalah aib. Namun, seorang wanita salihah yang mengutamakan keimanannya terhadap Allah Swt dan RasulNya menerima Julaibib dengan ikhlas. Tak sedikitpun penilaiannya didasari oleh penampilan Julaibib namun penilaiannya didasarkan atas perintah Allah Swt. Sang gadis bersandar pada firmn Allah swt:

“Dan tidaklah patut bagi laki-laki yang mukmin dan tidak (pula) bagi perempuan yang mukmin, apabila Allah dan Rasul-Nya telah menetapkan suatu ketetapan, akan ada bagi mereka pilihan (yang lain) tentang urusan mereka. Dan barangsiapa mendurhakai Allah dan Rasul-Nya maka sungguhlah dia telah sesat, sesat yang nyata.” (Qs. Al Ahzab:36)

Dengan demikian good looking ataupun tidak bukanlah perkara penting yang harus diperdebatkan. Sesungguhnya Allah hanya melihat pada akhlak manusia. Menuduh yang good looking  radikal bukan berarti yang bad looking lebih baik begitupun sebaliknya. Karena standar penilaian islam bukan kepada materi namun kepada taqwa. Sehingga kita lebih pantas menaruh kehati-hatian pada pihak guy lying.. Faktanya mereka lebih banyak merugikan negara karena perilaku yang selalu melanggar aturan islam sekaligus melanggar konstitusi negra. Allahu’alam biishowwab.


error: Hak Cipta dalam Undang-undang