Legalisasi Aborsi bukan Solusi KTD

Penulis

Fitriani.S.Pd

(Pengajar lembaga kursus di Wakatobi)

Sudah jatuh tertimpa tangga pula. Itulah nasib yang dialami oleh seorang gadis bernama WA (15 tahun) asal Jambi. Bagaimana tidak, setelah kesuciannya direnggut oleh kakak kandungnya sendiri. Kini ia harus mendekam dibalik jeruji besi karena menjadi tersangka pembunuhan janinnya sendiri(aborsi), yang merupakan hasil dari perbuatan bejat sang kakak. WA sebagai korban pemerkosaan divonis karena telah melanggar Undang-Undang Perlindungan Anak. (Voa.Indonesia, 23/07/2018)

Kasus ini sontak menyita perhatian sejumlah media nasional maupun media internasional. Berbagai pihak menganggap sang korban tidak seharusnya di penjara, sebab aborsi ia lakukan karena hubungan zina yang ia sendiri tidak kehendaki (pemerkosaan). Mereka melakukan banyak penolakan atas putusan pengadilan, karena menilai bahwa korban pemerkosaan boleh untuk melakukan aborsi. (bbc.com, 6/8/2018)

Tuntutan ini kian menjadi karena 4 tahun yang lalu, pemerintah membuka ruang kesempatan aborsi bagi sebagian kondisi kehamilan. Aturan yang melegalkan aborsi tersebut tertuang dalam Peraturan Pemerintah (PP) Nomor 61 Tahun 2014 yang di tandatangani Presiden Susilo Bambang Yudhoyono pada 21 Juli 2014. Legalisasi aborsi dalam PP 61/2014 mengacu pada UU 36/2009 pasal 75 ayat 1 yang menyebutkan setiap orang dilarang melakukan aborsi terkecuali berdasarkan indikasi kedaruratan medis dan kehamilan akibat perkosaan yang dapat menimbulkan trauma psikologis bagi korban perkosaan. (Republika.co.id, 09/08/2018)

Pertanyaannya kemudian apakah pelegalan aborsi adalah solusi yang jitu untuk membendung KTD (Kehamilan Tak Diinginkan) seperti yang melanda WA yang merupakan korban pemerkosaan?

BACA JUGA :   Minat Menjadi Anggota PTPS di Panwascam Mandonga Kurang

Tentang Penulis: admin

Gambar Gravatar
PT Kalosara Media Sultra | Penerbit www.kalosaranews.com merupakan anggota Serikat Media Siber Indonesia (SMSI) Sulawesi Tenggara (Sultra) serta tergabung dalam jaringan Siberindo.co