Literasi, Pondasi Dasar Mozaik Peradaban

Oleh : Risnawati

(Penulis Buku Jurus Jitu Marketing Dakwah)

OPINI : Republika.Co.Id, Yogyakarta — Budaya literasi masyarakat Indonesia masih sangat rendah. Ketua Forum Pengembangan Budaya Literasi Indonesia Satria Darma mengatakan, berdasarkan survei banyak lembaga internasional, budaya literasi masyarakat Indonesia kalah jauh dengan negara lain di dunia.

“Ironisnya, banyak guru dan birokrat pendidikan termasuk pejabat belum paham juga apa itu literasi,” ujarnya saat menjadi pembicara di sebuah seminar di Jogja Expo Center, Ahad (14/12).

Seminar nasional ini digelar oleh Program Studi Bimbingan Konseling dan Program Studi Pendidikan Guru Sekolah Dasar (PGSD) FKIP Universitas Ahmad Dahlan (UAD) Yogyakarta. Menurut Satria Dharma, literasi adalah kemampuan membaca dan menulis. Literasi merupakan jantung kemampuan siswa untuk belajar dan berhasil di sekolah. Juga dalam menghadapi berbagai tantangan pada abad 21.

Satria mengatakan, hasil penelitian Programme for International Student Assessment (PISA) menyebut, budaya literasi masyarakat Indonesia pada 2012 terburuk kedua dari 65 negara yang diteliti di dunia. Indonesia menempati urutan ke 64 dari 65 negara tersebut. Sementara Vietnam justru menempati urutan ke-20 besar.

Pada penelitian yang sama, PISA juga menempatkan posisi membaca siswa Indonesia di urutan ke 57 dari 65 negara yang diteliti. “PISA menyebutkan, tak ada satu siswa pun di Indonesia yang meraih nilai literasi ditingkat kelima, hanya 0,4 persen siswa yang memiliki kemampuan literasi tingkat empat. Selebihnya di bawah tingkat tiga, bahkan di bawah tingkat satu,” ujarnya.

Ia pun melansir data statistik UNESCO 2012 yang menyebutkan indeks minat baca di Indonesia baru mencapai 0,001. Artinya, setiap 1.000 penduduk, hanya satu orang saja yang memiliki minat baca. Angka UNDP juga mengejutkan bahwa angka melek huruf orang dewasa di Indonesia hanya 65,5 persen saja. Sedangkan Malaysia sudah 86,4 persen.

Ia menilai rendahnya budaya literasi di Indonesia, salah satu penyebabnya karena pejabat dan birokrat pendidikan tidak paham tentang literasi itu sendiri. Akibatnya, literasi tidak menjadi bagian dari kurikulum, termasuk dalam Kurikulum 2013.

Berdasarkan data BPS, ia mengatakan, jumlah waktu yang digunakan anak Indonesia dalam menonton televisi adalah 300 menit per hari. Jumlah ini terlalu besar dibanding anak-anak di Australia yang hanya 150 menit per hari dan di Amerika yang hanya 100 menit per hari. Sementara di Kanada 60 menit per hari.

BACA JUGA :   Pembangunan Infrastruktur Bebas Utang dan Riba Ala Islam

Islam Mencintai Literasi

Islam adalah agama yang peduli dengan literasi. Karena itu, Islam mendorong untuk membudayakan budaya literasi di kalangan umatnya. Hal ini tak lepas dari sejarah turunnya kitab suci Al Quran itu sendiri. Wahyu yang pertama kali turun kepada Nabi Muhammad shalallahu ‘alaihi wasalam adalah ayat tentang ilmu pengetahuan, yaitu “Iqra” yang bermakna perintah untuk membaca.

Membaca sangat penting dalam kehidupan seorang Muslimin, karena membaca merupakan pintu gerbang bagi masuknya berbagai ilmu pengetahuan. Untuk membuka wawasan pengetahuan tersebut, perlulah kiranya menggunakan perantara ilmu melalui buku-buku pengetahuan ataupun belajar dengan guru secara langsung.

Membaca tentu tidak bisa dipisahkan dari proses menulis. Hal ini bisa disebut sebagai literasi. Literasi sendiri menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia dapat diartikan sebagai kemampuan menulis dan membaca serta kemampuan individu dalam mengolah informasi dan pengetahuan untuk kecakapan hidup. Dari pengertian di sini, untuk meraih kecakapan dalam hidup tersebut, diperlukan sebuah kemampuan dalam mengolah pengetahuan yang diperolehnya. Kemampuan yang diperlukan itu dinamakan sebagai kemampuan membaca dan menulis.

Ilmu dan Literasi Dalam Islam

Dalam sejarahnya, Islam tidak lepas dari budaya membaca dan menulis. Budaya membaca dan menulis yang berkembang pada masa Rasulullah tidak lepas dari kemuliaan akhlak Rasulullah itu sendiri. Dikisahkan setelah Perang Badar, pasukan Kaum Musyrikin mengalami kekalahan sehingga banyak dari mereka menjadi tawanan kaum Muslimin.

Rasulullah memulai musyawarah untuk mencari tahu apa yang akan dilakukan terhadap tawanan tersebut. Umar radhiyallahu’anhu mengusulkan agar para tawanan dibunuh saja. Abu Bakar Ash Shidiq mengusulkan agar para tawanan dibebaskan saja. Dari musyawarah yang menguras tenaga itu, didapat keputusan Rasulullah bahwa para tawanan dapat bebas dengan syarat harus mengajarkan membaca dan menulis kepada anak-anak kaum Muslimin.

Keputusan yang cemerlang ini tentu sangat berdampak besar bagi masa depan kaum Muslimin karena dengan anak-anaknya yang dapat belajar membaca dan menulis, di masa depan mereka akan menjadi pejuang dakwah yang cerdas dan bertaqwa. Sungguh betapa mulianya akhlak Rasulullah ini yang memilih untuk memperlakukan tawanan secara adil.

Sejatinya, tradisi literasi di kalangan kaum Muslimin lah yang mengantarkan umat Islam mencapai masa puncak kejayaannya. Pada masa Dinasti Abbasyiah, terdapat perpustakaan utama yaitu Baitul Hikmah yang memiliki ratusan ribu koleksi buku. Ketika Baitul Hikmah menjadi pusat intelektual dunia, setiap karya tulis ditimbang kemudian dihargai dengan emas sesuai dengan beratnya.

BACA JUGA :   Menyongsong Pilkada Konawe Utara Tahun 2020

Pada masa itu, koleksi buku dari berbagai bahasa dan bidang keilmuan sangat banyak beredar di Baitul Hikmah. Banyak ilmuwan-ilmuwan Muslim yang bermunculan dan produktif dalam menghasilkan karya yang menjadi sumbangsih dalam perkembangan ilmu pengetahuan modern.

Ilmu-ilmu pengetahuan juga berkembang pesat pada era ini, mulai dari ilmu agama, ilmu pengetahuan, filsafat, kedokteran, seni, sastra, matematika, fisika, sosial, bahkan ilmu politik. Usaha penerjemahan berbagai buku dari Yunani maupun wilayah Eropa lainnya digencarkan untuk mendukung tersebarnya ilmu pengetahuan kepada kaum Muslimin pada masa itu.

Kejayaan di Dinasti Abbasyiah juga diikuti oleh kejayaan literasi umat Islam pada masa Bani Umayyah di Andalusia. Penggerak dari kemajuan literasi di Andalusia sendiri tak lepas dari peran pemimpinnya, yakni Sultan Al Hakam II yang mencintai ilmu pengetahuan. Beliau memiliki koleksi buku pribadi sebanyak 600.000 buku. Beliau juga turut andil dalam pendirian Perpustakaan Kordoba yang terinspirasi dari Baitul Hikmah di Baghdad. Kegiatan penerjemahan buku-buku berbahasa Latin ke Bahasa Arab pun terus digencarkan.

Tidak berhenti sampai disitu, bahkan pusat ilmu pengetahuan banyak bertumbuh pada masa-masa itu. Pada tahun 859, berdiri sebuah universitas pertama di dunia yang bernama Universitas Al-Qarawiyyin, yang didirikan oleh Fatimah Al Fihri di kota Fez, Maroko. Pada tahun 97, berdiri pula Universitas Al Azhar di Kairo, Mesir yang menjadi pusat ilmu pengetahuan dan agama Islam yang bahkan masih awet sampai sekarang. Semangat literasi dalam peradaban Islam juga tersebar hingga Afrika Barat.

Kota Timbuktu, Mali menjadi pusat pengetahuan dan literasi di barat Afrika. Buku-buku dari berbagai genre dan bidang banyak terdapat di sana. Hal yang unik di sana adalah para pedagang terkaya justru adalah pedagang buku. Hal ini karena masyarakatnya memiliki minat baca yang sangat tinggi dan haus akan ilmu pengetahuan.

Peradaban Islam pada masa itu tak lepas dari eksistensi perpustakaan. Perpustakaan pada masa itu digolongkan menjadi perpustakaan akademik, pribadi, sekolah/madrasah, masjid dan universitas. Perpustakaan-perpustakaan pada masa itu menjadi penggerak peradaban Islam dengan adanya kegiatan literasi di sana.

BACA JUGA :   Permuda Pelayanan Perizinan, Pemkab Koltim Terapkan Sistem OSS

Jumlah koleksi yang mencapai ribuan dan terus bertambah membuat semakin apik perkembangan perpustakaan pada masa itu. Seorang Menteri pada masa kekuasaan Shalahuddin Al-Ayubi, Al Fadilah bahkan menyumbangkan 200 ribu koleksi buku untuk penyelenggaraan perpustakaan madrasah.

Di samping itu, kemajuan literasi dalam peradaban Islam juga tak lepas dari peran pemimpinnya yang juga senang dengan ilmu pengetahuan. Beberapa figur pemimpin yang senang akan perkembangan ilmu pengetahuan seperti Harun Al Rasyid yang mendirikan Baitul Hikmah di Baghdad dan Sultan Al Hakam II yang mendirikan perpustakaan Kordoba di Andalusia. Tentu dengan adanya sosok pemimpin seperti mereka, rakyat akan termotivasi untuk turut mencintai ilmu pengetahuan dan perkembangan akan semakin maju dan berkembang.

Dengan demikian, pada akhirnya kita menyadari, sejarah peradaban Islam adalah sejarah yang tidak dapat dilepaskan dari kegiatan literasi. Literasi sendiri bahkan menjadi api penyala peradaban dengan perpustakaan sebagai dapur pacu peradaban. Namun, saat ini umat Islam masih kalap dengan kenyamanan, masih kehilangan jati dirinya untuk menghidupkan kembali tradisi pengetahuan.

Umat Islam kehilangan semangat dalam membaca, berdiskusi, dan menulis yang justru hal tersebut tumbuh pada bangsa-bangsa eropa. Tentu saja, hal inilah yang mungkin menjadi penyebab mengapa kini umat Islam menjadi umat yang memprihatinkan di berbagai belahan dunia.

Jika ingin meraih kejayaan Islam kembali, tentu semangat literasi dan mencintai ilmu pengetahuan harus bertumbuh di kalangan umat Islam, bukannya justru menolak ilmu pengetahuan. Tentu dengan berlandaskan Akidah Islamiyyah, semangat literasi, dan mencintai ilmu pengetahuan bukan tidak mungkin kejayaan Islam pada masa lalu akan terulang kembali.

Meminjam istilah dunia perbukuan zaman ini, karya para ulama boleh dibilang bestseller berabad-abad dalam lintas generasi. Padahal, mereka rata-rata menulis secara manual (tidak secanggih sekarang yang banyak mesin percetakan).

Menariknya, dengan alat ala kadarnya, tidak menghalangi mereka untuk produktif dalam mengeluarkan karya tulis. Maka, teruslah menulis. Semoga kita menjadi hamba Allah yang semakin taat, karena dengan menulis kita berharap kebangkitan umat akan segera diraih. Aamiin.


Tentang Penulis: admin

Gambar Gravatar
PT Kalosara Media Sultra | Penerbit www.kalosaranews.com merupakan anggota Serikat Media Siber Indonesia (SMSI) Sulawesi Tenggara (Sultra) serta tergabung dalam jaringan Siberindo.co