Liwa’-Rayah, Warisan Rasulullah

Oleh: Yusriani Rini lapeo, S.Pd

(Muslimah Media Konawe)

OPINI : Lagi, gelombang massa yang tergabung dalam reuni akbar 212 kembali membludak di Monumen Nasional, Jakarta, pada hari Minggu dengan tanggal dan bulan yang sama. Tepatnya pada tahun yang lalu, Sabtu 2 Desember, aksi serupa dilakukan oleh ribuan massa 212 dalam hal menuntut keadilan tersangka kasus penodaan agama, yang dilakukan oleh Ahok.

Atas izin Allah pula, ummat kembali dipertemukan dalam aksi damai pekan lalu untuk menuntut kebobrokan para pelaku pembakaran bendera tauhid yang bertuliskan kalimat Allah.

Dalam aksi tersebut, bermacam-macam profesi yang hadir dari berbagai daerah seperti para Tokoh Pemerintah, Ulama,  Petani, Pedagang, Pengusaha, Pendidik bahkan Artis sekalipun tak mau kalah dan rela berbondong-bondong datang hanya demi satu kepentingan yaitu membela kalimat tauhid (Suara.com, 02/12/2018).

Pembakaran bendera tauhid bukan saja telah menuai polemik dikalangan media dan  para ulama,  tetapi juga telah menimbulkan kemarahan ditengah masyarakat. Siapapun akan marah ketika agamanya dilecehkan, dianggap remeh, bahkan bendera kalimat tauhid selalu disandingkan dengan teroris.

Terlebih, para pelaku pembakaran bendera tauhid hanya meminta maaf dan lebih parahnya lagi, para pelaku hanya dijerat selama sepuluh hari penjara dan denda sebesar Rp. 2000. Maka wajar bila seluruh Ummat Islam marah.

Sayangnya, ada beberapa pihak yang menuding bahwa kegiatan aksi damai tersebut ditunggangi oleh salah satu anggota CAWAPRES pada  tahun 2019 mendatang.

Walhasil, tudingan terhadap aksi bela kalimat tauhid 212 terbantahkan dari pengakuan sejumlah peserta yang ikut dalam aksi tersebut. Ya, kegagalan berpikir oleh sekelompok pembenci Islam, rela melakukan apapun demi mengedepankan hawa nafsu semata. Menganggap bahwa bendera tauhid adalah milik Ormas HTI, adalah kesalahan yang sangat fatal, meski sudah beberapa kali Ormas HTI mengklaim bahwa bendera tauhid adalah bendera Ummat Islam yang wajib untuk dimuliakan.

BACA JUGA :   Keadilan Pemimpin : Ilusi Sistem Demokrasi

Sejak masa Rasulullah sallallahu alaihi wasallam, umat Islam sudah mempunyai bendera. Bendera bukan hanya sebagai simbol, melainkan salah satu penanda bahwa adanya sebuah negara dalam suatu wilayah tertentu. Selain itu, keberadaan bendera ini bisa dijadikan sebagai simbol pemersatu ummat Islam seluruh dunia.

Ditinjau dalam hal pandangan Islam, tentunya salah satu rujukan kita adalah meneladani Rasulullah, baik berupa ibadah, perbuatan, ucapan, dll. Begitu juga cara Rosulullah memperlakukan bendera yang bertuliskan kalimat syahadat, “La ilaha Illa al- Allah, Muhammad Rasul al-Allah”. Selain itu, bendera tauhid merupakan warisan Rosulullah sejak zamannya hingga para sahabat, pun telah sampai kepada kita saat ini.

Asal kata dari Ar-Rayah, berasal dari kata Rayah yang berarti panji, sementara Al-Liwa berasal dari kata Liwa’ yang berarti bendera.

Dalam beberapa riwayat disebutkan, rayah (Panji) yang dipakai Rasulullah sallallahu alaihi wasallam berwarna hitam, sedangkan liwa’ (benderanya) berwarna putih. (HR Thabrani, Hakim, dan Ibnu Majah).

Pertama mengenai rayah (Panji). Dalam sebuah hadis yang diriwayatkan oleh (Tirmizi)  dikatakan,
“Panji Rasulullah sallallahu alaihi wasallam berwarna hitam, berbentuk segi empat dan terbuat dari kain wol.”

Hal ini berdasarkan hadits berikut; Imam Ahmad, Abu Dawud dan An-Nasai di Sunan al-Kubra telah mengeluarkan dari Yunus bin Ubaid mawla Muhammad bin al-Qasim, ia berkata: Muhammad bin al-Qasim mengutusku kepada al-Bara’ bin ‘Azib bertanya tentang rayah Rasulullah Saw seperti apa.Al-Bara’ bin ‘Azib berkata, “Rayah Rasulullah Saw berwarna hitam persegi panjang terbuat dari Namirah.”

Mengenai hal ini,  dari hadis Ibnu Abbas mengatakan, Rasulullah ketika menjadi panglima di Perang Khandak pernah bersabda, “Aku benar-benar akan memberikan panji (rayah) ini kepada orang yang mencintai Allah dan Rasul-Nya serta dicintai oleh Allah dan Rasul-Nya.” Rasulullah kemudian memberikan rayah tersebut kepada Ali bin Abi Thalib yang saat itu menjadi ketua divisi pasukan Islam. (HR Bukhari).

BACA JUGA :   Indonesia Surga Korupsi

Adapun Istilah liwa’ sering ditemui dalam beberapa riwayat hadits tentang peperangan. Jadi, istilah liwa’ sering disandingkan pemakaiannya dengan rayah (panji perang). Istilah liwa’ atau disebut juga dengan al-alam (bendera) dan rayah mempunyai fungsi berbeda.

Selain itu, fungsi liwa’ sebagai penanda posisi pemimpin pasukan. Pembawa bendera liwa’ akan terus mengikuti posisi pemimpin pasukan berada. Liwa’ dalam peperangan akan diikat dan digulung pada tombak. Riwayat mengenai liwa’, seperti yang diriwayatkan dari Jabir radi allahu anhu yang mengatakan, Rasulullah membawa liwa’ ketika memasuki Kota Makkah saat Fathul Makkah (pembebasan Kota Makkah).

“Nabi Saw masuk ke Mekah dan Liwa’ beliau berwarna putih.” (HR Imam An-Nasai dan At Tirmidzi)

Tentang Penulis: admin

Gambar Gravatar
PT Kalosara Media Sultra | Penerbit www.kalosaranews.com merupakan anggota Serikat Media Siber Indonesia (SMSI) Sulawesi Tenggara (Sultra) serta tergabung dalam jaringan Siberindo.co