Mahar Terbaik Adalah Memberi Kemudahan


Oleh: Hamsina Halisi Alfatih


 

Wara-wiri pemberitaan sepasang sejoli yang baru-baru ini melangsungkan pernikahan. Bukan karna pestanya yang mewah atau bahkan karna dipandang sebagai seorang seleb ataupun karna kontroversi dibuatnya. Hal yang mampu membuat netizen terkesan wah bahkam sampai mencibir keduanya adalah karena maharnya yang begitu berbeda dari kebanyakan pernikahan yang pernah ada.

Dilansir dari Islampos.com (07/07/20) beberapa waktu lalu viral pernikahan dengan mahar sendal jepit di Lombok Tengah, Nusa Tenggara Barat. Dalam pernikahan itu, mempelai pria menyerahkan mahar hanya sandal jepit dan segelas air putih yang kemudian langsung diminum saat itu juga setelah prosesi akad.

Sepasang sendal jepit dan segelas air putih, itulah mahar yang diberikan sebagai bukti ketulusan seorang wanita yang tak ingin memberatkan pasangannya serta keluarganya. Secara pribadi penulis ingin memberikan applaus, jempol, bahkan mendoakan semoga keberkahan selalu Allah limpahkan atas rumah tangga keduanya.

Diera modernisasi saat ini, dengan berbagai fasilitas serta kecanggihan teknologi tentu seorang wanita mendambakan mahar yang ‘wah’. Namun patut digaris bawahi, bahwa mahar yang ‘wah’ belum tentu menjamin sebuah pernikahan menjadi samawa. Meskipun demikian, jika pernikahan itu landasi atas dasar keimanan, keikhlasan dan keridhaan Insya Allah akan mencapai derajat samawa.

Kembali lagi ke mahar sendal jepit yang tengah viral. Entah kenapa mahar sepasang sendal jepit membawa spekulasi beragam ditengah maraknya perzinahan saat ini. Apa yang salah? Seolah mahar tersebut memberi gambaran si pria tak gentle untuk menyiapkan mahar terbaik buat pasangannya. Padahal sudah jelas si wanitanya sendiri yang meminta mahar tersebut. Mungkin kita rada lupa bahwa memudahkan perkawinan lewat mahar yang tak memberatkan adalah sebuah keharusan. Bukankah itulah gambaran pernikahan yang diberkahi dan dianugerahi?

Mari kita tengok sebuah hadist yang diriwayatkan oleh Aisyah Ra yang artinya : “Dari Aisyah, Rasulullah saw bersabda; Sesungguhnya paling besarnya berkah dalam pernikahan adalah yang paling memudahkan dalam mahar” (HR. Imam Ahmad)

Hadist ini menyebutkam bahwa pernikahan yang paling berkah adalah yang paling dimudahkan maharnya. Kemudian hadis berikut ini juga menyatakan bahwa perempuan yang memudahkan mahar adalah anugerah, sebagaimana dalam riwayat Imam Ahmad.

Artinya: Dari Aisyah ra bahwa sesungguhnya Rasulullah saw bersabda; Sesungguhnya anugerah dari seorang perempuan adalah yang memudahkan pinangan, mahar, dan dalam memberikan kasih sayang. (HR. Ahmad).

Besaran nilai mahar tidak ditetapkan oleh syariat. Mahar boleh saja bernilai rendah dan boleh saja bernilai tinggi asalkan keduanya saling ridha. Imam An-Nawawi menjelaskan,

في هذا الحديث أنه يجوز أن يكون الصداق قليلا وكثيرا مما يتمول إذا تراضى به الزوجان، لأن خاتم الحديد في نهاية من القلة، وهذا مذهب الشافعي مذهب جماهير العلماء من السلف والخلف

 “Hadits ini menunjukkan bahwa mahar itu boleh sedikit (bernilai rendah) dan boleh juga banyak (bernilai tinggi) apabila kedua pasangan saling ridha, karena cincin dari besi menunjukkan nilai mahar yang murah. Inilah pendapat dalam madzhab Syafi’i dan juga pendapat jumhur ulama dari salaf dan khalaf.” (Syarh Shahih Muslim 9/190)

Lebih manarik lagi berikut ini contoh-contoh mahar di zaman Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam. Bukan hanya tidak memberatkan pengantin, tetapi juga unik. (Cek, https://keluargacinta.com/mahar-mahar-unik-di-zaman-rasulullah/)

Pertama, ada mahar sepasang sandal. Di zaman Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam, ada pernikahan yang maharnya sepasang sandal. Hal itu terjadi pada seorang pengantin muslimah dari Bani Fazarah. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam sendiri yang bertanya kepada perempuan tersebut apakah ia ridha dengan mahar yang akan diberikan calon suaminya berupa sepasang sandal. Ia pun menjawab bahwa dirinya ridha.

Ibnu Majah, Tirmidzi dan Ahmad meriwayatkan hadits ketika Rasulullah bertanya kepada wanita tersebut.

عَنْ عَامِرِ بْنِ رَبِيعَةَ أَنَّ امْرَأَةً مِنْ بَنِى فَزَارَةَ تَزَوَّجَتْ عَلَى نَعْلَيْنِ فَقَالَ رَسُولُ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- أَرَضِيتِ مِنْ نَفْسِكِ وَمَالِكِ بِنَعْلَيْنِ . قَالَتْ نَعَمْ. قَالَ فَأَجَازَهُ

Dari Amir bin Rabi’ah bahwasanya ada perempuan dari Bani Faza’ah dinikahkan dengan mahar sepasang sandal. Maka Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bertanya kepadanya, “Apakah engkau meridhakan dirimu dan apa yang kau miliki dengan sepasang sandal?” perempuan tersebut menjawab, “ya” Rasulullah pun membolehkannya. (HR. Tirmidzi, Ibnu Majah, dan Ahmad; shahih)

Kedua, mahar berupa cincin besi. Tat kala Rasulullah SAW sangat mempermudah sahabatnya untuk menikah. Maharnya pun disesuaikan dengan kemampuan calon suami, asal istri ridha menerimanya. Selain ada pernikahan yang maharnya sepasang sandal, ada pula pernikahan di zaman Rasulullah yang maharnya ‘hanya’ sebuah cincin besi.

Rasulullah menegaskan bolehnya mahar dengan cincin besi bagi sahabatnya yang tidak memiliki harta

أَعْطِهَا وَلَوْ خَاتَمًا مِنْ حَدِيدٍ

“Berikanlah kepadanya (mahar) meskipun hanya sebuah cincin besi” (HR. Bukhari – Muslim)

Demikian beberapa contoh unik dan menarik mahar dizaman Rasulullah SAW yang mungkin agak sukar jika diukur dizaman modern, apalagi diera kapitalistik saat ini. Namun patut untuk kita sadari lagi bahwa untuk menjalani sebuah bahtera rumah tangga yang samawa dibutuhkannya keimanan, keikhlasan dan keridhaan antara suami istri. Karenanya, tak ada yang salah meskipun sebuah mahar tersebut lebih murah dari pada sepasang sendal jepit. Yang salah adalah ketika pernikahan itu dipersulit oleh mahar lantas kemaksiatan justru terbaikan.

Wallahu A’lam Bishshowab


error: Hak Cipta dalam Undang-undang