Mahasiswa dan Penerapan Sustainable Development Goals di Sultra

Rahmawati
Rahmawati

 Sustainable Development Goals (SDGs) merupakan suatu rencana aksi global yang disepakati oleh para pemimpin dunia termasuk Indonesia. Hal ini dilakukan guna mengakhiri kemiskinan, mengurangi kesenjangan dan melindungi lingkungan. Menyongsong hal tersebut, senat mahasiswa (SEMA) IAIN Kendari membuka wawasan mahasiswa lewat sekolah legislatif (Telisik.id, Kendari (6/11/2021).

Dalam sekolah legislatif tersebut, ketua DPRD Sultra Abdurrahman Shaleh menekankan wajibnya pengetahuan mahasiswa terus ditingkatkan serta menjelaskan beberapa tugas legislatif yang perlu diketahui. Sementara itu, ketua SEMA IAIN Kendari Sarman mengatakan kegiatan sekolah legislatif bertujuan memberikan pemahaman pada mahasiswa seperti apa tugas dan fungsi legislatif sebenarnya.

Sustainable Development Goals (SDGs) adalah seperangkat tujuan, sasaran dan indikator pembangunan berkelanjutan yang bersifat universal. SDGs menegaskan pentingnya upaya mengakhiri kemiskinan agar dilakukan bersama dengan upaya strategis untuk meningkatkan pertumbuhan ekonomi, menerapkan langkah kebijakan sosial untuk memenuhi aneka kebutuhan sosial (seperti pendidikan, kesehatan, proteksi sosial, kesempatan kerja) dan langkah kebijakan untuk mengatasi perubahan iklim dan proteksi lingkungan.

Program pemerintah yang diusahakan bisa tercapai pada tahun 2030 ini diharapkan mampu membuka peluang untuk memajukan generasi muda berpikir kedepan demi kemajuan bangsa. Generasi muda dipupuk pemikirannya untuk mengatasi segala persoalan yang melanda negeri ini melalui perencanaan SDGs mulai dari kemiskinan, kelaparan hingga melindungi lingkungan dengan membangun fasilitas. Untuk mendukung kelancarannya maka legislatif (badan yang berwewenang membuat atau mengeluarkan hukum) dalam bentuk sekolah diperkenalkan kepada generasi muda sehingga dapat dipahami tentang tugas dan fungsinya. Generasi muda dibasis agar mampu menyelesaikan persoalan yang dihadapi negeri ini.

Menyorot penjabaran diatas, mengikutsertakan generasi muda ibarat “Lagu lama”. Yakni memanfaatkan peran generasi muda dengan berdalih untuk memperbaiki dan memajukan kehidupan bangsa, namun ujung-ujungnya sama saja dengan sebelumnya. Generasi muda hanya sebagai alat sementara, sedangkan aturan dan embel-embelnya ditentukan dan diarahkan oleh penguasa.

Begitulah dalam sistem yang diterapkan saat ini, yakni Demokrasi-Kapitalisme, pemecahan masalah diselesaikan dengan pencapaian materi semata. Solusi yang rezim anggap tepat hanya menjadi bayangan semu karena bukan itu tujuan yang ingin dicapai namun keuntungan materi yang dipertimbangkan, makanya pembangunan yang bersifat fisik merupakan solusi yang dianggap tepat padahal kenyataannya justru bukan itu yang diinginkan. Berdasarkan fakta yang terjadi, pembangunan hanya dimanfaatkan penguasa sebagai akses untuk mempermudah mereka dalam mendapatkan keuntungan.

Jika hal ini terus dibiarkan, maka kesejahteraan yang ingin dicapai dalam sistem ini pun hanya bersifat utopis semata, karena tidak akan pernah tercapai. Sekalipun generasi muda yang dikatakan sebagai harapan bangsa turut diikutsertakan dalam berbagai proyek yang dikatakan demi kemajuan negeri. Olehnya penerapan sistem Demokrasi-Kapitalisme pun tidak boleh dipertahankan, karena segala kebijakan yang muncul darinya selalu menggiring kepada kefasadan serta hanya menguntungkan sebagian kecil individu saja.

Oleh karena itu, maka negeri ini butuh sistem pengganti yang lebih baik dan tentunya berasal dari Allah, pencipta manusia. Sistem itu adalah Islam. Hal ini memungkinkan karena Islam bukan hanya agama spiritual semata, namun juga sebagai ideologi yang memiliki aturan  sempurna dan paripurna. Hal ini dijelaskan oleh Allah swt. dalam firmannya dalam Surah An-Nahl ayat 89, yang artinya:

 

“…Dan Kami turunkan kitab (Al-Qur’an) kepadamu untuk menjelaskan segala sesuatu, sebagai petunjuk, serta rahmat dan kabar gembira bagi orang yang berserah diri (muslim).”

 

Dari ayat tersebut kita bisa menyimpulkan jika segala sesuatu dalam kehidupan telah diatur oleh-Nya, termasuk bagaimana menyejahterakan rakyat. Yang tentu saja segala aktivitas tersebut harus berlandaskan keimanan kepada-Nya, bukan demi mengejar keuntungan materi sebagaimana yang terjadi saat ini tatkala negeri dibawah kekuasaan aturan sistem Demokrasi-Kapitalisme.

Berdasarkan penjabaran diatas nampak jelas jika mengganti sistem adalah cara terbaik untuk menghentikan laju kerusakan yang ditimbulkan oleh sistem Demokrasi-Kapitalisme. Semoga kita semua termasuk hamba-Nya yang berperan penting dalam aktivitas tersebut. Wallahu a’lam.


Oleh :  Rahmawati (Muslimah Kendari)

 

error: Hak Cipta dalam Undang-undang