Marak Perdagangan Anak Ditengah Bencana, Miris!

Lisa Aisyah Ashar
Lisa Aisyah Ashar

Oleh : Lisa Aisyah Ashar

(Aktivis Back To Muslim Identity Kolaka)

OPINI : Belum berakhir duka yang dirasakan oleh korban Gempa di Palu, kini harus menelan pil pahit akibat ulah sindikat perdagangan manusia yang memangsa anak-anak. Dilansir dari Hidayatullah.com– Dalam situasi bencana, jatuhnya korban jiwa merupakan potensi yang tak bisa dipungkiri. Termasuk anak-anak yang rentan menjadi korban perdagangan anak pasca bencana alam.

Demikian diingatkan oleh Kepala Bidang Pemantauan dan Kajian Perlindungan Anak Lembaga Perlindungan Anak (LPA) Indonesia, Amsyarnedi Asnawi, Senin (26/09/2016), dalam rilisnya kepada hidayatullah.com di Jakarta.

Berbagai catatan, kata dia, menunjukkan, salah satu modus sindikat perdagangan orang adalah memasuki daerah bencana dengan menyaru sebagai pembawa bala bantuan lalu mengincar anak-anak. Biasanya dengan disertai iming-iming membawa anak ke wilayah yang lebih aman plus janji memenuhi kebutuhan anak. Dimana hal itu, kata Amsyarnedi, berpotensi dengan mudah membius orangtua yang tengah menghadapi

“Otoritas keamanan harus bersiaga penuh untuk menangkal bencana kemanusiaan yang berpeluang terjadi menyusul bencana alam,” ujar Amsyarnedi.

“Minimal, kegiatan pendidikan bahkan sekolah perlu diaktivasi selekas mungkin. Rutinitas sekolah, apalagi dalam situasi bencana, merupakan unit yang sangat penting untuk memastikan anak-anak tetap terpantau dalam lingkungan yang relatif terkendali,” ujarnya,

Kapitalisme Akar Permasalahannya

Melindungi anak bukan kewajiban orang tua biologisnya saja melainkan menjadi kewajiban kita semua terutama Negara, karena merekalah generasi penerus bangsa. Dalam hal ini, Negara bahkan dunia internasional telah merumuskan aturan tentang perlindungan anak. Aturan tersebut tertuang dalam Undang-Undang No.23 Tahun 2002 tentang perlindungan anak.

Berdasarkan penelitian ini ditemukan bahwa tindak pidana perdagangan anak menurut Pasal 17 UU NO. 21 Tahun 2007 Tentang Pemberantasan Tindak Pidana Perdagangan Orang yang berbunyi: quot;Jika tindak pidana sebagaimana dimaksud dalam Pasal 2, Pasal 3, dan Pasal 4 dilakukan terhadap anak, maka ancaman pidananya ditambah 1/3 (sepertiga), quot; yaitu dipidana penjara paling singkat 4 tahun dan paling lama 20 tahun dan pidana denda paling sedikit Rp.160.000.000,00 dan paling banyak Rp.800.000.000,00.

BACA JUGA :   DPMD Koltim Warning Camat Penjabat Lebih Dari 1 Desa

Hanya saja dalam prakteknya masih belum maksimal, terbukti maraknya kasus perdagangan anak yang terjadi saat ini membuat orangtua was-was. Lagi-lagi Negara lalai terhadap perlindungan anak-anak korban bencana.

Kapitaslime adalah akar dari permasalahnnya. Demi meraih pundi-pundi materi mereka siap melakukan hal-hal yang jelas-jelas melanggar hukum. Karena itu, sistem kapitalisme telah mencabut aspek kemanusiaan, mencari keuntungan di tengah bencana. Ini membuktikan negara gagal mewujudkan kesejahteraan, juga tidak mampu membina keluarga agar memiliki tanggung jawab mendidik dan melindungi anak-anak dari bahaya. Alhasil, sudah saatnya kita menggunakan solusi yang akan menuntaskan permasalahan ini. Dan Islam memiliki solusi yang solutif.

Islam Solusi Tuntas Masalah Perlindungan Anak

Islam memandang status anak merupakan karunia terindah yang dititipkan oleh Allah SWT sebagai amanah bagi setiap orangtua. Selain itu, anak juga merupakan perhiasan kehidupan dunia. Semua tertuang dalam Al-Quran. “Harta dan anak-anak adalah perhiasan kehidupan dunia, namun amal yang kekal dan shalih adalah lebih baik pahalanya di sisi Tuhanmu serta lebih baik untuk menjadi harapan”. (QS: Al-Kahfi:46)”.

Allah SWT berfirman dalam Surah Al-Isra ayat 70 “Dan sugguh, Kami telah memuliakan anak cucu Adam, dan Kami angkat mereka di darat dan di laut, dan Kami beri mereka rezeki dari yang baik-baikdan Kami lebihkan mereka di atas banyak makhluk yang Kami ciptakan dengan kelebihan yang sempurna”

Kemudian dalam Dalil Sunnah disebutkan dalam sebuah hadits Qudsi Allah SWT mengancam keras orang yang menjual manusia dengan ancaman permusuhan di hari kiamat. Imam al-Bukhari dan Imam Ahmad meriwayatkan dari Abu Hurairahra, dari Nabi saw, beliau bersabda: Allah SWT berfirman: “Tiga golongan yang Aku akan menjadi musuh mereka di hari kiamat; pertama: seorang yang bersumpah atas nama-Ku lalui tidak menepatinya, kedua: seseorang yang menjual manusia merdeka dan memakan hasil penjualannya, dan ketiga: seseorang yang menyewa tenaga seorang yang tenaga seorang pekerja yang telah menyelesaikan pekerjaan itu akan tetapi dia tidak membayar upahnya”. Dalam masalah ini, Ulama bersepakat atas haramnya menjual orang merdeka (Baiulhur), dan setiap akadnya yang dianggap tidak sah dan pelakunnya berdosa.

BACA JUGA :   Kurikulum Moderasi Bukti Pendidikan Minus Visi

Dalil-dalil di atas cukup jelas mengambarkan bahwa dalam Islam anak wajib mendapatkan perlindungan, baik dari keluarganya, masyarakat, maupun Negara. Namun ironisnya yang terjadi saat ini, masih saja anak dijadikan mangsa untuk meraup keuntungan.

Solusi perdagangan anak tidak cukup hanya dengan penegakan hukum oleh kepolisian dan aparat hukum lainnya. Maka, hanya Islam yang mampu memberikan solusi terbaik dan memberikan efek jera. Dalam hukum Islam sanksi terhadap pelaku perdagangan anak berupa hukuman ta’zir, karena belum ada ketentuan yang jelas dalam al-Qur’an dan Hadis, mengenai bentuk dan ukurannya diserahkan keputusannya kepada ijtihad  hakim atau imam yang berwenang. Jenis hukuman ta’zir dapat berupa hukuman mati, penjara, pengucilan, penyalipan, jilid (dera), pengasingan dan ancaman. Wallahu a’lam.(**)

 

Tentang Penulis: admin

Gambar Gravatar
PT Kalosara Media Sultra | Penerbit www.kalosaranews.com merupakan anggota Serikat Media Siber Indonesia (SMSI) Sulawesi Tenggara (Sultra) serta tergabung dalam jaringan Siberindo.co