Marak PSK, Efektifkah Penyuluhan Reproduksi Aman?

#Hamsina Halisi Alfatih,
#Hamsina Halisi Alfatih,

Oleh: Hamsina Halisi Alfatih


Maraknya Pekerja Seks Komersial (PSK) di Kota Kendari membuat Aliansi Perempuan (Alpen) Sultra, melakukan sosialisasi dan pendampingan tentang kesehatan reproduksi di tempat-tempat hiburan. (Telisik.id,26/08/20)

Bisnis esek-esek nampaknya semakin menjamur apalagi bisnis haram tersebut saat ini tengah menjadi sorotan di kota Kendari yang notabennya adalah Kota Bertakwa. Penelusuran atas bisnis esek-esek tersebut ternyata tak hanya digeluti oleh mereka yang benar-benar berpredikat PSK namun sisi gelap pekerja seks komersial ini nampaknya dilakoni bahkan dari kalangan mahasiswi.

Prostitusi memang merupakan bisnis yang sangat menjanjikan. Tak heran bisnis haram tersebut bahkan menjamur hampir di setiap sudut-sudut perkotaan di Indonesia. Inilah yang tengah menjadi sorotan publik masyarakat kota Kendari atas bisnis haram tersebut tepatnya di Kendari Beach.

Dilansir dari telisik.id (17/08/20) dikenal sebagai kawasan yang banyak dikunjungi oleh masyarakat, Kendari Beach, atau lebih dikenal dengan Kebi, yang terletak di sisi Barat Kota Kendari, ternyata tak lepas dari praktik prostitusi.Temuan dan fakta yang ada membuat kita terkejut. Pasalnya, informasi dari sejumlah narasumber kepada Telisik.id ternyata benar adanya. Lokasi eksekusi bisnis prostitusi ini tak terpusat di satu titik saja, melainkan tersebar di berbagai titik kawasan Kebi.

Kendari Beach yang tak hanya sekedar dijadikan tempat nongkrong, makan, minum dan hiburan semata. Justru dibalik wisata hiburan tersebut tersimpan bisnis esek-esek yang sangat miris kita saksikan saat ini. Bisnis haram, menjanjikan, siapa yang tidak tergiur jika pundi-pundi rupiah yang dihasilkan bisa mencapai puluhan juta rupiah. Meskipun hilangnya harga diri dan kehormatan namun siapa sangka bisnis haram tersebut tetap menjadi pekerjaan gelap di kalangan para PSK. Menyedihkan, bahkan bisnis prostitusi tersebut sampai saat ini masih belum terjamah oleh pemerintah setempat agar di sterilkan dari tempat-tempat hiburan.

Berbicara jumlah data PSK tahun lalu di wilayah Kota Kendari, Aliansi Perempuan (Alpen) Sulawesi Tenggara (Sultra), merilis sebanyak 933 Pekerja Seks Komersial (PSK) untuk diwilayah Kota Kendari, Sulawesi Tenggara (Sultra). Dari keseluruhan, dua diantaranya positif terjangkit Human Immunodeficiency Virus (HIV)/ Acquired Immuno Deficiency Syndrome (AIDS). (Kumparan.com,09/03/19)

Pada kesempatan yang sama, Ketua Alpen Sultra, Hasmida Karim mengatakan ada beberapa faktor yang menyebabkan banyak perempuan memilih menjadi PSK di Kota Kendari. Pertama adalah masalah ekonomi, kedua gaya hidup dan ketiga beralih fungsinya sumber daya di daerah asal para PSK.

Inilah nasib potret kehidupan perempuan dalam sistem kapitalisme.

Kapitalisme telah membuat kehidupan manusia sangat menderita. Ekonomi kapitalis telah melahirkan kemiskinan yang mengerikan. Karena kemiskinan, banyak wanita terpaksa harus bekerja keras bukan hanya untuk memenuhi kebutuhan hidupnya tapi karena tuntutan kehidupan hedonis lah sehingga banyak perempuan terpaksa menjajakan kehormatannya.

Ide kebebasan (Liberalisme) ala Kapitalisme juga telah mengubah perilaku manusia bak binatang. Budaya permisif menumbuh-suburkan pornografi-pornoaksi yang memicu adanya seks bebas. Seks bebas kemudian menyebabkan banyak kasus hamil tak diinginkan.

Dibalik maraknya bisnis prostitusi pemerintah wilayah kota Kendari justru hadir memberikan solusi dengan sosialisasi/penyuluhan reproduksi aman. Pertanyaannya, apakah hal ini efektif mengurangi atau memberantas adanya bisnis prostitusi di setiap lokalisasi yang dijadikan sarang bisnis haram tersebut? Tentu tidak. Sebab, sosialisasi kesehatan reproduksi hanyalah bagian penyuluhan yang tidak akan mampu memberi ketegasan hukum kepada pelaku prostitusi. Hal ini justru akan semakin maraknya bisnis haram tersebut. Apalagi ketika negara tidak turut andil dalam permasalahan tersebut.

Potret kehidupan perempuan dalam sistem kapitalisme liberal memang digambarkan sebagai komoditas oleh para kapitalis. Beda halnya perempuan dalam Islam, kehidupannya begitu terjaga dan terjamin. Allah SWT telah menetapkan dalam berbagai nash syariah bahwa wanita adalah barang berharga yang wajib dijaga.

Disamping itu, Islam melarang wanita bepergian jauh seorang diri tanpa ditemani mahram mereka. Rasulullah saw. bersabda:

لاَ يَحِلٌّ لإمْرَأَةٍ تؤمِنُ بِاللهِ وَالْيَومِ الآخِرِ أنْ تُسافِرَ يَوْم ولِيْلَة إلاّ وَمَعَها مَحْرَمٌ لَها

Tidak halal wanita yang mengimani Allah dan Hari Akhir melakukan perjalanan sehari semalam, kecuali bersama mahramnya.

Islam pun melarang wanita berinteraksi bebas dan bercampur-baur dengan laki-laki bukan mahram, seperti liburan bersama, makan dan ngobrol bersama, dan sejenisnya. Dampak dilalaikannya hukum ini adalah maraknya pergaulan bebas. Maka demi menjamin kemuliaan wanita, Islam menjauhkan wanita dari lingkup tanggung jawab berat yang ada pada urusan pemerintahan. Hal ini tentunya untuk menjaga kedudukan utamanya sebagai ibu generasi. Islam mewajibkan kepada pihak-pihak yang bertanggung jawab terhadap wanita untuk memenuhi hak mereka dengan baik, termasuk negara.

Negara wajib menyediakan lapangan kerja bagi laki-laki agar dapat memberi nafkah pada keluarga mereka. Negara juga wajib menyediakan fasilitas yang diperlukan, khususnya oleh wanita, seperti fasilitas kesehatan dan pendidikan yang baik agar para wanita bisa menjalankan perannya yang mulia dengan baik pula. Negara wajib menjamin keamanan dalam kehidupan publik agar saat wanita keluar rumah untuk menunaikan kewajiban yang dibebankan padanya mereka mendapat ketenangan.

Melihat permasalahan yang dihadapi wanita akibat dari penerapan sistem kapitalis-sekular, tidak ada cara dan solusi yang lebih tepat untuk menyelamatkan kehormatan dan kemuliaan kaum wanita selain dengan penerapan syariah Islam. Perjuangan saat ini fokus pada penegakan Khilafah yang akan menerapkan syariah secara kaffah. Dengan syariah, kehormatan dan kemuliaan wanita dapat terjaga; seluruh kebutuhan hidup wanita juga dapat terpenuhi.

Wallahu Dalam Bishshowab

error: Hak Cipta dalam Undang-undang