Maraknya Bisnis Prostitusi di Kendari Beach

Umma Aqila Safhira
Umma Aqila Safhira

Oleh : Umma Aqila Safhira


Menyebut kota Kendari tentu tak lepas dari destinasi wisatanya Kendari Beach (Kebi) tempat favorit wisata lokal maupun luar yang menjadi tujuan. Berbagai spot yang ingin berswa foto tersedia hingga jajanan kuliner yang memanjakan lidah tersedia. Namun,fakta mengejutkan darinya tak hanya itu  ternyata temuan baru-baru ini merubah paradigma bahwa tempat ini sudah menjadi tempat bisnis prostitusi.

Temuan ini diperkuat dari Polda Sulawesi Tenggara yang mengungkap kasus serupa di Kendari. Sejauh ini, polisi masih terus mengembangkan kasus tersebut. Keterangan sementara dari pengakuan Haris, pria yang diduga menjadi mucikari, tarif yang ditawarkannya berkisar antara Rp 700.000 hingga Rp 2 juta.

Lokasi eksekusi bisnis prostitusi ini pun, tak terpusat di satu titik saja, melainkan tersebar di berbagai titik kawasan Kebi. (Telisik.id 16/8).

Mereka mengenalkan diri baik dari aplikasi,THM, maupun lewat mucikari. Pelaku prostitusi pun,dari kalangan anak yang masih duduk di bangku sekolah maupun anak kuliahan. Jika diamati ada beberapa faktor yang hingga mereka terjerumus didalamnya diantaranya,faktor ekonomi keluarga yang rendah,kenakalan remaja,faktor lingkungan sosial serta karakter remaja perempuan yang sering ingin mencoba hal-hal baru maupun adat ketimuran yang sudah terkikis menjadi penyebab mudahnya menjalani prostitusi yang kemudian menjadi lahan bisnis.

Terbukanya sektor bidang Pariwisata untuk menggenjot pertumbuhan ekonomi suatu Daerah berdampak bagi kehidupan sosial masyarakat. Bisnis prostitusi adalah salah satu dampak dibukanya sektor tersebut. Sebagai  salah satu tujuan untuk meningkatkan pendapatan PDB (Pendapatan Domestik Bruto). Sistem kapitalis sekuler telah membuka peluang kebebasan dalam sistem sosial, sehingga menjadikan prostitusi sebagai lahan yang menggiurkan, apalagi untuk menarik wisatawan dan untuk meraup pundi-pundi rupiah,dan demi mendongkrak Perekonomian agar tetap stabil

Sungguh miris, negara yang diharapkan memberikan perlindungan dan pelayanan bagi rakyatnya dengan menciptakan lapangan kerja seluas-luasnya dan juga perlindungan dalam sistem pergaulan justru tidak memberikan fungsinya. Yang kadang tak jarang mereka  harus berhadapan dengan resiko yang timbul karenanya. Seorang remaja terjun di dunia prostitusi disebabkan tak terjangkau nya biaya pendidikan sungguh memilukan hati, yang  seharusnya mereka masih mempunyai banyak kesempatan untuk berkarya justru menjadi target kejamnya sistem hari ini.  Begitupun karakteristik yang harus dijalani oleh para pekerja seks membuat prostitusi menjadi pekerjaan yang berisiko tinggi. Dalam melakukan pekerjaannya, mereka berganti-ganti pasangan dan melakukan hubungan seksual dengan banyak orang.

Selain itu, posisi tawar yang lemah di pihak pekerja seks juga membuat mereka sering tidak berhasil membujuk pelanggannya untuk menggunakan proteksi/kondom. Akibatnya, dari pelanggan yang mengidap penyakit menular seksual (PMS), atau bahkan HIV/AIDS, pekerja seks tadi dapat tertular tanpa mampu melindungi tubuhnya. Apalagi ada mitos, karena risiko tertular HIV lebih besar jika berhubungan dengan pekerja seks dewasa, maka kaum pria hidung belang memburu anak-anak.

Risiko berat lain yang seringkali harus dihadapi remaja sebagai pekerja seks adalah kekerasan seksual yang dilakukan oleh pelanggan yang bisa jadi sampai mengancam nyawanya. Tidak jarang, pelanggan yang datang juga menginginkan bentuk hubungan seks yang tidak wajar. Dan ini tentu peran pemerintah begitu sangat dinantikan dalam upaya menghentikan perilaku yang menyimpang.

Dibawah tekanan sistem Kapitalis – sekuler juga hingga negara tak bisa memberikan solusi yang tuntas bagi rakyatnya. Termasuk para  pelaku prostitusi harus menanggung kebutuhan hidupnya yang harusnya negara mempunyai tanggung jawab yang besar. Kalaupun ada solusi yang diberikan tak sampai membuat jera, hanya sekedar pembinaan setelah itu dibiarkan tertatih, mengurusi hidupnya sendiri.

Dan dalam Islam begitu jelas dalam mengatur hubungan antar manusia.  Islam datang dengan hukum  dimana zina adalah dosa besar,dalam Islam harus diberikan hukuman yang sudah diatur dalam Al-Qur’an dan as-sunnah. Baik pelacur ataupun pemakai terkena hadd zina, sebagaimana dalam surah an-Nur ayat 33, dan ditentukan larangan perdagangan orang untuk dilacurkan atau perdagangan pelacuran. Dalam hadist Rasulullah ﷺ ditentukan hukuman rajam bagi pezina laki-laki dan pezina perempuan yang pernah menikah atau pezina yang sedang terikat dalam perkawinan.

Demikianlah, Islam secara tegas menentukan larangan pelacuran dan menentukan hukuman bagi mucikari, pelacur dan pemakai pelacur yang dilakukan dengan kerelaan masing-masing, tanpa paksaan dari siapa pun. Karena pelacuran adalah perzinaan. Zina adalah perbuatan pidana (jarimah) yang hukumannya ditentukan langsung dalam al-Quran dan hadist Rasulullah ﷺ tentang kasus Ma’iz Bin Malik dan juga kasus Ghamidiyah yang dijatuhi hukuman rajam karena terbukti berzina.

Akan tetapi pelaksanaan hukum hadd bagi pezina hanya bisa dilaksanakan oleh institusi negara, tidak bisa dilakukan oleh individu ataupun kelompok masyarakat. Maka seharusnya Negara ini mengambil Islam yang bisa mengatur tata kehidupan secara menyeluruh. Terlebih kita ketahui bahwa zina dan riba adalah penyebab terbesar datangnya murka Allah SWT. Sebagaimana sabda Nabi saw.: “Jika zina dan riba telah merajarela di suatu negeri, berarti mereka telah menghalalkan azab Allah atas diri mereka sendiri” (HR al-Hakim, Al-Mustadrak, 2/42).  Maka sudah sepatutnya kita mengambil hukum Islam dan meninggalkan hukum jahiliyah dari kapitalis-sekuler.

Wallahu A’lam Bisshawab


error: Hak Cipta dalam Undang-undang