Maraknya Kasus Asusila di Konawe, Islam Solusinya

Mustika Lestari
Mustika Lestari

Oleh: Mustika Lestari (Pemerhati Sosial)


 

Kejahatan seolah menjadi hal yang biasa terjadi di negeri ini, bukan hanya di perkotaan besar seperti Jawa dan Kalimantan, bahkan telah menjamur di wilayah-wilayah kecil seperti Sulawesi Tenggara. Seperti kasus kekerasan pada anak dan perempuan akhir-akhir ini semakin marak terjadi di Konawe, Sulawesi Tenggara. Memasuki awal tahun 2021 saja hingga kini Kepolisian Resort (Polres) Konawe telah menangani sebanyak sembilan kasus tindak pidana Perlindungan Perempuan dan Anak (PPA). Dari pengaduan sembilan perkara tersebut, beberapa di antaranya telah dilimpahkan ke Kejaksaan.

 

Kasat Reskrim Polres Konawe, IPTU Husni Abda mengatakan, dari semua kasus yang diadukan ke Unit Perlindungan Perempuan dan Anak (PPA) Reskrim Polres Konawe, kasus asusila mendominasi. Selain itu, kata dia, kasus perzinaan dan kekerasan dalam rumah tangga juga masih terjadi di wilayah ini. “Kasus asusila mendominasi hingga sebanyak 70 persen,”imbuhnya, Rabu (24/2).

 

Kasus asusila pada anak di bawah umur di Konawe ini dilakukan oleh pelaku yang beragam. Ada yang berasal dari keluarga dekat korban, ada juga teman atau pacar yang berkenalan di media sosial. (http://telisik.id, 24/2/2021).

 

Sistem Sekularisme Suburkan Kejahatan

 

Tindakan asusila merupakan perbuatan atau perilaku yang menyimpang dari norma-norma atau kaidah kesopanan. Adapun tingginya kasus semacam ini di Sulawesi Tenggara telah menjadi fenomena lumrah yang disuguhkan oleh media. Dilansir dari Kendaripos.co.id (27/2/2020), tercatat kasus kekerasan terhadap anak dan perempuan selama tahun 2018 sebanyak 192 kasus, sementara di tahun 2019 sebanyak 124 kasus, dengan terbanyak berada di Kendari (29 kasus) dan Konawe (26 kasus).

 

“Kebanyakan kasus yang terjadi itu berupa psikis, fisik, pelecehan seksual, eksploitasi dan penelantaran. Sebanyak 19 kasus kekerasan anak di Konawe, 4 kasus kekerasan anak laki-laki dan 15 kasus anak perempuan. Kalau di Kendari 4 kasus terhadap anak laki-laki dan 14 kasus anak perempuan. Kalau perempuan, Kendari 11 kasus, Konawe 7 kasus dan 6 kasus di Baubau,” ungkap Andi Tenri, Kepada Dinas Pemberdayaan Perempuan, Perlindungan Anak, Pengendalian Penduduk dan Keluarga Berencana (DP3A-PPKB) Sultra.

BACA JUGA :   GPMI Bongkar Dugaan Korupsi Pembangunan Puskesmas di Kota Makassar

 

Tak hanya itu, terkait aksi asusila/amoral juga sudah menjadi persoalan masif yang bisa ditemukan di setiap sudut wilayah ini, seperti pencabulan hingga kekerasan pada umumnya. Kondisi ini masih menjadi momok menakutkan bagi masyarakat, khususnya perempuan dan anak-anak. Masih di wilayah Kendari, tercatat 18 kasus kekerasan pada perempuan dan anak sepanjang Januari-September 2020.Kabid Layanan Perlindungan Perempuan dan Anak Korban Kekerasan Dinas Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (DP3A) Kota Kendari, Fitriani Sinapoy mengungkapkan akan terus berusaha semaksimal mungkin meminimalisasi terjadinya kasus kekerasan terhadap perempuan dan anak. Jika bisa, tidak terjadi lagi khususnya di Kota Kendari.

 

“Dari 18 kasus yang ditangani terdiri dari 11 kasus kekerasan terhadap anak dan 7 kasus kekerasan terhadap perempuan. Keadaan seperti ini, sangat miris,” ujar Fitriani (kendaripos.co.id, 24/9/2020). Tentu saja, data-data ini belum mencakup daerah di Sulawesi Tenggara secara menyeluruh, bahkan data yang tersaji bisa jadi menggambarkan permukaannya saja bagai fenomena gunung es, artinya jumlahnya bisa lebih besar dari yang terungkap.

Tentang Penulis: admin

Gambar Gravatar
PT Kalosara Media Sultra | Penerbit www.kalosaranews.com merupakan anggota Serikat Media Siber Indonesia (SMSI) Sulawesi Tenggara (Sultra) serta tergabung dalam jaringan Siberindo.co