Maraknya Perdagangan Narkoba

Oleh  :Winda (Mahasiswi UHO)

Negeri ini seolah telah menjadi pasar pebisnis narkoba. Lihat saja bagaimana peredaran narkoba yang tak pernah putus, seperti yang kembali terjadi di Muna. Beberapa hari lalu, Sat Resnarkoba Polres Muna berhasil membekuk dua orang pelaku diduga sebagai pengedar Narkotika jenis Sabu pada sabtu (11/8/2018) sekitar pukul 16:50 Wita(MediaKendari.com,12/8/2018). Narkotika adalah zat atau obat yang berasal dari tanaman atau bukan tanaman, baik sintetis maupun semi sintetis yang dapat menyebabkan penurunan atau perubahan kesadaran, hilangnya rasa nyeri dan dapat menimbulkan ketergantungan (Undang-Undang No. 35 tahun 2009).

Di lansir dari penasultra.com (12/11/2018), hasil interogasi barang tersebut dipesan melalui lapas Kendari. Selanjutnya dikirim melalui kapal malam, lalu barang itu diambil dan kemudian diedarkan. Sebelumnya saat penangkapan kedua pelaku ditemukan barang bukti (BB) 4,5 gram narkoba jenis sabu yang dibungkus menjadi lima sachet kecil dan polisi juga menemukan timbangan digital, sachet kosong dan hand phone (HP) didalam mobil yang digunakan pelaku, ungkap Kapolres Muna AKBP Agung Ramos Paretongan saat konferensi pers di Rumah Edukasi Anti Narkoba (REAN).

Dari situ petugas kemudian melakukan penggeledahan di rumah salah satu tersangka. Di sana polisi kembali menemukan 48 gram sabu. Selain sabu, polisi juga turut mengamankan uang Rp 1 juta dan bukti transfer senilaiRp 28 juta yang mana uang tersebut diduga kuat hasil transaksi narkoba.

Tentu penangkapan jaringan penyebar narkoba di Muna ini bukanlah pertama kali terjadi. Peredaran narkoba semakin marak khususnya di Muna hampir setiap minggu ada saja pelaku yang diamankan dari pihak kepolisian. Dan sepanjang tahun 2018 tak tanggung-tanggung sudah sebanyak 20 kasus yang ditangani PolresMuna dan 23 tersangka telah mendekam dijeruji besi. Dan parahnya kasus yang baru baru ini merupakan kasus dengan barang bukti (BB) terbesar selama ini (penasultra.com,12/8/2018).

BACA JUGA :   Kapolres Konawe : Kita Berbeda Pilihan Tapi Harus Menjaga Kekeluargaan dan Keamanan

Akar Masalah

Peredaran narkoba kian menggila hingga telah menyasar di semua kalangan baik itu remaja, PNS, artis hingga aparat negara. Tak ketinggalan penyeludupan narkoba dari warga Negara asing (WNA) dengan jumlah yang fantastis juga semakin masif. Inilah buah dari sistem kapitalisme dengan asas sekularisme ( pemisahan agama dari kehidupan) yang diadopsi oleh bangsa ini, yakni paham yang membolehkan mencari materi sebanyak-banyaknya dengan cara apapun. Akibatnya setiap orang bebas menempuh cara apa saja untuk menambah pundi-pundi rupiah. Tak mengenal halal-haram dalam bertransaksi jual beli seperti yang diajarkan dalam agama.

Ditambah dengan tuntutan ekonomi, sulitnya lapangan pekerjaan, dan minimnya gaji para pegawai. Dengan harga barang yang semakin mencekik hingga tak jarang membuat segelintir orang untuk beralih pada perdagangan barang terlarang ini yang mana keuntungannya cukup menggiurkan.

Diperparah dengan hukuman yang dijatuhkan dalam kasus narkoba yang tidak memberikan efek jera. Terbukti ketika banyaknya tersangka narkoba yang berulang kali keluar masuk penjara dengan kasus serupa. Maka jelaslah bahwa akar permasalahan yaitu penerapan sistem Demokrasi-Kapitalisme yang telah lama menggerogoti bangsa ini dan telah merusak tatanan kehidupan masyarakat. Salah satunya merusak generasi bangsa dengan narkoba. 

Narkoba dalam Perspektif Islam

Islam adalah agama yang menyeluruh yakni aturannya mencakup segala aspek kehidupan. Islam memandang jika dalam perkara darurat seperti mengenai kesehatan, maka beberapa jenis obat-obatan yang bisa jadi terkategori narkoba boleh digunakan untuk meredam rasa sakit. Ini adalah keadaan darurat. Dan dalam keadaan tersebut masih dibolehkan mengingat kaedah yang sering dikemukakan oleh para ulama:

Keadaan darurat membolehkan sesuatu yang terlarang

Namun, para ulama sepakat haramnya mengkonsumsi narkoba ketika bukan dalam keadaan darurat. Ibnu Taimiyah rahimahullah berkata, “Narkoba sama halnya dengan zat yang memabukkan diharamkan berdasarkan kesepakatan para ulama.

BACA JUGA :   Hugua Optimis, PDIP Raih Tiga Kursi di Senayan

Bahkan setiap zat yang dapat menghilangkan akal, haram untuk dikonsumsi walau tidak memabukkan” (Majmu’ Al Fatawa, 34: 204). Dalil terkait ini juga banyak, misalnya dari Ibnu Abbas Rasulullah shallallah ‘alaihi wasallam bersabda Tidak boleh memberikan dampak bahaya (HR. IbnuMajah). Dalam hadist ini jelas dilarang memberi mudhorot bagi orang lain, dan narkoba termaksud didalamnya.

Untuk mencegah beredarnya narkoba secara ilegal, dalam artian yang tidak diperuntukkan untuk perkara darurat maka Islam telah menetapkan seperangkat aturan. Pertama, menegakkan sanksi hukum pidana Islam.

Sistem pidana islam bersumber dari pencipta ialah Allah SWT yang mengetahui segala seluk beluk manusia. Hukum pidana Islam mengandung hukuman yang berat. Setiap orang yang memperdagangkan narkotika, seperti ganja (hashis), heroin, dan sejenisnya, dianggap sebagai tindak kejahatan. Pelakunya akan dikenakan sanksi jilid dan  penjara selama 15 tahun lamanya ditambah dengan denda yang ditetapkan oleh qadhi. ( nidzom al uqubat hal. 272).

Kedua, sistem Islam menjamin pemenuhan kebutuhan pokok setiap individu ( papan, sandang, dan pangan) dan kebutuhan dasar masyarakat ( pendidikan, layanan kesehatan dan keamanan) akan dijamin oleh Negara sehingga alasan ekonomi untuk terlibat dalam kejahatan ini tidak akan ada. Maka solusi terbaik untuk mencegah (preventif) dalam maraknya perdagangan narkoba adalah tegaknya sistem Islam. Wallahua’lam bishowab. (***)

Tentang Penulis: admin

Gambar Gravatar
PT Kalosara Media Sultra | Penerbit www.kalosaranews.com merupakan anggota Serikat Media Siber Indonesia (SMSI) Sulawesi Tenggara (Sultra) serta tergabung dalam jaringan Siberindo.co