Masjid Haghia Sophia, Simbol Kekuatan Khilafah yang Meruntuhkan Kesombongan Tirani

Ema Fitriana Madi
Ema Fitriana Madi


Oleh : Ema Fitriana Madi (Pemerhati Sosial dan Media)


MasyaAllah, Allahuakbar. Tak terbendung haru biru perasaan kaum muslimin. Setelah 86 tahun
lamanya ditutup, masjid bersejarah berusia 1500 tahun itu, yang menjadi salah satu bukti
gemilangnya jejak peradaban Islam pada masa Khilafah, bukti janji Allah melalui kemenangan
tentara terbaik dibawah kepemimpinan sulthan Muh. Al Fatih, yang kemudian menjadi tempat
kaum muslimin hari ini menyimpan berjuta kerinduan kini pertama kalinya mengadakan shalat
Jumat pada Jumat kemarin (24/7/2020, kompas.com). Ialah Masjid Haghia Sophia atau aya
sofya.

Setelah pengadilan administrasi tertinggi Turki pada 10 Juli 2020 memutuskan bahwa museum
yang dulunya sebuah masjid yang dibangun di katedral dapat diubah menjadi masjid lagi
dengan menganilasinya. status sebagai museum. Pengadilan mendengar argumen para pihak
pada sidang 2 Juli sebelum mengeluarkan keputusannya. Menurut putusan pengadilan penuh,
Hagia Sophia dimiliki oleh sebuah yayasan yang didirikan oleh Sultan Ottoman dan
diperuntukkan kepada masyarakat sebagai sebuah masjid. Kemudian, hanya satu jam setelah
putusan pengadilan diturunkan, Presiden Tayyip Erdogan mengumumkan terbukanya kembali
Hagia Sophia menjadi rumah ibadah kaum muslimin, yang disebutkan bahwa beliau
mengesampingkan peringatan internasional untuk tidak mengubah status monumen.
(11/7/2020, republika.com)

Barat Ketar Ketir akan kembalinya "The Next Conquest"
Sontak putusan pengadilan dan sikap Erdogan ini menuai kepanikan dari sejumlah pihak dan
terlebih lagi negara barat tentunya. Melalui sumber tempo.com, 11 Juli 2020, Pejabat Gereja
Ortodoks Rusia, Vladimir Legoida. Dia mengaku sangat kecewa atas keputusan itu. "Sangat
memalukan bahwa keprihatinan Gereja Ortodoks Rusia dan gereja-gereja Ortodoks lainnya
tidak didengar. Keputusan ini tidak ditujukan untuk merekonsiliasi perbedaan yang ada, tetapi
sebaliknya, dapat menyebabkan perpecahan yang lebih besar,” kata Vladimir Legoida seperti
dikutip dari Reuters, Sabtu, 11 Juli 2020.
Menteri Kebudayaan Yunani, Lina Mendoni. Dia menyebut keputusan ini sebagai bentuk
provokasi. "Keputusan hari ini, yang datang sebagai hasil dari kemauan politik Presiden
Erdogan, adalah provokasi terbuka kepada dunia beradab, yang mengakui keunikan dan sifat
ekumenikal dari monumen itu.
Kepala Kebijakan Luar Negeri Uni Eropa, Josep Borrell. “Keputusan oleh Dewan Negara Turki
untuk membatalkan salah satu keputusan penting dari Turki moderen dan keputusan Presiden
Erdogan untuk menempatkan pengelolaan monumen ini dalam manajemen direktorat Urusan
Agama disayangkan," kata dia.
Juru bicara kementerian Luar Negeri Amerika Serikat, Morgan Ortagus. Dia mengatakan
pemerintah AS merasa kecewa dengan putusan pengadilan dan pemerintah Turki. “Kami

merasa kecewa dengan keputusan pemerintah Turki untuk mengubah status dari Hagia Sophia.
Kami menyadari pemerintah Turki tetap berkomitmen untuk mempertahankan akses ke Hagia
Sophia bagi semua pengunjung,” kata Ortagus dari Amerika.
Kembalinya Fungsi Haghia Sophia ini menjadi Masjid benar-benar menimbulkan ketakutan pada
dunia barat. Sejarah bangunan Haghia Sophia adalah bukti kongkret kekuatan Islam dalam
meruntuhkan kekuatan digdaya barat. Penaklukan kota konstantinopel sungguh telah
mencengangkan dunia dan takkan bisa dihapus jejak kehebatan kisahnya.

Pada 6 April 1453, sekitar 80.000 prajurit merapatkan barisannya di bawah panji Islam yang
dipimpin oleh Sultan Muhammad al Fatih. Pasukan perang Muhammad Al-Fatih (Kekaisaran
Ottoman) bekerja keras ketika menaklukan Konstantinopel. Begitu rumit, sulit, dan
menegangkan. Tembok Konstantinopel selama ratusan tahun tak pernah ada yang berhasil
menembusnya. Dengan lebar tembok pertahanan yang berlapis lapis nan tebal dan setinggi 18
meter, tentu menjadi masalah tersendiri bagi pasukan Muhammad Al-Fatih.

Tapi Allah berkehendak lain, pasukan Muhammad Al-Fatih adalah pasukan terbaik umat Islam
sepanjang sejarah. Pasukan ini pun dikehendaki Allah membuat meriam terbesar dan terkuat
saat itu. Sekali tembak daya hancurnya sangat luar biasa.

Perang ini tercatat juga sebagai salah satu perang penaklukan kota terlama dalam sejarah
manusia.Tentu yang paling fenomenal dalam kisah penaklukan ini adalah ketika pasukan Al-
Fatih mengangkat 70 kapal laut nan besarnya kedataran dengan menggunakan kayu
gelondongan dan minyak agak mudah digerakan, pindah dari satu laut ke laut lain dalam 1
MALAM! Luar biasa. Musuh Islam terkaget-kaget, Muhammad al-Fatih layaknya menjadikan
daratan menjadi lautan. Musuh Islam mengira ini mustahil dan pasti semua karena bantuan jin.
Tapi itulah, dengan berbekal ketakwaan pada Allah semua yang tak mungkin menjadi mungkin.
Sastrawan Yoilmaz Oztuna : “Tidaklah kami pernah melihat atau mendengar hal ajaib seperti
ini. Muhammad Al Fatih telah menukar darat menjadi lautan dan melayarkan kapalnya
dipuncak gunung. Bahkan usahanya ini mengungguli apa yang pernah diilakukan oleh Alexander
The Great”.

Dan momen paling indah adalah ketika Muhammad Al-Fatih masuk ke dalam bangunan
terindah di Konstantinopel yang kita kenal dengan nama “Hagia Sophia”, disana sudah
berkumpul masyarakat setempat yang ketakutan akan dibunuh oleh umat Islam. Namun Al-
Fatih tersenyum dan berkata, “Kalian bebas untuk terus bersama dengan agama kalian.” Lakum
dinukum waliadiin, dan Al-Fatih menggendong salah satu anak kecil dari Ibunya, dan semua
berakhir indah. Semua merasa tenang dan nyaman dengan apa yang umat Islam lakukan
terhadap mereka.

Gelora ummat Menyongsong Tatanan Dunia Baru dalam Naungan Khilafah
Perubahan fungsi Hagia Sophia dari museum menjadi masjid memang mengundang
kontroversi. Terlepas dari adanya unsur politik pragmatis didalamnya, kembalinya fungsi Haghia
Sophia menjadi Masjid makin membuka mata dunia terhadap bayang-bayang kembalinya

tantanan kehidupan dibawah naungan Khilafah, yang pasti akan kembali lagi. Telah lama
ummat merindukannya, sebagaimana telah lama ummat merindukan kehidupan yang aman
dan tentram dari gangguan para penjajah kapitalis maupun komunis.

Janji dan pertolongan Allah itu pasti akan terjadi. Begitulah, terealisir kabar gembira Rasulullah
saw yang ada di dalam hadits beliau dari Abdullah bin Amru bin al-‘Ash, ia berkata: “sementara
kami ada di sekitar Rasulullah saw, kami sedang menulis, ketika Rasulullah saw ditanya, “kota
manakah dari dua kota yang ditaklukkan lebih dahulu, Konstantinopel atau Roma?” Maka
Rasulullah saw bersabda: “Kotanya Heraklius ditaklukkan lebih dahulu, yakni Konstantinopel”.
Semoga kebangkitan dalam naungan Khilafah segera terwujud dan semoga kita semua bisa
menjadi bagian dari perjuangan yang mulia ini, aamiin Yaa Rabbal 'alamiin.
Wallahua bisahowwab.


error: Hak Cipta dalam Undang-undang