, , ,

Melirik Potensi Pariwisata Sultra

Hasrianti
Hasrianti

Oleh: Hasrianti

 (Mahasiswa P.Kimia UHO)

Setiap daerah memiliki potensi wisatanya masing-masing, bahkan ada yang memiliki potensi besar namun belum disentuh agar menjadi daya tarik wisata yang mengagumkan. Potensi pariwisata merupakan kemampuan dalam suatu wilayah yang mungkin dapat dimanfaatkan untuk pembangunan, seperti alam, serta hasil karya manusia itu sendiri.

Sulawesi tenggaramerupakan daerah yang memiliki potensisumber daya alam yang melimpah, banyak potensi pariwisata yang dapat memanjakan mata. Mengagumkan, tentu saja menjadi kata yang paling tepat untuk menggambarkan hal tersebut. Pasalnya hampir setiap tahun data tujuan pariwisata Sultra terus bertambah, baik pariwisata alam, kuliner  maupun kebudayaan.

Namun, dari banyaknya potensi tersebut apakah dapat menjadi kabar baik bagi pertumbuhan ekonomi daerah terkhusus bagi masyarakat, ataukah justru sebaliknya tidak mampu dikelola secaraefektif ?Seharusnya dapat memberikan dorongan kemajuan ekonomi  bagi Sultra,  dan secara otomotis akan membuka lapangan pekerjaan yang baru bagi masyarakat sekitar wisata.

Pemerintah dan Pengelolahan Pariwisata

Dilansir olehwww.sultrakini.comKendari,Potensi pariwisata Provinsi Sulawesi Tenggara dinilai sangat besar dan mampu menghidupkan ekonomi masyarakat secara keseluruhan. Sektor ini pula yang akan tetap menjaga kehidupan flora dan fauna, serta kultur budaya dan adat istiadat masyarakat Sultra (8/2/2019).

Pemerintah provinsi belum melihat potensi ini untuk menjadi leading sektor pembangunan daerah di Bumi Anoa. Padahal pemerintah pusat pun sudah menetapkan pariwisata sebagai salah satu sumber utama pendapatan Negara. Sebagaimana dilansir oleh www.kabarbisnis.com – Sulawesi Tenggara (Sultra) memang kaya destinasi, kaya daya tarik dan kaya potensi wisata. Sayangnya, limpahan kekayaan itu belum terangkat ke permukaan.

Pemprov Sultra hanya mengandalkan hasil tambang nikel, aspal dan emas, tanpamengoptimalkan aspek pariwisata. Tapi kini kesadaran akan hal tersebut mulai muncul, terlebih lahan pertambangan semakin menyusut, eksplorasi berkurang.Tak ada jalan lain, pariwisata mulai dilirik dan jadi titik perhatian. Bahkan menjadi harapan baru bagi Sultra untuk mengeruk devisa.

BACA JUGA :   Polda Sultra Akan Bangun Kantor Baru Polsek Routa

Menurut Ketua Dewan Pimpinan Daerah Gabungan Industri Pariwisata Indonesia (DPD GIPI) Provinsi Sulawesi Tenggara, Ir. Hugua, sektor pariwisata merupakan arah pembangunan paling ideal bagi daerah ini. Sebab selain tidak merusak lingkungan dan menjaga kultur budaya, keunikan yang dimiliki Sultra tidak ada di bagian dunia lainnya. Sektor pariwisata juga dapat menggerakkan ekonomi masyarakat dari berbagai sektor.

Sultra memiliki spot pariwisata antara lain Segitiga Karang Dunia di Wakatobi, Goa Liangkobori di Muna, Air Panas Wawolesea di Konawe Utara, Sungai Terpendek Dunia Tamborasi di Kolaka, Rawa Aopa yang mencakup tiga kabupaten (Konawe Selatan, Bombana, Kolaka Timur), 1000 Goa di Buton Tengah, Pulau Ular di Buton Selatan, Pulau Kabaena di Bombana, hingga Air Terjun di Wawoni. Sedangkan dari segi kebudayaan yaitu festival keraton di Bau-bau dan sekitarnya, festival adat Wakatobi, pesta rakyat Tolaki, layangan Kaghati yang tertua di dunia dan tradisi perkelahian kuda ada di Muna, tenunan khas, tarian hingga kuliner yang tak dimiliki suku di belahan dunia manapun kecuali Sulawesi tenggara. Ada Kambuse, Kasoami, Sinonggi, Kabuto, dan lainnya.

Beberapa tempat wisata terlihat kumuh dan tak terawat, hal ini perlu perhatian yang serius. Dilansir oleh www.zonasultra.com – Tebing Sawapudo wisata climbing Konawe terabaikan, masyarakat setempat hanya menerima janji manis Pemerintah  akan mendatangkan PAD bagi daerah. Sedangkan destinasi wisata yang lainnya terhambat oleh akses dan fasilitas yang layak.

Disisi lain objek wisata yang ada malah semakin membuka luasnya praktik zina, menimbulkan  kerusakan alam akibat tangan jahil pengunjung, sampah-sampah yang berserakan ini justru akan perlahan merusak alam. Kurangnya pengawasan sebagai akibat dari ketidakaturan pengelolahan pariwisata di Sultra itu sendiri.

BACA JUGA :   BPK Perwakilan Sultra Gelar Goes To Campus

Sangat diharapkan Pemerintah Sultra untuk memperjelas roadmap pembangunan daerah, terutama dari aspek yang berpotensi dan melakukan pengawasan terhadap keluar masuknya wisatawan baik domestik maupun mancanegara.  Pemerintah harus bisa mengelola dengan baik seluruh sumber daya alam termasuk destinasi wisata sebagaimana ciptaan Allah s.w.t yang harus di jaga dan dilestarikan.

 Sejatinya, untuk menjaga kualitas ekonomi masyarakat bukan hanya sebagian potensi yang dikembangkan, akan tetapi seluruh aspek potensi alam yang ada. Diharapkan dengan pengelolaan yang efektif dapat membantu idealnya pembangunan daerah. Semua itu tak terlepas dari peran Pemerintah dalam mengatur stabilitas Negara. Sistem kapitalisme telah menjadi faktor dari kesemerawutan pengelolahan pariwisata.

Islam  Dan Pariwisata

Islam  juga dianjurkan untuk berwisata tetapi tidak melanggar perintah dan larangan Nya, tidak dengan tujuan menghabiskan uang ataupun mengunjungi wisata yang menyajikan hal haram. Hal ini tentu saja sangat positif. Seorang mukmin diharapkan akan semakin bersyukur dan mendapatkanbanyak hikmah serta pelajaran dari berbagai kejadian yang dihadapinya.

Sebagaimana firman Allah s.w.t,

هُوَ ٱلَّذِي جَعَلَ لَكُمُ ٱلۡأَرۡضَ ذَلُولٗا فَٱمۡشُواْ فِي مَنَاكِبِهَا وَكُلُواْ مِن رِّزۡقِهِۦۖ وَإِلَيۡهِ ٱلنُّشُورُ

“Dialah yang menjadikan bumi itu mudah bagi kamu, maka berjalanlah di segala penjurunya dan makanlah sebahagian dari rezeki-Nya. Dan hanya kepada-Nya-lah kamu (kembali setelah) dibangkitkan.” (Qs. Al-mulk: 15).

Objek wisata alam dapat menjadi sarana dakwah. Sementara objek wisata yang merupakan peninggalan bersejarah dari peradaban lain, maka dalam Islam ada dua kebijakan. Pertama, jika objek tersebut merupakan tempat peribadatan kaum kafir maka harus dilihat, jika masih digunakan maka akan dibiarkan. Tetapi tidak boleh di renovasi, jika mengalami kerusakan. Namun, jika sudah tidak digunakan lagi, maka objek tersebut akan ditutup atau bahkan dihancurkan.

BACA JUGA :   Jarah Uang Rp 40 Juta, Darius dan Safrianto Diamankan Polisi

Kedua, jika objek tersebut bukan tempat peribadatan maka akan dihancurkan karena didalamnya terdapat patung makhluk hidup manusia dan binatang, karena bertentangan dengan peradaban Islam. Disisi lain bisa juga dirubah menjadi tempat yang bernuansa berbeda. Sebagai contoh ketika terjadi penaklukan kota kontantinopel oleh Sultan Muhammad Al Fatih, beliau dan pasukannya menaklukan konstatinopel gereja Aya shopia dirubah menjadi masjid. Gambar dan ornamen khas agama kristen di hapus. Setelah itu, baru bisa digunakan untuk melaksanakan sholat Jumat.

Meski bidang pariwisata menjadi sumber devisa, akan tetapi tidak boleh dijadikan sebagai sumber perekonomian suatu negara atau aerah. Bukan pula sebagai eksploitasi  lahan bisnis ekonomi bagi individu, objek wisata dikelola langsung oleh negara, dan menerapkan kebijakan bagi wisatawan domestik maupun mancanegara.

Dengan demikian dalam Islam, Negara tetap berperan penting dalam menjaga kemurnian Islam dari berbagai  invasi budaya yang datang dari luar. Pada saat yang sama, justru keberadaan objek pariwisata dapat dijadikan sarana dakwah bagi sesama muslim, dan menyebarkan Islam kepada wisatawan non islam. Begitulah kebijakan Islam dalam bidang pariwisata.

Akan tetapi seluruh kebijakan tersebut dapat terlaksana hanya dalam naungantatanan Islam.

Wallahu’alam bishowab. (***)

Tentang Penulis: admin

Gambar Gravatar
PT Kalosara Media Sultra | Penerbit www.kalosaranews.com merupakan anggota Serikat Media Siber Indonesia (SMSI) Sulawesi Tenggara (Sultra) serta tergabung dalam jaringan Siberindo.co