Memaknai Bendera Rasulullah

Oleh : Dewi Sartika

(Komunitas Peduli Umat)

OPINI : Aksi Bela tauhid yang dilakukan oleh kaum muslim di berbagai daerah seperti Garut, Bandung, Lampung, Riau, Kendari dan lainya merupakan reaksi kemarahan kaum muslim, atas pembakaran bendera tauhid yang dilakukan oleh oknum Banser, pada peringatan Hari santri Nasional (HNS) lalu, bukan hanya bendera tauhid saja yang dibakar, tetapi juga ikat kepala yang ada lafaz tauhidnya.

Mereka berdalih melakukan pembakaran bendera tersebut, karena ingin menyelamatkan dan mencintai kalimat tauhid yang tercecer tersebut. Padahal dalam rekaman video yang beredar, bendera tersebut tidak tercecer melainkan dikibarkan. Mereka melakukan pembakaran bendera tersebut karena dianggap itu adalah bendera ormas tertentu.

Kemarahan kaum muslim semakin memuncak ketika oknum yang membakar bendera tersebut, tidak dijadikan tersangka oleh Polisi, sebagaimana hasil gelar perkara yang dilakukan oleh polda Jawa Barat dan Polres Garut terkait kasus dugaan pembakaran bendera bertuliskan lafaz kalimat Toyibah, atau yang dinyatakan polisi sebagai bendera Hizbut Tahrir Indonesia (HTI). Hasil gelar perkara polisi akhirnya menyatakan tidak bersalah kepada 3 orang pelaku pembakaran bendera di Garut itu, republika.co.id, Jakarta (25/10/2018).

Namun akibat dari kemarahan kaum muslimin yang lebih besar dengan mengelar aksi 211 yang menuntut pemerintah untuk menjatuhkan hukuman kepada para tersangka akhirnya kini oknum pembakar bendera tauhid tersebut dengan inisial F dan M keduanya dikenai tindak pidana ringan (tipiring).  Majelis hakim menjatuhkan hukuman 10 hari penjara dan denda Rp 2 ribu, detik.com (5/11/2018).

“Keduanya  telah terbukti secara sah dan meyakinkan bersalah dan dijatuhi kurungan 10 hari dan denda Rp 2 ribu,” ujar Hasanudin dalam jalannya sidang.

Aneh tapi nyata hukum di negeri ini yang mana tajam terhadap para pembela agama Allah, dan orang-orang yang kritis terhadap kebijakan pemerintah yang tak sesuai dengan kesejahteraan rakyat, tetapi tumpul terhadap pihak-pihak memiliki kepentingan dengan penguasa.

BACA JUGA :   Surunuddin Tak Diberi Formulir, DPD II Golkar Konsel Tak Patuh Aturan

Tindakan pembakaran bendera tauhid yang dilakukan oleh oknum Banser, yang mana mereka berdalih apa yang mereka lakukan untuk menghormati dan menjaga kalimat tauhid adalah tindakan yang sulit untuk diterima oleh akal sehat, sebab orang yang mencintai kalimat tauhid, seharusnya ia meninggikan dan memuliakannya sehingga kemenangan akan diraihnya.

Sebagaimana sabda Rasulullah  “Sungguh aku memberikan ar rayah ini kepada seseorang yang melalui tangannya di raih kemenangan. Ia mencintai Allah dan rasulnya, allah dan rasulnya pun mencintai dirinya” (HR. Bukhari dan Muslim).

Sesungguhnya bendera yang dibakar tersebut bukanlah bendera ormas tertentu  melainkan salah satu bendera Rasulullah yaitu ar-roya ia merupakan kain panjang berwarna hitam persegi empat dan tertulis lafaz la ilahailallah muhammad rasulullah.

Dalam hadisnya “royal Rasulullah berwarna hitam, persegi empat terbuat dari kain wol” (HR. At Tirmidzi dan An Nasa’i). Dalam hadis lainnya ditegaskan “royahnya Rasulullah SAW. Berwarna hitam dan liwa’nya berwarna putih tertulis padanya La Ilaha Illallah Muhammad Rasulullah ” (HR. At-tirmidzi Al Baihaqi,, ath Thabrani).

Bendera Rasulullah yaitu al liwa dan ar rayah bukan hanya sekedar menjadi simbol Islam belaka, namun ada makna mendalam dibalik bendera Rasulullah tersebut. Maknanya yaitu sebagai berikut. Pertama, bendera Aqidah Islam.

Mengapa dikatakan sebagai bendera Aqidah Islam? Karena dalam bendera tersebut terdapat lafadz lailahailallah muhammad rasulullah yang artinya tiada Tuhan selain Allah dan Muhammad utusan Allah.

Sehingga bagi siapa saja yang mengaku agama Islam, tentu ia akan meyakininya dalam hati, dan mengamalkannya dalam perbuatan. Karena kalimat ini pula yang membedakan Islam dengan kekufuran. Jika dalam hati seseorang ada keraguan sedikit saja dengan kalimat ini sungguh dia sudah dinyatakan kafir, kalimat ini pulalah yang akan menyelamatkan manusia baik di dunia maupun di akhirat.

BACA JUGA :   Uighur Menjerit: Dimana Negeri-Negeri Muslim ?

Kedua, bendera pemersatu umat. Jika suatu umat berada dibawah naungan kalimat tauhid, maka ia akan dipersatukan dengan ikatan aqidah. Karena mereka merupakan satu kesatuan yang tanpa dilihat lagi keanekaragaman bahasa, warna kulit, kebangsaan, ataupun mashab.

Imam Abdul Hayyi al Khattan menjelaskan bahwa “jika suatu kaum terhimpun di bawah bendera artinya bendera itu menjadi tanda persamaan pendapat kaum tersebut, juga tanda persatuan hati mereka, maka kaum itu akan menjadi bagaikan satu tubuh dan akan terikat satu sama lainnya dalam satu ikatan, bahkan jauh lebih kuat dari pada ikatan saudara yang masih satu kerabat”. Dengan demikian bendera al liwa dan ar roya bukan bendera ormas tertentu melainkan bendera umat Islam seluruh dunia.

Ketiga, bendera kewibawaan perang. Di dalam peperangan pasukan akan bangkit keberaniannya, ketika melihat benderanya masih berkibar karena itu menandakan pasukan yang dimilikinya masih kuat dan kokoh.

Mereka akan rela berkorban dan berusaha sekuat tenaga, untuk mempertahankan benderanya, agar tidak jatuh ke tanah sebagai simbol kekalahannya. Sebagaimana yang terjadi dalam perang mu’tah Zaid bin Haritsah mempertahankan ar royah Panji Nabi SAW yang diamanahkan kepadanya dan membawanya menuju ke jantung pertahanan musuh, hingga akhirnya tombak musuh merobek tubuhnya dan ia pun syahid, kemudian royah segera diambil alih oleh Ja’far bin Abi Tholib kemudian membawanya maju ke medan perang, pasukan romawi memotong tangan kanannya hingga ptus, namun giroh untuk mempertahankan bendera tersebut semakin tinggi, dia memegang dengan tangan kirinya, tapi lagi-lagi tangannya dipotong oleh pasukan musuh, kemudian dia pun memegang bendera dengan cara memeluknya, dan pasukan musuh pun kembali menebas tubuhnya dan ia pun gugur, lalu royah diambil Abdullah bin Rawahah dan ia pun maju ke dalam medan perang hingga akhirnya terbunuh dan syahid kemudian bendera diambil oleh Tsabit bin Akram, dan diberikan kepada Khalid bin Wlid, hingga Allah memenangkan perang tersebut.

BACA JUGA :   15 Pasien di RSUD Raha Positif DBD, Masyarakat Dihimbau Jaga Kebersihan Lingkungan

Keagungan Kalimat Tauhid.

Selain memiliki makna yang mendalam bendera dengan lafaz tauhid tersebut juga memiliki keagungan yaitu dapat menyelamatkan manusia di dunia dan di akhirat sebagaimana sabda rasulullah “siapa yang akhir ucapannya (sebelum wafat) adalah lailahaillallah muhammad rasulullah maka dia pasti masuk surga” (HR. Abu Dawud).

Dan pada hari kiamat nanti panji-panji sebagai simbol syahadat, akan dikibarkan oleh Rasulullah dan panji ini disebut Liwa al Mahdi “aku adalah pemimpin anak Adam pada hari kiamat dan tidak ada kesombongan. Di tanganku ada liwaul Hamdi dan tidak ada kesombongan. Tidak ada nabi pada hari itu adam dan lainnya kecuali di bawah liwa’ ku” (HR. at Tirmidzi).

Sungguh aneh jika ada seseorang yang mengaku sebagai Muslim kemudian mereka sendiri melecehkan dan membakar panji tauhid, oleh karena itu marilah kita lebih mengenali simbol-simbol Islam secara keseluruhan dan kita harus menjaga, memuliakan simbol-simbol tersebut. Wallahu A’lam Bishawab (***)

Tentang Penulis: admin

Gambar Gravatar
PT Kalosara Media Sultra | Penerbit www.kalosaranews.com merupakan anggota Serikat Media Siber Indonesia (SMSI) Sulawesi Tenggara (Sultra) serta tergabung dalam jaringan Siberindo.co