, , , ,

Membangun Tradisi Literasi untuk Pemuda Milenial

Asman Budiman
Asman Budiman

Oleh : Asman Budiman

(Wartawan Kalosara News)

Literasi merupakan kualitas atau kemampuan melek huruf/ aksara yang didalamnya meliputi kemampuan membaca dan menulis. Literasi juga kadang di sebut kemampuan seseorang dalam mengelolah dan menyaring informasi sehingga terdapat kesimpulan yang sifatnya ilmiah.

 Literasi pada hakikatnya merupakan sekumpulan atau seperangkat kemampuan dan keterampilan dalam memahami , menganalisis dan mendekonstruksi pencitraan media. National Institute for Literacy mendifinisikan literasi sebagai kemampuan individu untuk membaca menulis, berbicara mengjitung dan memecahkan masalah pada tingkat keahlian yang di perlukan dalam pekerjaan keluarga dan masyarakat.[1]

Beberapa  definisis mengenai literasi di atas dapat kita menarik kesimpulan bahwa literasi merupakan seperangkat alat yang di dalamnya terdapat potensi yang dimiliki oleh manusia untuk dapat memecahkan suatu persoalan yang sesuai dengan pekerjaan yang kita geluti.

Literasi sangatlah penting, di karenakan literasi dapat memberikan pemahaman yang lebih terperinci dan tersusun secara sistematis sehingga literasi ini dapat menjadi suatu patokan atau dasar dalam memecahkan masalah.

Biasanya literasi ini kadang di alamatkan kepada para mujahid-mujahid pendidikan atau orang yang sedang menempu pendidikan baik itu di sekolah maupun di perguruan tinggi. Bahkan para mahasiswa ketika berdiskusi dikala tidak memiliki wawasan yang luas dapat kita pastikan berarti ia kurang membaca buku dan itu berkaitan dengan literasi, bahkan sebenarnya kadang disebut juga atas dasar apa sehingga kamu menjelaskan hal tersebut.

Kira-kira seperti itulah pertanyaan-pertanyaan yang di ajukan. Dan ini juga sesuai dengan beberapa definisi literasi yang saya jelaskan di atas tadi. Bahwa literasi itu adalah kegiatan membaca. Nah pertanyaan adalah bagaimana pemuda sekarang yang hidup di era mieinial zaman ke 3? Yang di mana zaman ini merupakan zaman yang kalau kita lihat perkembangan teknologi sangat canggih dan modern.

Olehnya itu sebelum kita menjawab pertanyaan di atas, perlu kita ketahui dulu apa sebenarnya definisi dari milenial itu, agar kita paham terkait dengan pembahasan tulisan ini.

Menurut Wikipedia milenial adalah kelompok demografi setelah generasi sebelumnya yaitu generasi dari zaman tahun 1000 sampai tahun 2000  dan sekarang merupakan generasi sebelum tahun tersebut. Generasi milenial kadang juga disebut sebagi generasi penganti dari generasi sebelumnya misalnya pengganti bapak itu biasa di sebut generasi milenial.

Penulis Elwood Carlson didalam bikunya the lucky few :between the greatest generation and the baby boom yang terbit pada tahun 2008 mendifinisikan milenial lahir pada di antara tahun 1983-2001 berdasarkan lonjakan kelahiran setelah tahun 1983 dan berakhir dengan perubahan politikdan social yang terjadi setelah peristiwa 11 september, pada tahun 2016 lembaga U.S pirg mendefinisikan milenial sebagai orang yang lahir antara tahun 1983 dan 2000.[2] Setelah kita melihat definisi di atas berarti kita sudah masuk sebagai generasi milenial. Sekarang kita dapat menjawab pertanyaan yang pertama tadi.

BACA JUGA :   Infrastruktur Jadi Usulan Prioritas di Musrenbang Tirawuta

Bagaimana pemuda sekarang yang hidup di era milenial dalam menghadapi tantangan perkembangan teknologi.? Sebagai generasi milenial tentunya jangan sampai ketinggalan zaman agar tak tersingkirkan dengan sendirinya. Pemuda hari ini harus mencontoh para tedahulu kita, misalnya Soekarno, Moh. Hatta, Habibi dan masing banyak lagi. Mereka telah mengharumkan nama baik Negara ini di kanca internasional, semangat mereka sangat ber api-api.

Kenapa mereka bias seperti itu.? Karena mereka membudayakan tradisi literasi itu, sehingga pengetahuan dan cara mereka mengatasi berbagai persoalan semua itu karena literasi. Tentunya tantangan kita hari ini karena melihat di zaman ini para pemuda tidak lagi mengetahui apa itu literasi, pada hal perkembangan teknologi sudah dapat membantu kita dan memudahkan kita dalam segala hal.

Seperti tema yang di angkat oleh panitia sekolah literasi UKM-PERS IAIN Kendari “leiterasi dalam gengaman pemuda milenial” ini menunjukan bahwa sebenarnya literasi sudah di gengaman para pemuda karena akses dan cara mendapatkannya sudah instan. Namun pertanyaannya kemudian adalah bagaimana cara kita membudayakan atau membangun tradisi literasi itu di kalangan pemuda sekarang.? Yang notabene nya pemuda sekarang hanya bermain dan bersenang-senang walaupun tidak semua pemuda seperti itu.

Bagaimana cara membangun budaya literasi di kalangan para pemuda milenial.? Menurut hemat berfikir saya, untuk membangun budaya literasi ini diperlukan kerjasama semua aspek lapisan masyarakat. Seperti dalam hadis Nabi Muhammad Saw mengatakan “setiap anak dilahirkan dalam keadaan fitrah (suci) dan membawa potensi masing-masing, tergatung orang tuannya apakah akan menjadikan ia majusi, nasrani, yahudi”.[3] Seperti dalam tulisan saya di blog IMM Sultra saya menjelaskan ketika anak salah jalan itu merupakan kesalahan yang pertama dilakukan oleh orang tua[4] .

jadi untuk membangun tradisi literasi hal yang paling utama adalah dari orang tua. Karena ketika orang tua sudah mampu mengontrol anaknya sejak kecil dan mengajarkannya membudayakan literasi baik itu membaca buku, mengejarkan tugas, maka yakin bahwa ketika dewasa hal ioni akan tertanam di benak seorang anak sehingga ia akan mengingat terus apa yang telah di ajarkan oleh orang tuanya, atau bias juga kita sebut dengan membiasakan. Yang kedua adalah di lingkungan sekolah. Kenapa harus sekolah.? Karena sekolah merupakan tempat anak atau para pemuda mencari ilmu pengetahuan.

BACA JUGA :   Mengancam Akan Menebas, Polsek Bondoala Amankan Pemuda Misterius

Di tempat ini perlu juga membudayakan literasi. Walaupun realita sekarang sekolah hanya lebih banyak memberikan human kepada seorang anak yang tak bermanfaat dari pada membudayakan literasi. Ketika budaya literasi ini telah di ajarkan dnegan baik dikalangan sekolah maka akan terus teringat di benak mereka mengenai budaya literasi yang mereka dapatkan disekolah.

Jadi perlu sekolah lebih menggiatkan budaya literasi ini. Ketiga adalah masyarakat sekitar karena di masyarakat juga penting untuk mengembangankan budaya literasi ini, agar pemuda ketika telah kembali kemasyarakat dapat bermanfaat makanya sebenarnya perlu lembaga kepemudaan seperti karang taruna ini perlu di aktifkan dan memberikan atau membudayakan literasi di kalangan masyarakat.

Saya pikir ketiga aspek ini perlu bersinergi agar budaya literasi di kalangan pemuda milenial ini dapat tercapai. Karena kalau melihat realita pemuda hari ini, sangat jauh dari harapan. Hampir tak ada lagi pemuda ketika berada di rumah mau belajar atau membaca buku.

Karena di sibukkan dengan gadget masing-masing, hamper tak ada lagi diskusi-diskusi di kalangan mahasiswa maupun siswa dan pemuda secara umum. Semua di sibukkan dengan kegiatan masing-masing yang tak berfaedah.

Membangun budaya literasi dikalangan pemuda milenial hari ini memang agak sulit karena untuk kembali digalakkan, dengan melihat realita hari ini. Olehnya saya sangat mengapresiasi panitia sekolah literasi ini terlebih UKM PERS IAIN yang telah mau kembali menggalkkan budaya literasi ini.

Terkhusus pemuda perlu kita kembali menghidupkan budaya literasi dan perlu mencontoh para pendahulu kita seperti Bung Karno, Bung Hatta, Habibi, Kasman Singgodimedjo, Hasyim Ashari, Ahmad Dahlan, dan sebaginya. Mereka adalah orang-orang literasi yang ada di Negara kita seharusnya kita banyak mencontoh kepada mereka karena Negara ini maju di karenakan literasi.

Saya tertarik ketika melihat organisasi ekstra kampus yakni IMM IAIN yang setiap sore membuka lapak baca buku gratis untuk para mahasiswa yang masih memiliki minat membudayakan literasi. Saya kira apa yang dilakukan oleh UKM PERS dan IMM IAIN Kendari ini perlu dicontoh oleh organisasi lain dan orang-orang yang masing memiliki minat untuk membuidayakan literasi di kalangan para pemuda milenial.

BACA JUGA :   Dinas Perhubungan Konsel Juarai Lomba Paduan Suara Tingkat OPD

Kembali ke pembahasan awal. Sebenarnya bukan hanya karena gadget atau teknologi yang menyebabkan budaya literasi di kalangan pemuda itu tidak lagi menjadi hal yang menyenangkan di kalangan pemuda. Beberapa penyebabnya juga bisa di karenakan belum terbiasa, belum termotivasi, dan sarana yang minim.

Olehnya itu selain tiga aspek yang berperan penting dalam membangun budaya literasi seperti yang saya jelaskan di atas, maka perlu adanya strategi yang jitu harus dilakukan oleh pemerintah, jangan hanya terfokus dalam pembangunan infrastruktur Negara, melainkan membangun budaya literasi itu yang perlu ditanamkan sejak dini. Ini di sebabkan juga oleh angka buta huruf di Indonesia masing tinggi, berdasarkan data pusat data Statistik Kemendikbud tahun 2015, angka buta huruf di Indonesia masih tinggi yang jumlahnya masih tinggi yang jumlahnya mencapai 5.984.075. orang. Data tersebut sangat memprihatinkan

Saya pikir untuk membangun budaya literasi pemuda di era milenial ini, seharusnya setiap orang harus mulai membiasakan diri untuk membangun budaya literasi karena hasil penelitian menunjukan Indonesia berada di paling rendah budaya literasi atau membaca di kalangan masyarakat.

Untuk menumbuhkan itu kembali maka mulai dari hal terkecil kita mulai membenahi. Olehnya itu semoga apa yang telah kita lakukan hari ini jangan perna merasa puas karena tantangan kedepan masih banyak lagi, di akibatkan oleh perkembangan zaman jangan sampai kita terlena dengan teknologi sehingga mengakibatkan kita lupa akan budaya literasi untuk pemuda milenial. Karena pemuda merupakan ujung tombak Negara kesatuan republic Indonesia.

Karena kemajuan dan kedaulatan bangsa Indonesia berada pada energy kekuatan pemudanya. Hari ini kita harus mampu memecahkan semua masalah yang dihadapi oleh Negara kita.

Akhirul kalam, jadikan budaya membaca sebagai kebutuhan hidup kita. Jadikan budaya membaca sebagai dan menulis sebagai kebutuhan yang primer sehingga dapat memberikan kita motivasi untuk berbuat

Membaca adalah perintah tuhan kepada manusia, maka siapa yang tak mau membaca berarti ingkar kepada tuhan (Ali Sutimin Pratama). (***)

 

Tentang Penulis: admin

Gambar Gravatar
PT Kalosara Media Sultra | Penerbit www.kalosaranews.com merupakan anggota Serikat Media Siber Indonesia (SMSI) Sulawesi Tenggara (Sultra) serta tergabung dalam jaringan Siberindo.co