Menakar Urgensi Dana Alokasi Khusus Fisik di Tengah Pandemi

Sartinah
Sartinah

Oleh : SartinahmRelawan Media, Member Amk


 

Pandemi Covid-19 belum menujukkan tanda-tanda-tanda akan berakhir. Dampaknya pun nyaris terjadi di semua sektor, termasuk pendidikan. Semua aktivitas belajar mengajar akhirnya berubah drastis. Sekolah yang biasanya dilakukan secara tatap muka, kini mesti dilakukan secara virtual.

 

Di tengah pandemi yang belum melandai, sektor pendidikan di Kota Kendari kebagian Dana Alokasi Khusus (DAK) Fisik dari pemerintah pusat senilai Rp32 miliar pada tahun 2020 ini. Hal ini pun telah disosialisasikan Dinas Pendidikan, Pemuda dan Olahraga (Dikmudora) Kota Kendari kepada 63 kepala sekolah TK, SD, SMP yang berada di Kota Kendari, terkait alokasi dana pada Kamis (23/7/2020) di salah satu hotel di Kendari. (zonasultra.com, 23/7/2020)

 

Dana tersebut akan digunakan untuk pembangunan sejumlah item di antaranya, rehap bangunan kelas baru, rehab toilet guru dan siswa, rehab ruang guru, pembangunan gedung UKS dan ruang inklusi. Hal ini sebagaimana yang telah disampaikan oleh Kepala Dikmudora Kota Kendari, Sartini Sarita.

 

Sementara itu, Wali Kota Kendari Sulkarnain Kadir yang juga berkesempatan hadir berpesan kepada para kepala sekolah yang hadir untuk mengarahkan gurunya agar lebih aktif dan kreatif menjadi tenaga pendidik penggerak apalagi dalam situasi pandemi corona. Menurutnya, corona menjadi langkah tepat untuk menentukan metodologi pembelajaran.

 

Proses belajar mengajar secara virtual dan berbagai problem yang membersamainya, tampaknya masih menjadi PR yang tak kunjung selesai. Dimana saat ini banyak para pelajar yang mengikuti sekolah secara virtual, tetapi masih terkendala biaya, kuota internet, dan juga kesiapan handphone android yang tidak semua siswa memilikinya. Hal ini pun berkelindan dengan kondisi ekonomi sebagian orangtua yang tidak stabil sebagai dampak merebaknya pandemi Covid-19.

 

Fakta tersebut mengindikasikan bahwa asupan dana alokasi untuk sektor pendidikan di tengah pandemi tampaknya menjadi salah sasaran. Pasalnya, masih ada hal yang seharusnya menjadi prioritas utama untuk disegerakan oleh pemerintah, yakni menyelesaikan problem siswa saat belajar daring.

 

Terpuruknya kondisi ekonomi di masa pandemi sudah cukup merisaukan orangtua dalam memenuhi kebutuhan sehari-hari. Ditambah lagi sekolah virtual kini turut menambah beban bagi banyak orangtua. Bagaimana tidak, sekadar memenuhi kebutuhan perut sehari-hari saja masih kesusahan, apatah lagi jika harus ditambah dengan biaya pulsa, kuota, dan biaya kebutuhan lainnya.

 

Dalam kondisi seperti ini, beban masyarakat tentu semakin bertambah berat sehingga butuh penanganan prioritas. Meski perbaikan sarana dan prasarana pendidikan juga menjadi hal yang penting demi kelancaran dan kenyamanan proses belajar mengajar. Namun, dalam kondisi belajar secara virtual seperti saat ini, terlebih di tengah pandemi yang entah kapan berakhir, kelengkapan fasilitas dan prasarana sekolah bukanlah hal yang terlalu urgen. Sebab, fasilitas tersebut kini belum dimanfaatkan.

 

Karut marutnya metode pembelajaran dan sistem pendidikan hari ini tak lepas dari sistem kapitalisme sekuler yang diterapkan saat ini. Kapitalisme menjadikan pendidikan sarat kepentingan termasuk kepentingan bisnis. Sedang sekularisme menjadikan pendidikan jauh dari membentuk ketakwaan, akhlak mulia, dan kepribadian Islam. Output dari pendidikan hari ini banyak ditekankan pada sains dan teknologi, tetapi minim pembentukan kepribadian Islam.

 

Padahal, kepribadian Islam harus tetap ditanamkan dalam diri setiap siswa baik saat sekolah langsung maupun secara virtual. Sebab, demikianlah tujuan pendidikan Islam yang tak akan berubah meski dalam kondisi merebaknya pandemi seperti saat ini. Sedangkan negara akan berupaya semaksimal mungkin memberikan pendidikan terbaik meski di tengah krisis atau pandemi.

 

Sungguh, umat membutuhkan sosok pemimpin yang benar-benar memiliki empati yang tinggi terhadap derita dan kesusahan rakyat. Begitu pun saat ini, dimana kebutuhan hidup semakin tinggi, pengangguran terus bertambah, pekerjaan kian susah didapatkan, ditambah lagi harus mengeluarkan biaya tambahan untuk sekolah daring.

 

Tercapainya pendidikan yang diidam-idamkan, gratis, dan berkualitas hanya akan terjadi dalamĀ  tatanan sistem Islam. Di dalamnya juga lahirĀ  para penguasa yang benar-benar berfungsi sebagai raa’in dan junnah. Artinya, penguasa yang benar-benar menjadikan rakyat sebagai prioritas dalam kepengurusannya, termasuk memenuhi kebutuhan dasar rakyat dalam sektor pendidikan.

 

Sebab, pendidikan merupakan kebutuhan dasar setiap individu. Sedangkan tujuan pendidikan Islam yakni membentuk kepribadian Islam anak didik yang mencakup pola pikir dan pola sikap. Olehnya itu, meski di tengah pandemi seperti saat ini, tujuan pendidikan tersebut tidak boleh dilemahkan.

 

Oleh karena itu, kebutuhan akan pendidikan gratis seharusnya tetap menjadi prioritas, bukan hanya sekadar memberi asupan dana untuk bangunan fisik pada saat banyak siswa dan orangtua menjerit karena kian tercekik biaya pulsa demi anak-anak mereka tetap bisa belajar.

Wallahu a’lam bishshawab.


 

error: Hak Cipta dalam Undang-undang