Mengenal Al-Liwa‘ dan Ar-Rayah

Oleh: Susiyanti, S.E

(Muslimah Media Konawe)

OPINI : Sudah beberapa pekan ini, masyarakat masih dihebohkan  dengan kasus pembakaran bendara tauhid yang dilakukan oleh anggota banser pada perayaan Hari Santri Nasional (HSN). Sebagaimana yang diungkapkan oleh  Mabes Polri Brigjen Dedi Prasetyo, “Terhadap tiga orang anggota Banser yang membakar, tapi tidak dapat disangka melakukan perbuatan pidana karena salah satu unsur yaitu niat jahat tidak terpenuhi.” (Republika.co.id, 25/10/2018).

Tidak hanya itu, menurutnya, faktor utama penyebab terjadinya tindakan pembakaran ini dan yang menimbulkan gangguan kegiatan peringatan HSN adalah tindakan laki-laki yang menyusup dan mengibarkan bendera HTI yang sudah dilarang sebelumnya. Tidak akan terjadi insiden ini, jika tidak ada tindakan laki-laki menyusup dan membawa bendera HTI. Lantas bendera apakah sebenarnya itu?

Pahami  Bendera

Kalau kita kembali menengok sejarah, maka kita akan temukan bahwa bendera yang dibakar itu bukan milik suatu ormas tertentu melainkan bendera tersebut milik kaum muslim. Sebagaimana bendera itu digunakan mulai dari zaman Rasulullah saw., hingga Khulafaur-Rasyidin sesudah beliau.

Menurut sebagian ulama seperti Imam Ibnul Atsir dalam kitabnya An-Nihâyah fî Gharîb al-Hadîts, juga Imam Ibnu Hajar dalam Fath al-Bari, Al-Liwa‘ dan ar-Rayah adalah sinonim (sama). Namun, pendapat yang râjih (lebih kuat), sebagaimana ditegaskan oleh Imam Ibnul ‘Arabi, al-Liwa‘ berbeda dengan ar-Rayah. Dalilnya adalah hadis dari Ibnu ‘Abbas ra. yang mengatakan, “Rayah Rasulullah berwarna hitam, sedangkan Liwa‘-nya berwarna putih.” (HR at-Tirmidzi dan Ahmad).

Imam Ibnul ‘Arabi berkata, “Al-Liwa` berbeda dengan ar-Rayah. Al-Liwa` diikatkan di ujung tombak dan melingkarinya. Ar-Rayah diikatkan pada tombak dan dibiarkan hingga dikibarkan oleh angin.” (Abdul Hayyi al-Kattani, Nizhâm al-Hukûmah an-Nabawiyyah [At-Tarâtib al-Idâriyyah], I/263).

BACA JUGA :   Pimpin Apel, Bupati Koltim Minta ASN Tingkatkan Attitude dan Etos Kerja

Mengungkap Makna dibalik Bendera

Pertama, sebagai lambang akidah Islam. Ini disebabkan karena pada al-liwa’ dan ar-rayah tertulis kalimat syahadat “laa ilaaha illallah Muhammad Rasulullah”, sebuah kalimat yang membesarkan Islam dan kekufuran, sebuah kalimat yang mampu menyelamatkan manusia di dunia dan akhirat.

Dalam hadis-hadis sahih yang diriwayatkan oleh Imam Ahmad, Tirmidzi, dan Thabrani dari Buraidah RA diterangkan bahawa, “Rayah Nabi SAW berwarna hitam dan liwa’-nya berwarna putih.” Ibnu Abbas RA menambahkan, ”Tertulis pada liwa’ Nabi SAW kalimat “laa ilaaha illallah Muhammad Rasulullah”. (Abdul Hayyi Al-Kattani, ibid., Juz I, hlm. 266).

Maka dari itu, sebagai simbol syahadat, maka tidak dipungkiri bendera tersebut akan dikibarkan oleh Rasulullah SAW kelak di Hari Kiamat. Bendera ini disebut Rasulullah SAW sebagai Liwa’ Al-Hamdi (bendera pujian kepada Allah). Rasulullah SAW bersabda,”Saya adalah pemimpin anak Adam pada Hari Kiamat dan saya tidak sombong. Dan di tanganku ada Liwa’ Al-Hamdi dan saya tidak sombong.” (HR Tirmidzi, no 3693, dari Abu Sa’id Al-Khudri RA).

Kedua, alat pemersatu umat Islam. Ini disebabkan karena kalimat “laa ilaaha illallah Muhammad Rasulullah” adalah kalimat yang mampu mempersatukan umat Islam sebagai satu kesatuan, tanpa melihat lagi perbedaan bahasa, warna kulit, kebangsaan, atau pun mazhab dan pemahaman yang ada di tengah umat Islam.

Ketiga, sebagai simbol kepemimpinan. Hal ini bertitik-tolak dari fakta bahwa al-liwa’ dan ar-rayah itu sering dibawa oleh komandan pasukan perang di zaman Rasulullah SAW dan para Khulafa` Rasyidin.

Misalnya semasa Perang Khaibar, Rasulullah SAW bersabda, ”Sungguh aku akan memberikan rayah ini kepada seorang lelaki yang mencintai Allah dan Rasul-Nya. Allah akan memberikan kemenangan kepadanya.” Umar bin Khathab berkata, “Tidaklah aku menyukai kepemimpinan kecuali hari itu.” (maa ahbabtu al imarah illa yaumaidzin). (HR Muslim, no 2405).

BACA JUGA :   Partai PAN Konsolidasi Pemenangan,Caleg Tandatangani Pakta Integritas

Keempat, sebagai pembangkit keberanian dan pengorbanan dalam perang. Makna ini khususnya akan dirasakan dalam jiwa pasukan dalam suasana perang. Karena dalam peperangan, pasukan akan muncul keberaniannya dan pengorbanannya selama mereka melihat benderanya masih berkibar-kibar. Pasukan akan berusaha sunguh-sungguh agar bendera tetap berkibar dan menjaga jangan sampai bendera itu jatuh ke tanah sebagai simbol kekalahan. (Abdul Hayyi Al-Kattani, ibid., Juz I, hlm. 267).

Imam Bukhari meriwayatkan bahwa yang memegang ar-rayah dalam Perang Mu`tah pada awalnya adalah Zaid bin Haritsah tetapi dia kemudian gugur. Ar-rayah lalu dipegang oleh Ja’far tetapi dia kemudiannya turut gugur. Ar-rayah pun berpindah tangan dan dipegang oleh Abdullah bin Rawwahah tetapi dia pun akhirnya gugur juga di jalan Allah. (HR Bukhari no 4014. Ibnu Katsir, Al-Bidayah wa An-Nihayah, Juz IV, hlm. 281).

Kelima, sebagai sarana untuk menggentarkan musuh dalam perang. Jika bagi diri sendiri bendera berfungsi untuk membangkitkan semangat dan keberanian, sebaliknya bendera bagi musuh menjadi sarana untuk memasukkan rasa gentar dan putus asa pada mereka. Imam Ibnu Khaldun dalam kaitan hal ini menyatakan, ”Banyaknya bendera-bendera itu, dengan berbagai warna dan ukurannya adalah untuk menggentarkan musuh.

Hukum Membakar Bendera Rasulullah

Pembakaran bendera tauhid yang di lakukan anggota Banser dengan berdalih bahwa bendera itu adalah bendara HTI, padahal itu adalah bendera kaum muslim, merupakan kemungkaran paling besar, dan termasuk pelecehan, penghinaan, dan penyerangan terhadap simbol-simbol Islam.

  Oleh karena itu,  pembakaran bendera Nabi saw dengan alasan bendera itu adalah bendera Hizbut Tahrir jelas-jelas merupakan alasan yang mengada-ada, penuh kedustaan, dan untuk menutupi kebusukan dan kejahatan mereka.  Hizbut Tahrir sendiri tidak punya bendera, dan tidak pernah mentasbihkan liwa` dan rayah sebagai bendera Hizbut Tahrir.

BACA JUGA :    Mengurai Persoalan LGBT

Di dalam Kitab Mutabannat, liwa dan rayah ditetapkan sebagai bendera Nabi saw dan bendera Daulah Islamiyyah, bukan bendera Hizbut Tahrir.  Adapun jika dalam prakteknya aktivis-aktivis

Tentang Penulis: admin

Gambar Gravatar
PT Kalosara Media Sultra | Penerbit www.kalosaranews.com merupakan anggota Serikat Media Siber Indonesia (SMSI) Sulawesi Tenggara (Sultra) serta tergabung dalam jaringan Siberindo.co