Mengucapkan Selamat Natal dan Tahun Baru Dapat Memurtadkan Pelakunya Dari Islam

Ketgam : Novida Balqis Fitria Alfiani
Ketgam : Novida Balqis Fitria Alfiani

Oleh : Novida Balqis Fitria Alfiani

 

Kabar yang cukup membuat publik heran. Ucapan selamat natal kepada umat kristiani menjadi kontroversial di kalangan MUI.  Ada yang mengharamkan ucapan selamat natal dan ada yang membolehkan ucapan selamat natal asalkan tidak mengikuti ritual peribadatannya.

Tidak akan terlupakan begitu saja, pada tahun 2012 lalu Ketua MUI KH. Ma’ruf Amin mengeluarkan fatwa haram mengucapkan selamat natal. “Umat Islam haram mengikuti perayaan Natalan bersama, karena mengandung unsur ibadah, sehingga akan merusak aqidah dan keimanan umat Islam. Bahkan ucapan Selamat Hari Natal, jangan sampai diucapkan oleh umat Islam. Adapun yang diperbolehkan ucapan Selamat Tahun Baru 2013,” pernyataan Ketua MUI KH. Ma’ruf Amin dalam jumpa pers di kantornya di Jalan proklamasi nomor 51, Jakarta Pusat, Rabu (19/12/2012). (arrahmah.com, 20/12/2012)

Namun, Ketua MUI KH. Ma’ruf Amin justru mengucapkan selamat natal pada tahun ini. Seperti yang dilansir dari duta.co, pada 24/12/2018 KH. Ma’ruf Amin mengucapkan selamat natal melalui video pendek.“Saudara-saudara kami dari kaum Kristiani, kami sampaikan selamat hari natal dan tahun baru, semoga berbahagia,”

Juga dilansir dari tangerangnews.com (21/12/2018) Ketua MUI Kota Tangerang memperbolehkan umat Islam mengucapkan selamat natal, asalkan tidak ikut dalam ritual ibadahnya. “Saya bilang kalau itu sifatnya ibadah dan acara ritual jangan ikut. Tapi kalau menyampaikan ucapan selamat natal mah tidak masalah,” ujar KH. Edi Junaedi di Mapolres Metro Tangerang, Jum’at (21/12/2018)

Pernyataan diatas adalah bukti ketidak konsistennya MUI saat ini. Fatwa yang diucapkan beberapa tahun lalu berbeda dengan fatwa yang dikeluarkan pada tahun ini.

Padahal mengucapkan selamat natal kepada umat Kristiani akan mengiris akidah kita. Ucapan selamat natal sama saja kita mengakui bahwa Tuhan adalah nabi Isa, dan mengakui seluruh ajaran Kristiani. Yang hal itu mengakibatkan murtadnya seorang muslim dari agama Islam. Oleh karena itu, fatal akibatnya mengucapkan selamat natal meskipun hanya dengan ucapan. Bukankah syarat seseorang masuk Islam juga karena ucapan syahadat?

BACA JUGA :   Rata-rata Waktu Bercinta Pasangan dari Berbagai Penjuru Dunia

Seperti firman Allah SWT dalam Al-Qur’an Surah Al-Kafirun :

قُلْ يَا أَيُّهَا الْكَافِرُ‌ونَ ﴿١﴾ لَا أَعْبُدُ مَا تَعْبُدُونَ ﴿٢﴾ وَلَا أَنتُمْ عَابِدُونَ مَا أَعْبُدُ ﴿٣﴾ وَلَا أَنَا عَابِدٌ مَّا عَبَدتُّمْ ﴿٤﴾ وَلَا أَنتُمْ عَابِدُونَ مَا أَعْبُدُ ﴿٥﴾ لَكُمْ دِينُكُمْ وَلِيَ دِينِ ﴿٦

“Katakanlah : Hai orang-orang kafir, (1) Aku tidak akan menyembah apa yang kamu sembah, (2) Dan kamu bukan penyembah Rabb yang aku sembah, (3) Dan aku tidak pernah menjadi penyembah apa yang kamu sembah, (4) dan kamu tidak pernah (pula) menjadi penyembah Rabb yang aku sembah, (5) Untukmu agamamu, dan untukkulah agamaku (6)”. (QS. Al-Kafirun: 1-6)

Begitu pula dengan mengucapkan selamat tahun baru kepada orang-orang yang merayakannya, tetaplah tidak diperbolehkan dalam Islam. Karena tahun baru adalah perayaan umat Kristiani dan Yahudi, yang seharusnya tidak dilakukan oleh umat Muslim. Karena efeknya akan sama dengan mengucapkan selamat natal pada umat Kristiani. Dapat membuat umat Muslim murtad dari Islam.

Hal ini dikarenakan pada awalnya perhitungan Orang Romawi terbagi menjadi 10 bulan, kecuali Januari dan Februari. Penanggalan yang terdiri dari 10 bulan kemudian berkembang menjadi 12 bulan. Yang terdapat tambahan 2 bulan, yaitu Januarius dan Februarius. Januarius adalah nama dewa Janus. Dewa Janus ini berwajah dua, menghadap muka dan belakang, hingga dapat memandang masa lalu dan masa depan. Oleh karena itu Januarius ditetapkan sebagai bulan pertama. Sedangkan Februarius diambil dari acara Februa, yaitu upacara semacam bersih kampung atau ruwatan untuk menyambut kedatangan musim semi. Karena itu Februarius menjadi bulan kedua, sebelum datangnya musim semi pada bulan Maret.

BACA JUGA :   Penginapan Sriwijaya Unaaha Renggut Nyawa, Korban Baru Mau “ Gituan ” dengan PSK

Dan saat Julius Caesar berkuasa, ia menerima anjuran dan saran dari para ahli perbintangan Mesir untuk memperpanjang tahun 46 SM menjadi 446 hari dengan menambah 23 hari pada bulan Februari dan menambah 67 hari antara bulan November dan Desember. Setelah kembali dari Roma, Julius Caesar memutuskan agar setahun berumur 365 hari. Karena bumi mengelilingi matahari selama 365,25 hari. Juga setiap 4 tahun sekali, umur tahun tidak 365 hari, akan tetapi 366 hari yang disebut tahun kabisat. Tahun kabisat ini sebagai penampungan kelebihan 6 jam pada setiap tahun. Sehingga dalam 4 tahun menjadi 4×6=24 jam atau 1 hari.

Demikian sejarah singkat tahun masehi yang seharusnya tidak perlu sebagai umat Muslim untuk mengucapkan selamat tahun baru. Karena dari asal nama bulan di tahun Masehi menggunakan nama dewa di Romawi.

Sebenarnya pelarangan dalam mengucapkan selamat natal dan tahun baru adalah tugas negara dan pemerintah dalam menjaga akidah umat Muslim di negeri ini. Sistem demokrasi saat ini begitu membuat masyarakat bingung dengan fatwa-fatwa yang berubah-ubah dari tahun ketahun. Secara tidak sadar, pemerintah negeri ini menjebak masyarakat sendiri dalam kubangan dosa, bahkan jatuh pada kemurtadan. Padahal, sudah menjadi tugas pemerintah dalam menjaga akidah umat dari kesesatan.

Berbeda dengan penerapan sistem Islam yang benar-benar menjaga akidah umat. Karena sistem Islam akan berpatokan pada filosofi. Bahwa Islam itu tinggi, dan tidak ada yang bisa menandingi ketinggian Islam. Sehingga para ulama pada sistem Islam melarang pengucapan selamat kepada kaum Kristiani baik secara pribadi apalagi sebagai pejabat publik.

Begitulah toleransi dalam Islam. Islam menjaga dan melindungi agama dan keyakinan yang lain tanpa diusik, diprovokasi untuk meninggalkan agamanya. Namun, mereka (umat beragama selain Islam) juga tidak dibenarkan untuk mendemonstrasikan dan memprovokasi umat Islam untuk memeluk agama dan keyakinan mereka. Begitulah negara Khilafah memberi ruang kepada umat beragama lain. Sehingga sudah seharusnya bagi pemerintah negeri ini untuk menerapkan syariat Islam secara keseluruhan agar akidah umat terjaga. Wallahu A’lam (***)


Tentang Penulis: admin

Gambar Gravatar
PT Kalosara Media Sultra | Penerbit www.kalosaranews.com merupakan anggota Serikat Media Siber Indonesia (SMSI) Sulawesi Tenggara (Sultra) serta tergabung dalam jaringan Siberindo.co