,

Mengurai Polemik Pernikahan Dini

Nurhidayat Syamsir

(Mahasiswa Ilmu dan Teknologi Pangan UHO)

OPINI : “Pernikahan dini, bukan cintanya yang terlarang, hanya waktu saja belum tepat, merasakan semua…” kira-kira demikian kutipan lirik lagu “Pernikahan Dini” yang dipopulerkan dalam sebuah sinetron Indonesia. Ternyata bukan sekadar lagu yang diperankan dalam sinetron tetapi memiliki makna yang mencerminkan fakta nyata dari kehidupan sehari-hari.

Pernikahan dini hadir beserta polemik pro-kontra pandangan masyarakat yang beragam. Pasalnya tidak hanya berita suramnya kehidupan rumah tangga pelaku pernikahan dini yang berujung pada kekerasan namun disisi lain, sajian indahnya pernikahan dini juga tidak lepas dari perhatian masyarakat. Fenomena pernikahan memang selalu menarik perhatian.

Seperti yang dilansir oleh CNNIndonesia, Jakarta—Kematian Y, remaja asal Indramayu merupakan satu dari sekian banyak kisah pedih yang berhulu pada perkawinan anak. Y meninggal dunia pada September lalu telah memantik kembali isu perlindungan anak, khususnya perempuan, yang rentan terhadap ‘jebakan’ pernikahan dini (29/11/2018).

Meski atas dasar suka sama suka dan kedua orangtua belah pihak setuju dengan pernikahan tersebut, namun menurut Ketua Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI) Susanto menjelaskan bahwa pemicu pernikahan dibawah umur cukup kompleks.

Masalah Pernikahan Dini Jaman Now

Fenomena pernikahan dini yang berujung pada kematian seperti buah simalakama. Disatu sisi menghindari pernikahan dini dengan dalih diatas (kekerasan) tapi dari aspek lain fakta menunjukkan semakin menyeruaknya kasus kehamilan diluar nikah, aborsi dimana-mana, pergaulan bebas semakin merajai, sampai kasus kematian. Khofifah Indar Parawansa, menyebutkan pada tahun 2013 sebanyak 600.000 anak Indonesia usia 10-11 tahun dan 2,2 juta remaja Indonesia usia 15-19 tahun hamil diluar nikah. Naudzubillah.

Pernikahan dini dipandang sebagai ‘jebakan’ yang menyengsarakan utamanya bagi seorang perempuan. Kasus kekerasan yang dinilai berhulu pada perkawinan anak ini tidak lepas dari umur yang cukup kompleks, faktor budaya, ekonomi, pendidikan hingga atas dasar pemahaman agama.

BACA JUGA :   Bupati Konawe Minta Para Pengembang Wisata di Bokori Hentikan Aktivitas

Menilik polemik ini, tentunya jika memandang umur sebagai pemicu masalah kekerasan dalam pernikahan dini seharusnya sudah tidak ada lagi kasus kekerasan dalam pernikahan sesuai batasan umur yang telah ditetapkan pemerintah. Menurut  UU Nomor 1 tahun 1974 tentang Perkawinan, menjelaskan bahwa batas minimal usia perkawinan bagi perempuan adalah 16 tahun dan 19 tahun bagi pria.

Batas usia tersebut ditentukan dengan pertimbangan bahwa pada usia tersebut, seseorang dianggap sudah dewasa dan memiliki tanggung jawab dalam membina dan membentuk keluarga. Namun faktanya nihil, kasus kekerasan di Indonesia berdasarkan Data Pengadilan Agama menunjukkan terdapat 355.062 perceraian karena kekerasan terhadap isteri. Jakarta, CNNIndonesia (Kamis, 06/12.2018). Apakah batasan umur menuntaskan kekerasan? Tidak.

Begitu juga dengan pandangan rendahnya pendidikan yang dienyam anak untuk bekal dalam pernikahan sehingga mumpuni untuk menghindari kekerasan pada pernikahan. Lagi-lagi tingginya tingkat pendidikan tidak juga menjamin terhindarnya tindak kekerasan. Hal ini diperparah dengan tanggapan dari Ketua KPAI yakni “Agama tidak boleh dijadikan dalih. Pastikan usia anak mengakses pendidikan secara maksimal. Jika kendala biaya, pemerintah daerah harus bantu” ucap Susanto kepada CNNIndonesia.com, Selasa (27/11/2018). Menurutnya faktor agama kerap muncul dalam kasus perkawinan anak ketika alasan menghindari zina seperti kasus Y. Hal itu bukan dalih yang tepat sebab masih ada jalan lain yang bisa digunakan untuk menghindari zina.

Hal ini juga sejalan dengan ungkapan Anggota Komisi Nasional Anti Kekerasan terhadap perempuan, Magdalena Sitorus berpendapat bahwa banyak alasan yang perlu dicermati sebelum orangtua menikahkan anaknya. “Apakah ketika khawatir akan zina solusinya adalah pernikahan anak? Justru Pezinanya yang harus diselesaikan” sahut Magdalena.

Inilah kekeliruan yang mengakar dikalangan masyarakat. Kesalahan dalam memandang penyebab utama kekerasan dalam rumah tangga. Terlebih jika memandang pernikahan dini dengan alasan agama yang menjadi penyebab utama kekerasan pada perempuan. Virus sekularisme kian subur, yakni paham yang memisahkan agama dari kehidupan. Paham ini menganggap agama tidak berhak mengatur ataupun menjadi dalih manusia dalam bertingkah laku, termasuk dalam memutuskan pernikahan.

BACA JUGA :   Surunuddin Pimpin Pisah Sambut Kapolres Konsel

Paham ini dalam memandang dan memutuskan suatu hukum berdasarkan fakta yang terjadi. Sehingga wajar saja jika pandangan tentang pernikahan dini dihukumi sebagai fakta yang memunculkan tindak kekerasan, terlebih lagi meragukan agama (Islam) dalam kemampuan mengatur seluruh aspek kehidupan.

Pernikahan dalam Pandangan Islam

Pernikahan menurut hukum Islam yaitu akad yang sangat kuat atau mitsaaqqan ghaliidhan untuk menaati perintah Allah dan melaksanakannya merupakan ibadah. Rasululah Shallallahu’alaihi wassallam bersabda: Annikaahu sunnati faman raghiba ‘an sunnati falaisa minnii “Nikah itu sunnah ku, siapa yang membenci sunnahku maka bukan dari golonganku”.

Adapun tujuan perkawinan adalah keluarga sakinah mawaddah warohmah, yaitu keluarga tenteram saling berkasih sayang karena Allah, agar lestari keturunannya dalam ketaqwaan. Firman Allah QS. Ar rum: 21

“Dan di antara tanda-tanda kekuasaan-Nya ialah Dia menciptakan untukmu isteri-isteri dari jenismu sendiri, supaya kamu cenderung dan merasa tenteram kepadanya, dan dijadikan-Nya diantaramu rasa kasih dan sayang. Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda bagi kaum yang berfikir.”

Islam memandang anak-anak yang sudah baligh diperbolehkan untuk menikah. Mengapa demikian? Ini dikarenakan manusia yang sudah baligh dianggap sudah dewasa. Dia bukan anak-anak lagi. Dia sudah punya beban tanggung jawab terhadap dirinya sendiri. Hisab terhadap perbuatan juga sudah dimulai. Bagi laki-laki, dia harus sudah bisa mencari nafkah. Dan bagi perempuan, dia sudah belajar bagaimana menjadi istri dan ibu nantinya. Seorang suami dan istri tau peran masing-masing.

Maka dari itu didalam Islam pendidikan pra baligh menjadi sesuatu yang penting. Tentunya pernikahan yang disertai kesiapan dan ilmu yang menopang kuatnya pernikahan. Sehingga kekerasan dalam pernikahan hanya akan terjadi jika sebuah keluarga memisahkan peran agama dalam kehidupan. Pasalnya dalam agama Islam mengajarkan bagaimana menjadikan keluarga yang sakinah, mawaddah dan warahmah. Wallahua’lam bishawab.

Tentang Penulis: admin

Gambar Gravatar
PT Kalosara Media Sultra | Penerbit www.kalosaranews.com merupakan anggota Serikat Media Siber Indonesia (SMSI) Sulawesi Tenggara (Sultra) serta tergabung dalam jaringan Siberindo.co