Miras Kian Bebas, di Bombana Masih Tinggi


Oleh: Hamsia

(komunitas peduli umat)


Peredaran miras sudah sangat marak di Indonesia, karena aturannya masih longgar tantunya peredarannya masih masif. Jika menjelang pergantian tahun, dari hasil operasi kepolisian berhasil menyita ribuan botol minol diberbagai daerah. Belum lagi hampir tiap hari ada berita tindakan kriminal mulai dari pemerkosaan, pencurian, perampokan, pembunuhan, kecelakaan lalu lintas yang diakibatkan pengaruh miras.

Dampak miras begitu besar, tampaknya pemerintah dan wakil rakyat masih berat untuk melarangnya. Banyak alasan yang mendasarinya. Tapi yang paling menonjol adalah faktor ekonomi. Ada manfaat dari segi itu. Yakni keuntungan asli uang.

Badan Legislasi (Baleg) Dewan Perwakilan Rakyat (DPR) tengah menggodok draf RUU tantang larangan minuman berakohol (minol). Jika undang-undangan ini sampai disahkan, maka setiap orang yang memproduksi, menjual (penjual), menyimpan, maupun mengonsumsi alkohol bisa terancam pidana. Dengan kata lain, perdagangan dan konsumsi miras tak lagi bisa dilakukan sembarangan jika RUU tersebut diloloskan parlemen.

Peredaran miras yang marak berkolerasi positif terhadap meningkatnya jumlah kejahatan di tengah masyarakat. Catatan Humas Pengadilan Negeri (PN) Ambon mengungkapkan, 90 persen pelaku tindakan asusila atau pelecehan seksual, rata-rata karena sudah mengonsumsi miras.

Operasi singkat yang dilaksanakan sejak tanggal 20 November hingga 5 Desember 2020 tersebut telah berhasil menemukan banyak peredaran minuman keras (miras). Humas Polres Bombana, Ipda Tujianto, S. SH menyebutkan, berdasarkan temuan di tengah masyarakat, konsumsi dan peredaran miras masih tinggi (telisik.id, 5/11/2020).

Miras, apapun bentuknya dan berapa pun harganya, harus dilarang pembuatan dan peredarannya. Produsen-produsen miras kelas atas beromzet milliaran pun harus tegas dilarang keberadaannya.

Apa sebenarnya yang terjadi sehingga pemerintah tidak mampu menerima miras? Masalah utamanya, tidak ada regulasi setingkat undang-undang yang berlaku nasioanal dan mempunyai sanksi hukum yang tegas. Peraturan Menteri Perdagangan tentang pelarangan penjualan miras di minimarket tidak mampu untuk menghentikan laju peredaran miras, karena selain tidak komprehensif juga tidak ada sanksi berat apalagi denda dan pidana bagi yang melanggarnya.

BACA JUGA :   Gusli Tahan Tangis, Menyaksikan Fitriani Pengidap Penyakit Hydrocephalus

Inilah sekularisme yang merupakan induk demokrasi. Sekularisme mengajarkan pemisahan agama dari kehidupan publik. Nah, setelah kehidupan publik itu tidak diatur lagi dengan agama, lalu dengan apa kehidupan publik itu diatur? Di sinilah kemudian lahir demokrasi, yakni setelah agama dipisahkan dari kehidupan masyarakat, berarti manusia itu sendirilah yang membuat peraturan publik.

Tak heran, miras ini menimbulkan kekhawatiran di tengah masyarakat, khususnya para pendidik dan pemerhati generasi muda. Inilah sistem kapitalisme, yang dimana memberikan keuntungan banyak untuk negara dan asas manfaat yang paling utama, yang bisa memberikan banyak keuntungan. Tanpa peduli halal dan haram.

Secara kacamata agama, miras jelas sudah diharamkan. Tidak ada toleransi sedikit pun terhadapnya. Sedikit atau banyak sama, tetap haram. Nabi menyebut miras itu sebagai induk dari segala kejahatan. Dan itu  memang sesuai fakta. Gara-gara miras, orang bisa berbuat jahat apa saja karena akalnya telah rusak.

Dalam Islam, minuman keras adalah barang haram. Dalam pandangan Islam negara adalah penjaga rakyat dari segala macam tindakan maksiat. Negara tidak boleh memberikan ruang sedikit pun kepada rakyat melakukan perbuatan dosa. Karenanya negara, menutup semua pintu kemaksiatan.

Hanya saja pintu –pintu kemaksiatan ini tidak akan tertutup dengan rapat tanpa pelaksanaan syariah secara kaffah. Maka dari itu terlaksananya sistem Islam secara menyeluruh menjadi jalan mencegah kemaksiatan.

Sehingga memanfaatkan barang ini baik mengonsumsinya, mendistribusikannya dan lainnya adalah tindakan maksiat yang mendatang dosa. Rasul SAW bersabda: Allah melaknat khamr dan melaknat orang yang meminumnya, yang menuangkannya, yang memerasnya, yang minta diperaskan, yang membelinya, yang menujualnya, yang membawakannya, yang minta dibawakan, yang makan harganya (HR. Ah-mad).

Tentang Penulis: admin

Gambar Gravatar
PT Kalosara Media Sultra | Penerbit www.kalosaranews.com merupakan anggota Serikat Media Siber Indonesia (SMSI) Sulawesi Tenggara (Sultra) serta tergabung dalam jaringan Siberindo.co