Motif Korban Dalam Tindak Pidana Narkotika

Oleh : Asrandi

Humas DPC Permahi Kendari

Dewan Pimpinan Cabang Perhimpunan Mahasiswa Hukum Indonesia

 

Pasal 1 ayat (3) UUD NRI Tahun 1945 menyatakan Indonesia adalah negara hukum, oleh karenanya penyelenggaraan negara harus diinterpretasikan berdasarkan hukum yang berlaku.

Konsep negara hukum tersebutlah yang menjadi salah satu dasar pengaturan terkait tindak pidana narkotika sebagaimana yang tertuang dalam Undang-Undang Nomor 35 Tahun 2009 tentang Narkotika dan Psikotropika, dimana beberapa substansi pasalnya memberikan arti narkotika yakni “Narkotika adalah zat atau obat yang berasal dari tanaman atau bukan tanaman, baik sintetis maupun semisintetis, yang dapat menyebabkan penurunan atau perubahan kesadaran, hilangnya rasa, mengurangi sampai menghilangkan rasa nyeri, dan dapat menimbulkan ketergantungan, yang dibedakan ke dalam golongan-golongan sebagaimana terlampir dalam undang-undang ini (Vide, Pasal 1 Angka 1 Undang-Undang Nomor 35 Tahun 2009)”. 

Dalam Undang Undang tersebut, dipertegas dalam pasal 1 angka 15 bahwa “Penyalahguna adalah orang yang menggunakan narkotika tanpa hak atau melawan hukum”. Berdasarkan ketentuan tersebut secara sederhana dapat diartikan penyalahgunaan obat-obatan dalam tindak pidana narkotika adalah pemakaian obat-obatan atau zat-zat yang berbahaya dengan tujuan bukan untuk pengobatan atau  penelitian serta digunakan tanpa mengikuti aturan atau dosis yang benar yang pada hakikatnya adalah suatu perbuatan tanpa hak dan melawan hukum.

Tindak pidana narkotika merupakan suatu kejahatan yang dapat mengancam generasi bangsa dalam suatu negara, gejala atau fenomena terhadap penyalahgunaan narkotika saat ini sedang mencuat dan menjadi perdebatan para ahli hukum dikarenakan perkembangan kejahatan narkotika dibeberapa negara termasuk Indonesia sudah mendekati suatu tindakan yang sangat membahayakan, tidak hanya menggunakan obat-obatan saja, tetapi sudah meningkat kepada pemakaian jarum suntik yang pada akhirnya menularkan HIV/AIDS yang dapat berujung pada kematian.

Hal tersebut dapat dipastikan membahayakan kehidupan masyarakat, maraknya tindak pidana narkotika selain disebabkan dari meningkatnya pelaku tindak pidana narkotika, tetapi juga disebabkan meningkatnya korban dalam penyalahgunaan obat-obatan.

Akan tetapi dalam perkembangannya, meningkatnya korban dalam tindak pidana narkotika adalah faktor yang sering terabaikan atau dalam artian kurangnya perhatian terhadap korban dalam upaya menekan peningkatan tindak pidana narkotika.

Kurangnya perhatian terhadap korban khususnya dari pemerintah dalam tindak pidana narkotika dapat ditinjau dari dua aspek, yakni secara normatif dan secara empiris. Pertama  secara normatif disebabkan oleh hukum positif Indonesia atau aturan perundang-undangan yang sedang berlaku saat ini bersifat tidak komprehensif atau dalam artian kurangnya pengaturan terkait penanganan korban dalam peraturan perundang-undangan khususnya Undang-Undang Nomor 8 Tahun 1981 tentang Hukum Acara Pidana (KUHAP) yang menjadi dasar penyelenggaraan penegakkan hukum dalam peradilan pidana, sebaliknya pengaturan pelaku tindak pidana dalam peraturan perundang-undangan yang berlaku saat ini sangat mendominasi bahkan tatkala menuju ke arah spesifikasi penangan perkara sebagai contoh hak-hak pelaku atau tersangka atau terdakwa bahkan terpidana yang diatur secara jelas dan spesifik dalam kitab undang-undang hukum acara pidana (KUHAP), hal tersebutlah yang tidak terjangkau oleh korban. 

Kedua aspek secara empiris yakni pada umumnya paradigma pemikiran yang dibangun dalam penegakan hukum khususnya di Indonesia adalah dengan menitikberatkan perhatian pada pelaku tindak pidana, baik itu dari segi perbuatan, akibat, maupun motif-motif dari perlaku tindak pidana tersebut. 

Motif dalam artian secara umum adalah dorongan yang menggerakkan seseorang bertingkah laku dikarenakan adanya kebutuhan–kebutuhan yang ingin dipenuhi oleh manusia. Motif juga dapat dikatakan sebagai daya penggerak dari dalam dan di dalam subjek untuk melakukan aktivitas-aktivitas tertentu demi mencapai suatu tujuan atau secara sederhana motif dapat di artikan sebagai sebab, alasan atau latar belakang mengapa seseorang melakukan sesuatu.

Dalam suatu peristiwa kejahatan ada dua unsur terpenting agar peristiwa tersebut dapat disebut sebagai suatu kejahatan yakni adanya unsur pelaku kejahatan dan korban kejahatan, kedua unsur tersebut bagaikan dua sisi mata uang koin yang tidak dapat terpisahkan akan tetapi memiliki perbedaan yang sangat mendasar. 

Oleh karena itu dalam suatu peristiwa yang disebut kejahatan selalu ada motif dari pelaku kejahatan, akan tetapi dengan adanya fakta tersebut, tidak dapat disimpulkan bahwa motif selalu identik oleh pelaku kejahatan, karena jika dilihat dari kaca mata viktimologi (ilmu pengetahuan tentang korban kejahatan), maka motif juga dapat dilakukan oleh korban kejahatan atau secara sederhana dapat dikatakan bahwa dalam kasus-kasus tertentu sebelum seseorang menjadi korban kejahatan ada motif-motif tertentu yang mendahuluinya, penalaran akan motif korban tersebutlah yang sulit dijangkau dalam pengakkan hukum saat ini terlebih lagi hukum positif yang berlaku.

Ketidakmampuan dalam menjangkau atau mempertimbangkan motif korban sering kali terjadi dalam tindak pidana narkotika khususnya dalam kasus penyalahgunaan obat-obatan dikalangan generasi muda. 

Generasi muda yang menjadi korban penyalahgunaan obat-obatan tidak dapat dipungkiri terdapat tujuan-tujuan tertentu yang hendak dicapai oleh korban, tujuan-tujuan tertentu tersebut diwujudkan dalam bentuk alasan-alasan yang sering kali dipakai untuk membenarkan suatu perilaku-perilaku menyimpang dalam hal ini penyalahgunaan obat-obatan.

Serta korban dalam kasus tindak pidana narkotika jika ditinjau berdasarkan tingkat kesalahannya maka korban tersebut termasuk klasifikasi korban dwi tunggal atau dalam artian korban sebagai satu-satunya yang bersalah atau korban sekaligus pelaku. Sehingga potensi korban menjadi pelaku dikemudian hari sangat besar meskipun pada faktanya berawal dari sebuah motif.

Motif penyalahgunaan obat-obatan dalam tindak pidana narkotika oleh korban disebabkan oleh beberapa faktor yakni faktor internal dan faktor eksternal.

Faktor Internal yaitu faktor atau motif-motif yang berasal dari dalam diri pribadi korban yang di antaranya adalah Pertama rasa ingin tahu yang sangat tinggi dari seorang remaja, yang di mana  keingintahuan yang dimaksud adalah rasa ingin tahu yang tidak terkontrol dalam suatu pengawasan, yang mengakibatkan korban menjadikan dirinya sebagai bahan eksperimen dalam perilaku mencoba objek yang tidak diketahuinya seperti obat-obatan golongan narkotika atau dalam bahasa keseharian dikenal dengan perilaku coba-coba yang dapat berujung pada adiksi atau ketergantungan.

Kedua faktor emosional dan mental yakni lemahnya mental seseorang akan lebih mudah dipengaruhi oleh perbuatan-perbuatan negatif yang akhirnya menjurus ke arah penggunaan narkotika dan psikotropika, sebagai contoh ketidaktahuan tentang cara mengatasi masalah (problem solving) dalam menghadapi masalah atau problematika hidup dapat mengakibatkan stres berkepanjangan yang dapat berujung pada penyalahgunaan obat-obat sebagai imbas untuk menekan atau mengilangkan rasa stres dengan narkotika.

Faktor Eksternal yakni Pertama faktor keluarga, dalam artian generasi muda khususnya pada usia remaja yang kurang mendapat perhatian orang tua dikarenakan orang tua yang sibuk dengan kegiatannya masing-masing dapat berdampak pada tidak terpenuhinya kebutuhan batiniah seorang anak dalam hal ini kebutuhan kasih sayang dari orang tua, dampak dari tidak terpenuhinya kebutuhan kasih sayang dari orang tua adalah stres kepada anak terlebih lagi kurangnya pengawasan terhadap anak sehingga menyebabkan perilaku tidak terkontrol yang dapat berujung pada penyalahgunaan narkotika sebagai pelampiasan rasa stres. Kedua faktor lingkungan sosial khususnya pada lingkungan masyarakat secara umum dan lingkungan teman sebaya secara khusus.

Dalam lingkungan masyarakat secara umum yang dimaksud adalah lingkungan masyarakat yang memiliki pola hidup ke arah negatif atau perilaku-perilaku menyimpang yang menjadi suatu kebiasaan buruk yang dimaklumi hingga dibenarkan. dalam skala kecil misalnya kebiasaan merokok bagi seorang laki-laki yang dasar pemikirannya adalah merokok adalah identitas laki-laki, atau dalam skala besar yakni meminum-minuman keras yang dapat berujung pada penggunaan obat-obatan narkotika sebagai bentuk dari ketidakpuasan untuk mencoba yang lebih dan lebih lagi, sehingga keseluruhan perilaku-perilaku tersebut menjadi percontohan bagi generasi mudah yang hendak terjun ke masyarakat untuk memenuhi kebutuhannya sebagai makhluk sosial.

Sedangkan dalam lingkungan teman sebaya secara khusus yakni identik dengan pergaulan bebas di mana seseorang terkhusus seorang remaja yang ingin bergaul atau di terima di dalam sebuah kelompok atau suatu komunitas tertentu, diwajibkan agar mampu beradaptasi atau menyesuaikan diri dengan kelompok tersebut, oleh karenanya jika seorang anak yang ingin diterima dalam suatu kelompok yang memiliki kebiasaan menyalahgunakan obat-obatan golongan narkotika, maka keinginan diterima dalam kelompok pertemanan tersebut adalah motif bagi korban untuk menyalahgunakan obat-obatan narkotika.

Berdasarkan beberapa motif korban dalam kejahatan narkotika tersebut, maka sudah barang tentu diperlukan upaya untuk menekan penyalahgunaan obat-obatan golongan narkotika atau setidak-tidaknya menurunkan kuantitas jumlah korban. Oleh karena hakikat dari motif adalah sebab, alasan atau latar belakang mengapa seseorang melakukan sesuatu, maka upaya preventif adalah salah satu upaya yang sangat efektif untuk mencegah timbulnya motif pada seseorang untuk berperilaku menyimpang, dikarenakan dasar pemikiran dari upaya preventif adalah suatu kegiatan pencegahan terhadap suatu masalah kesehatan atau penyakit. 

Beberapa upaya preventif yang dapat dilakukan yaitu : 

Pertama, memberikan dan menanamkan sejak dini akan arti makna hidup sehat, maksudnya adalah contoh perilaku orang tua dalam kehidupan sehari-hari dalam mempraktekkan hidup sehat juga perlu dilakukan. Orang tua seyogyanya menjadi role-model bagi anak-anak mereka, harus memberikan contoh perilaku yang baik bila ingin anaknya berperilaku baik, sering kali orang tua lupa bahwa seorang anak belajar dari tingkah laku dan perilaku yang mereka lihat dan perhatikan setiap harinya baik dari bayi sampai remaja.

Anak-anak belajar meniru, dari orang yang kesehariannya berada paling dekat dengan mereka, maka seharusnya orang tua memberikan contoh yang baik pula, sebagai contoh tidak merokok atau meminum-minuman beralkohol jika tidak ingin anak meniru hal tersebut atau bahkan mencoba-coba atau menyalahgunakan narkoba.

Kedua, orang tua menjalin hubungan interpersonal yang baik artinya adalah hubungan interpersonal yang baik dengan pasangan dan juga anak-anak, akan memungkinkan orang tua dapat melihat gejala-gejala awal pemakaian narkoba pada anak-anak. Kedekatan hubungan batin dengan orang tua akan membuat anak akan nyaman dan aman. 

Sebaliknya bila terjadi ketidakharmonisan dalam keluarga maka hal tersebut dapat mempengaruhi anak secara psikologis. Kegalauan tersebut dapat memancing anak untuk mencoba narkoba dengan berbagai alasan yang dicarinya sendiri misalnya agar diperhatikan, sikap masa bodoh terhadap hidupnya, untuk mengatasi kemarahan, ketidaksenangan atau kesedihan yang timbul dari melihat orang tua yang selalu bertengkar.

Ketiga, informasi yang benar tentang bahaya narkoba maksudnya adalah memberikan informasi yang benar dan jelas mengenai bahaya penyalahgunaan narkoba ini kepada anak-anak generasi muda, sebelum anak-anak mengetahui dari teman-temannya yang bisa jadi memberikan pengertian yang salah karena keterbatasan pengetahuan.

Serta sudah seharusnya pemberian informasi yang akurat dan jelas diberikan oleh sekolah-sekolah sebagai salah satu sub-kurikulum yang wajib diikuti oleh setiap anak. Informasi mengenai jenis-jenis narkoba, dampak bila menggunakannya, dampak pada organ-organ tubuh dan dampak hukumnya apabila tertangkap memiliki, menggunakan atau mengedarkan narkoba, serta penyakit yang dapat diderita sebagai akibat dari pemakaian narkoba.

Keempat, menanamkan nilai-nilai agama. Maksudnya adalah dengan memberikan pengamalan nilai-nilai agama sejak dini, maka kepribadian seseorang akan mempunyai unsur-unsur yang baik, demikian sebaliknya jika nilai-nilai yang diterimanya jauh dari agama maka unsur-unsur kepribadiannya akan jauh dari agama dan jiwanya akan menjadi mudah terguncang, karena nilai-nilai agama adalah nilai positif dan tidak akan berubah-ubah, sedangkan nilai-nilai sosial dan moral yang didasarkan bukan pada agama akan sering mengalami perubahan sesuai dengan perkembangan masyarakat itu sediri, sehingga peran agama dalam pembentukan kepribadian seseorang sangat diperlukan karena memahami agama sejak dini adalah jalan untuk membijak sedini mungkin.

Oleh karena itu berdasarkan uraian motif-motif korban dan upaya-upaya preventif dalam mencegah timbulnya korban dalam tindak pidana narkotika telah membuktikan bahwa dalam suatu peristiwa kejahatan agar senantiasa melihat dari kedua sisi yankni sudut pandang pelaku dan sudut pandang korban terlebih lagi dalam penegakkan hukum, karena sekali lagi korban dan pelaku dalam suatu peristiwa kejahatan bagaikan dua sisi mata uang koin yang tidak dapat terpisahkan, akan tetapi memiliki perbedaan yang sangat mendasar, oleh karenanya kerangka pemikiran yang hendak dibangun adalah “setiap pelaku kejahatan menimbulkan korban kejahatan dan korban kejahatan melahirkan pelaku kejahatan”.(***)

BACA JUGA :   Tokoh Masyarakat, Dilibatkan Dalam Penilaian Akreditasi Puskesmas di Koltim

Tentang Penulis: admin

Gambar Gravatar
PT Kalosara Media Sultra | Penerbit www.kalosaranews.com merupakan anggota Serikat Media Siber Indonesia (SMSI) Sulawesi Tenggara (Sultra) serta tergabung dalam jaringan Siberindo.co