Muhasabah Ditengah Musibah, Wabah dan Banjir


Oleh: Hamsina Halisi Alfatih


 Saat pandemi Covid-19 belum berakhir kini sejumlah masyarakat dibeberapa daerah kembali diuji dengan musibah banjir. Hal ini pun tengah dirasakan oleh masyarakat Sulawesi Tenggara, terutama di daerah Kabupaten Konawe.

Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Konawe, Provinsi Sulawesi Tenggara (Sultra) menyatakan berdasarkan data sementara warga terdampak banjir yang terjadi di daerah itu meluas hingga ke 49 desa/kelurahan di 16 kecamatan. (Antarasultra.com,18/07/20)

Senada dengan hal tersebut, Kepala BPBD Konawe, Herianto Pagala,Sabtu malam mengatakan, akibat banjir yang melanda daerah tersebut, kini sebanyak 2.719 kepala keluarga (KK) 8.314 jiwa terdampak.

Kado pahit tahun 2020 memang di awali curah hujan ekstrim dibeberapa kota besar di Indonesia. Curah hujan ekstrim berujung pada banjir bandang dan tanah longsor mengakibatkan ribuan nyawa melayang bahkan mengalami kerugian hingga miliaran rupiah.

Mengawali awal tahun 2020, beberapa wilayah yang terdampak banjir seperti wilayah Bekasi, banjir terjadi sejak Rabu (1/1/2020) dini hari. Di Kabupaten Bandung Barat, terjadi banjir bandang pada Selasa (31/12/2019) hingga Rabu (1/1/2020). Tak hanya itu, hujan yang mengguyur sejak Selasa (31/12/2019) menyebabkan Sungai Ciberang di Taman Nasional Gunung Halimun Salak (TNGHS), di Kabupaten Lebak, Banten meluap.Kemudian ada pula Banjir yang melanda Kabupaten Bogor, Jawa Barat, menyebabkan belasan orang meninggal dunia. (Kompas.com,02/01/20)

Banjir merupakan musibah teguran dari Allah SWT akibat ulah tangan jahil manusia. Musibah banjir terkadang mengajarkan kita sebagai hamba Allah agar senantiasa bermuhasabah diri akibat kelalaian kita yang secara sadar merusak lingkungan. Tak hanya itu, kemungkinan Allah SWT menurunkan musibah banjir disebabkan karena rakusnya segelintir individu yang secara brutal mengerut kekayaan alam disekitar lingkungan yang terdampak banjir.

Faktor-faktor lain pun diantaranya menjadi pemicu banjir bandang dibeberapa wilayah Indonesia yakni:

Pertama, penebangan hutan secara liar yang memungkinkan rendahnya serapan air dibawah tanah. Aktivitas ilegal yang dilakukan oleh individu-individu yang tak bertanggung jawab inilah yang menyebabkan rawan banjir bahkan merugikan pemukiman sekitar.

Kedua, sampah yang di buang sembarangan. Hal ini pun menandakan kurangnya kesadaran manusia dalam menjaga lingkungan hidup. Masih banyak kita menyaksikan masyarakat yang membuang sampah di selokan maupun sungai sehingga hal ini memungkinkan tersumbatnya aliran air maka ketika hujan air akan meluap.

Ketiga, pengaturan drainase yang diubah tanpa mengindahkan Amdal (Analisis mengenai dampak lingkungan). Tujuan utama Amdal adalah menganalisis dan meningkatkan kualitas lingkungan hidup serta menekan pencemaran sehingga dampak negatifnya menjadi serendah mungkin. Namun tujuan utama ini tidak di indahkan oleh tangan-tangan kapitalis yang mengalih fungsikan lahan dengan bangunan seperti perusahaan, perkantoran, pabrik dan sebagainya. Wajar bila intensitas curah hujan yang begitu tinggi menyebabkan banjir besar.

Dampak yang begitu besar akibat banjir hingga hilangnya harta dan nyawa memang tak terlepas dari keserakahan manusia. Bahkan tak sedikitpun memikirkan dampak negatif yang diakibatkan dari kerusakan lingkungan sekitar. Allah subhanahu wata’ala berfirman:

“Telah nampak kerusakan di darat dan di laut, disebabkan karena perbuatan tangan-tangan manusia, supaya Allah merasakan kepada mereka sebahagian dari akibat perbuatan mereka, agar mereka kembali ke jalan yang benar (TQS. Ar-Rum: 41)

Sementara itu peran pemerintah pun seolah tak memberi gambaran untuk menyelesaikan persoalan banjir yang terjadi hampir setiap tahunnya. Faktanya, keserakahan para kapitalis justru semakin membabi-buta dalam menjarah SDA di negeri ini. Hal ini seharusnya memberikan kita kesadaran bahwa hidup dalam kungkungan kapitalisme hanya berdampak pada hilangnya kesejahteraan.

Karenanya dibalik musibah yang menimpa bangsa ini, mulai dari datangnya wabah virus Corona dan banjir seharusnya membawa kita untuk merenung dan bermuhasabah diri agar kembali kepada aturan yang telah ditetapkan oleh Allah SWT dan Rasul-Nya. Sebab, dampak utama dari musibah ini adalah ketika kita bermaksiat mencampakkan hukum-hukum yang telah Allah turunkan.

Allah berfirman: “Jikalau sekiranya penduduk negeri-negeri itu mereka beriman dan bertakwa, maka pastilah akan kami limpahkan untuk mereka berkah dari langit dan dari bumi. Akan tetapi mereka mendustakan ayat-ayat kami, maka kami siksa mereka disebabkan perbuatan mereka” (TQS. Al-A’raf: 96)

Dengan demikian, untuk mendapatkan keberkahan dan karunia atas hujan yang diturunkan oleh Allah SWT sudah seharusnya sebagai hamba yang bertakwa kepadaNya untuk tidak merusak alam. Sebab, alam juga merupakan ciptaan Allah SWT yang telah dititipkan untuk dijaga dan dirawat. Pun halnya, agar kita legowo untuk kembali menerapkan aturan-Nya yang tak lain bersumber dari Al Qur’an dan As Sunnah.

Wallahu A’lam Bishshow

Editor : Rj Publizher : Iksan

error: Hak Cipta dalam Undang-undang