Narkoba Makin Membius, Butuh Solusi Serius

OPINI : Narkoba terus mengrongrong negeri ini. Berita terkait penyalahgunaan narkoba tidak pernah habis-habisnya. Beberapa saat yang lalu kita digegerkan dengan berita beredarnya jajanan yang mengandung narkoba di sekolah-sekolah dasar. Tidak lama kemudian kita mendengar kasus yang terjadi di Kendari Sulawesi Tenggara. Yaitu penyalahgunaan obat-obatan paracetamol, caffein, dan carisoprodal (PCC) yang berujung pada meninggalnya dua orang penggunanya.

Seperti dilansir dalam Kendari, Radar IT — Satuan Resnarkoba Polres Kolaka Sultra mengamankan tersangka yang menyimpan, menguasai dan mengkonsumsi Narkoba jenis sabu Rabu 8/7/2018.

Kabid Humas Polda Sultra AKBP Harry Goldenhartd, S.IK, M.S membenarkan adanya penangkapan dan pengerebekan kasus narkoba dipimpin Oleh Kasat Reskoba Polres Kolaka IPTU Husni Abda, SIK bersama anggotanya. Barang bukti yang diamankan Satresnarkoba Polres Kolaka

“Benar Satuan Reskoba Polres Kokaka, berhasil mengamankan 1 (satu) orang tersangka tindak Pidana tanpa hak melawan hukum memiliki, menyimpan, menguasai atau menyediakan narkotika golongan I atau menyalah gunakan narkotika golongan I bagi diri sendiri,”Ujar AKBP Harry

Sebelumnya juga dikutip dari Bisnis.com, Kolaka –  Bupati Kolaka Ahmad Safei prihatin Kabupaten yang dipimpinnya masuk dalam “zona merah” peredaran dan penyalahgunaan narkoba.

“Saya sangat prihatin karena daerah yang kita cintai ini masuk kategori zona merah,” katanya usai melakukan penandatanganan nota kesepahaman dengan BNN Kolaka, Rabu (28/9/2016).

Menurutnya Kolaka merupakan daerah jalur transportasi terbuka yang menghubungkan beberapa daerah yang ada di Sulawesi Tenggara sehingga peredaran barang haram itu terbuka luas.

“Sebagaimana yang dimaksud dalam Pasal 112 ayat (1) dan  Pasal  127 ayat (1) huruf(a) jo pasal 148 UU RI. No. 35 Tahun 2009 tentang Narkotika” Paparnya

 

Akar Masalah

Fenomena meningkatnya kasus narkoba merupakan hal yang ‘lumrah’ di tengah kehidupan liberal yang menggaungkan ide kebebasan atas nama HAM. Saat ini, demokrasi yang diadopsi oleh Indonesia meniscayakan pandangan individualistik dan kebebasan sebagai pilar penegakknya, akibatnya muncul perilaku-perilaku menyimpang atas nama HAM, salah satunya penyalahgunaan narkoba.

BACA JUGA :   Business Matching Japnas Sultra Digelar, Bayu Priawan Djokosoetono : Sinergitas Usaha dan Kerja Sama Bisnis Antara Organisasi Dapat Terjalin

Gaya hidup hedonis pun menempatkan narkoba itu barang yang keren dan wajib dicoba bagi kalangan yang disebut ‘gaul’, karena zat terlarang jenis tertentu dapat membuat pemakainya lebih berani, keren, percaya diri, kreatif, santai dan lain sebagainya. Kondisi ini memicu para generasi muda tergiur untuk coba-coba dan ikut-ikutan menggunakan narkoba.

Ditambah lagi banyak persoalan yang membelit jutaan keluarga, mulai dari mahalnya biaya hidup, sulitnya lapangan pekerjaan, persaingan di lingkungan kerja yang ketat, perselingkuhan, dan berbagai problem lainnya menyebabkan banyak orang stress.

Orang yang dirundung banyak masalah dan ingin lari dari masalah dapat terjerumus dalam pangkuan narkoba, mereka berniat lari dari masalah meskipun cuma sesaat. Narkoba dipandang dapat membantu seseorang untuk melupakan masalah dan mengejar kenikmatan. Apalagi, saat ini masyarakat cenderung acuh/tidak peduli, pengawasan sosial masyarakat kian longgar, dan menurunnya moralitas masyarakat makin menambah keinginan untuk menggunakan narkoba.

Walhasil, penyebab tingginya penyalahgunaan narkoba hingga level darurat ini bukan hanya karena faktor individu yang ingin coba-coba dan tawaran dari pengedarnya, tapi mencakup berbagai aspek berskala sistemik. Bahkan, faktor lingkungan masyarakat dan penerapan aturan dari negaralah yang menjadi faktor terbesar yang memperparah kasus ini. Semua itu tak lepas dari sistem liberal kapitalis yang diadopsi negeri ini.

Sistem yang lahir dari sekulerisme yang menjadikan manusia sebagai pembuat hukum ini telah membuat banyak orang jauh dari agama dan melanggar berbagai aturan, termasuk aturan agama. Sehingga penyebab negeri ini terus diliputi berbagai persoalan yang sangat serius dalam berbagai aspek, karena kehidupan manusia di dunia diatur berdasar sistem (pedoman) hidup buatan manusia (kapitalisme), bukan yang dibuat oleh Allah SWT.

BACA JUGA :   Besok KPU Tetapkan Calon Terpilih Pilkada Konawe

Ketika kita ingin memberantas tuntas kasus narkoba maka solusi dan aksi yang dilakukan harus menyentuh akar permasalahannya, tak cukup hanya dengan operasi dan razia tapi harus menjadikan Islam sebagai solusi.

Islam adalah Solusi

Islam mengharamkan narkoba, yakni hadits dari Ummu salamah RA bahwa Rasulullah SAW telah melarang dari segala sesuatu yang memabukkan (muskir) dan melemahkan (mufattir). (HR Ahmad, Abu Dawud no 3686). Yang juga menimbulkan bahaya (dharar) bagi manusia. Dalam fiqh, dikenal kaidah “Al ashlu fi al madhaar at tahrim” (hukum asal benda yang berbahaya [mudharat] adalah haram).

Berdasarkan keharaman ini, maka Islam akan mencegah dan memberantas narkoba, yakni dengan cara, Pertama: meningkatkan ketakwaan setiap individu masyarakat kepada Allah. Ketakwaan setiap individu masyarakat akan menjadi kontrol bagi masing-masing sehingga mereka akan tercegah untuk mengkonsumsi, mengedarkan apalagi membuat narkoba. Kedua: menegakkan sistem hukum pidana Islam dan konsisten menerapkannya. Sistem pidana Islam, selain bernuansa ruhiah karena bersumber dari Allah SWT,juga mengandung hukuman yang berat.

Pengguna narkoba dapat dipenjara sampai 15 tahun atau dikenakan denda yang besarnya diserahkan kepada qâdhi (hakim) (al-Maliki, Nizhâm al-‘Uqûbât, hlm. 189). Jika pengguna saja dihukum berat, apalagi yang mengedarkan atau bahkan memproduksinya; mereka bisa dijatuhi hukuman mati sesuai dengan keputusan qâdhi (hakim) karena termasuk dalam bab ta’zîr. Ketiga: merekrut aparat penegak hukum yang bertakwa. Dengan sistem hukum pidana Islam yang tegas, yang notabene bersumber dari Allah SWT, serta aparat penegak hukum yang bertakwa, hukum tidak akan dijualbelikan.

Mafia peradilan—sebagaimana marak terjadi dalam peradilan sekular saat ini—kemungkinan kecil terjadi dalam sistem pidana Islam. Ini karena tatkala menjalankan sistem pidana Islam, aparat penegak hukum yang bertakwa sadar betul, bahwa mereka sedang menegakkan hukum Allah, yang akan mendatangkan pahala jika mereka amanah dan akan mendatangkan dosa jika mereka menyimpang atau berkhianat.

BACA JUGA :   Kapolres Muh.Nur Akbar Pimpin Rapat Ops Zebra Anoa 2017

Islam merupakan ad-diin pembawa rahmat yang mampu menuntaskan berbagai problematika kehidupan kita. Solusi paripurna yang dimiliki Islam akan bisa terwujud jika negara kita mengadopsi sistem pemerintahan Islam.

Sistem inilah yang biasa disebut dengan Khilafah. Dengan Khilafah, rahmat Islam akan terasa, tanpa Khilafah rahmat Islam akan menjadi slogan semata. Saatnya kita bersatu dan bergerak bersama untuk mewujudkan penerapan Islam rahmatan lil’alamin dalam naungan Khilafah Islamiyyah. Wallhu a’lam. (***)

Oleh : Risnawati, STP.

(Staf Dinas Pertanian dan Hortikutura Kolaka)

Tentang Penulis: admin

Gambar Gravatar
PT Kalosara Media Sultra | Penerbit www.kalosaranews.com merupakan anggota Serikat Media Siber Indonesia (SMSI) Sulawesi Tenggara (Sultra) serta tergabung dalam jaringan Siberindo.co