Narkoba Merajalela Di Bumi Anoa, Harus Ada Solusi Segera!

Dessy Wahyu Lestari
Dessy Wahyu Lestari

Penulis : Dessy Wahyu Lestari


Saat ini  dampak bahaya narkoba atau narkotika dan obat obatan  pada kehidupan  semakin dirasakan.  Baru baru ini kita dikejutkan berita penangkapan pemakai narkoba yaitu di daerah Sulawesi tenggara. Satuan Narkoba  Sebanyak 33 bungkus kecil sabu ditemukan dengan berat total 53,36 gram. Parahnya pelaku diduga kuat hanya  kurir dari seorang narapidana yang saat ini menjalani masa tahanan di Lapas Kelas II A Kendari.

Menyaksikan hal tersebut, seluruh lapisan masyarakat harus mewaspadai bahaya narkoba yang sengaja disusupkan oleh berbagai pihak yang dinilai ingin merusak persatuan dan kesatuan bangsa Indonesia.  Publik sangat berharap pemerintah bisa bersikap tegas lagi terhadap pelaku kejahatan narkoba. Kalau sampai saat ini terkesan ‘adem-adem’ saja, maka mulai sekarang bersikap dan lakukan tindakan tegas, setidaknya berikan hukuman yang berat terhadap mereka, hukuman mati seperti di negara lain.   Belumkah saatnya  pemerintah bertindak tegas terhadap oknum aparat negara dan oknum pejabat yang terlibat dengan bandar narkoba?  Bila perlu nama-nama oknum pejabat itu diumumkan ke publik.

Itulah sebabnya, ketika ada warga negara yang memberikan informasi kemungkinan adanya keterlibatan petinggi kepolisian, TNI, BIN, dan BNN, dalam kasus narkoba, bukankah sebaiknya informasi itu ditanggapi secara positif untuk memperbaiki diri dan mengungkap siapa saja oknum aparat yang terlibat?  Apalagi harus diakui, selama ini di ranah publik sudah sering terdengar keterlibatan oknum aparat negara dalam peredaran narkoba atau menjadi beking bandarnya. Alasan sederhananya, bagaimana mungkin para bandar atau kurir narkoba itu bisa dengan mudah masuk ke negeri ini jika tidak dibekingi oknum aparat?

Kalau aparat hukum tegas, tentu pelaku kejahatan narkoba tidak akan bisa masuk ke negeri ini.  Negara ini harus diselamatkan dari kehancuran akibat narkoba. Karenanya negara harus tegas dan serius mengatasi persoalan maraknya peredaran narkoba di tanah air. Perlu kebijakan yang jelas dan tindakan tegas terhadap para penjahat narkoba, sehingga negeri ini tidak lagi darurat narkoba. Untuk memberikan efek jera tersangka dapat diberikan hukuman berat, hukuman mati,  memaksimalkan upaya pencegahan dengan mengeksekusi seluruh tersangka yang sudah memiliki kekuatan hukum tetap. Jika tidak, baik pengedar, penyalur maupun pengguna akan tetap marak.

BACA JUGA :   Delapan Dosen di Unilaki di Istrahatkan, Arifin Banasuru : Itu Cacat Hukum

Jelas terlihat pula bahwa kebijakan yang membatasi ruang gerak masyarakat selama masa pandemi Covid-19 tak berpengaruh terhadap peredaraan narkoba itu sendiri.  Bila dicermati, inilah buah dari diterapkannya sistem kapitalisme di negri ini.  Asas profit oriented langsung maupun tidak, telah menumbuhsuburkan peredaran narkoba itu sendiri. Atas nama keuntungan yang menggiurkan,  mereka menggelar ‘dagangan.’

Berdalih selama ada yang membutuhkan berarti laku untuk dijual. Ya, sebagaimana yang kita pahami hukum umum ekonomi kapitalisme. Ketika ada permintaan, maka barang harus disediakan. Tak boleh disia-siakan. Masa bodoh akan bahaya yang dimunculkan. Terlebih halal-haramnya dagangan. Inilah yang tengah kita saksikan.  Narkoba bagaikan jajanan  yang bebas diperjualbelikan. Mulai dari orang dewasa hingga usia anak SD, baik laki-laki maupun perempuan. Padahal sebagai negeri dengan mayoritas penduduk beragama Islam harusnya menolak keras narkoba.  Pasalnya  dalilnya jelas,

”Segala sesuatu yang memabukkan atau menghilangkan kesadaran, tetapi bukan minuman keras, baik berupa tanaman maupun dan sejenisnya, yang mengakibatkan perbuatan –perbuatan yang mengarah pada keburukan, kegelapan, dan sisi-sisi destruktif manusia”. Sedangkan menurut Imam Adz-Dzahabi; bahwa semua benda yang dapat menghilangkan akal (jika diminum atau dimakan atau dimasukkan ke badan), baik ia berupa benda padat, ataupun cair, makanan atau minuman, adalah termasuk khamr, dan telah diharamkan Allah Subhanahu wa Ta’ala sampai hari kiamat.

Allah berfirman, artinya: “Hai orang-orang yang beriman, sesungguhnya meminum khamr, berjudi, berkorban untuk berhala, mengundi nasib dengan anak panah, adalah perbuatan keji dan termasuk perbuatan setan, maka jauhilah perbuatan itu agar kamu beruntung. Sesungguhnya setan itu bermaksud hendak menimbul-kan permusuhan dan kebencian di antaramu lantaran minum khamr dan berjudi, dan menghalangi kamu dari mengingat Allah dan shalat, maka berhentilah kamu mengerjakan perbuatan itu.” (Al-Maa’idah: 90-91)

BACA JUGA :   Tudingan Radikalisme, Bukti Rezim Panik

Jika dilihat kenyataan yang terjadi di sekitar kita akan tampak bahwa pemakaian narkoba (narkotika, obat-obat terlarang dan alkohol) ini berefek melahirkan tindak kriminal yang banyak. Antara lain  mencopet, mencuri, merampok sampai membunuh dan tindakan amoral seperti perzinaan, pemerkosaan serta pelecehan seksual lainnya.

Benarlah Baginda  Nabi SAW ketika bersabda, “Jauhilah oleh kalian khamr, karena sesungguh-nya ia adalah induk segala kejahatan.” (HR. Al- Hakim, dari Ibnu Abbas)

Selain dalil   di atas, juga ada hadits yang melarang khamar/minuman keras (baca : narkoba) yaitu, “Malaikat Jibril datang kepadaku, lalu berkata, ‘Hai Muhammad, Allah melaknat minuman keras, pembuatnya, orang-orang yang membantu membuatnya, peminumnya, penerima dan penyimpannya, penjualnya, pembelinya, penyuguhnya, dan orang yang mau disuguhi”. (HR. Ahmad bin Hambal dari Ibnu Abbas)

Terlihat dari hadits di atas, narkoba dianalogikan  yang  dengan khamr (minuman keras ) yang hukumnya  haram. Oleh karena itu tak ada jalan lain.  Bila ingin tuntas membasmi narkoba, caranya dengan menerapkan syariat secara kaffah.  Di dalamnya, Islam mewajibkan negara menjalankan fungsi penjagaan atas masyarakat, dalam hal ini menjaga atas kesehatan akal manusia.  Sanksi akan diterapkan sehingga generasi bisa terlindungi dari ancaman narkoba. Wallahu A’lam Bishawab..

Tentang Penulis: admin

Gambar Gravatar
PT Kalosara Media Sultra | Penerbit www.kalosaranews.com merupakan anggota Serikat Media Siber Indonesia (SMSI) Sulawesi Tenggara (Sultra) serta tergabung dalam jaringan Siberindo.co