Nasionalisme, Alat Mutilasi Pembunuh Islam

Penulis: Wa ode Fela Sari A.Md (Pemerhati Sosial)

OPINI : Pasca runtuhnya Kekhilafahan Islam yaitu Khilafah Utsmani yang berpusat di Istanbul Turki pada tanggal 3 Maret 1924, praktis kaum muslimin tidak punya Negara yang menyatukan mereka dan menerapkan Islam atas mereka. Bermula dari merasuknya nasionalisme berbalut kebanggaan terhadap asal dan daerah masing-masing, paling merasa berhak atas Khilafah, dan kebanggan atas nasab nenek moyang yang dituipkan oleh musush-musuh Islam untuk menghancurkan Khilafah melalui tangan anak-anak Islam sendiri.

Hingga semua itu memuncak dengan runtuhnya Daulah Khilafah Islam. Negara Khilafah kemudian dikerat-kerat menjadi banyak negara kecil yang lemah. Turki menjadi Negara Republik Turki yang dengan terang menyatakan pemisahan Agama (baca: Islam) dari negara. Arab menjadi negara sendiri dengan sistem kerajaan, negeri Syam dipecah menjadi beberapa negara di antaranya adalah palestina dan Suriah, semua mengikuti negeri-negeri yang telah lebih dulu terlepas, termasuk Indonesia.

Negara-negara yang pernah menjadi bagian dari kekhilafahan kini bebas mengatur diri sendiri dengan aturan yang dibuat sendiri, lalu mengadopsi kesepakatan-kesepakatan internasional untuk tidak bersepakat seperti HAM, Nuklir, Pasar Bebas, termasuk yang paling dasar adalah Nasionalisme yang diawasi dan diatur dengan konsensus Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB).

ATAS NAMA NASIONALISME, KAU BUKAN SAUDARAKU

Kaum musimin yang awalnya bersatu bahu membahu saling menolong dan menjaga di bawah naungan Khilafah sebagai junnahnya, kita terpecah belah tak berdaya. Penderitaan saudara sesama muslim di satu wilayah, dibiarkan tanpa penolong dari saudaranya di wilayah yang lain walaupun mereka banyak. Pembantaian terhadap muslim di bagian bumi yang bukan negaranya maka itu bukan bagian dari masalah muslim di negara lainnya.

Sehingga apa yang terjadi di Palestina yang mengalami pengusiran, dan pembantaian oleh yahudi Israel dengan bantuan negara-negara imperialis barat sejak tahun 1948 silam, dan diamnya negeri-negeri muslim disekitarnya dan dunia adalah fakta kongkrit akan keberhasilan nasionalisme menghancurkan persaudaraan Islam. Suriah, Rohingya, Afrika, Kashmir, Iran, Irak, Bangladesh, Uzbekistan, dan negeri-negeri lainnya termasuk Uigur adalah bukti nyata hilangnya ikatan ukhuwah Islam antar sesama muslim yang seharusnya diikat dengansatu ikatan saja yaitu ikatan akidah Islam yang tidak boleh sama sekali terputus hanya karena wilayah, suku, dan ras.

BACA JUGA :   Potret Buram Menuai Masa Depan Suram, Remaja Butuh Islam!

Tetapi disebabkan karena sekat wilayah, maka masalah saudara-saudara kita di belahan bumi lainnya bukanlah masalah bagi muslim di negeri ini. Gambaran ini tampak dalam pernyataan wakil Presiden Jusuf kalla ketika ditanya tentang persoalan Uigur, beliau menyatakan bahwa kalau masalah domestik tentu kita tidak ingin campuri masalah itu, katanya. (cnnindonesia.com, Jakarta, senin 18/12/2018).

HAKIKAT UKHUWWAH ISLAM

Islam sejak 14 abad yang lalu telah meletakkan dasar ikatan yang kokoh yang mengikat ummat islam yaitu ikatan Aqidah Islam. Bahwa setiap muslim dengan muslim lainnya adalah saudara. Saling menolong dalam kebaikan dan taqwa. Saling mengingatkan dalam amar ma’ruf nahyi mungkar. Dan bersatu dalam satu naungan yaitu naungan Islam di bawah sistem aturan Islam atau yang lebih dikenal dengan Khilafah Islamiyah.

Allah SWT berfirman yang artinya:

sesungguhnya orang-orang mukmin adalah bersaudara. Karena itu damaikanlah kedua saudara kalian, dan bertaqwalah kalian kepada Allah supaya kalian mendapatkan rahmat.” (QS. Al Hujurat:10)

dan berpegang teguhlah kamu sekalian kepada tali agama Allah dan janganlah kamu sekalian berpecah belah, dan ingatlah nikmat Allah atas kamu semua ketika kamu bermusuh-musuhan maka Dia (Allah) menjinakkan antara hati-hati kamu maka kamu menjadi bersaudara.” (QS Ali Imran:103)

Rasululah SAW telah bersabda:

“Perumpamaan orang-orang yang beriman dalam saling mencintai, saling mengasihi, dan saling menyayangi adalah bagaikan satu jasad, jika salah satu anggotanya menderita sakit, maka seluruh jasad juga merasakan (penderitaannya) dengan tidak bisa tidur dan merasa panas.” (HR Bukhari dan Muslim)

“Orang muslim adalah saudara muslim lainnya, ia tidak akan menganiayanya dan tidak akan menyerahkannya (kepada musuh). Barang siapa ada di dalam keperluan saudaranya maka Allah ada di dalam keperluannya. Barang siapa menghilangkan suatu kesukaran dari orang muslim, maka Allah akan menghilangkan satu kesukaran-kesukaran yang ada pada hari kiamat. Dan barang siapa yang menutupi (aib) seorang muslim, maka Allah akan menutupi (aibnya) pada hari kiamat.” (HR. Bukhari dan Muslim).

BACA JUGA :   Bupati Tony Serahkan Alat Mesin dan Kartu Asuransi Petani

Nasionalisme memutuskn persaudaraan Islam yang berdasarkan akidah Islam dan menggantinya dengan ikatan wilayah semata. Sehingga muslim satu wilayah dengan wilayah lainnya saling bermusuhan itu dianggap lumrah. Penderitaan saudara-saudara kita di negeri lain tidak boleh menjadi urusan kita. Nasionalisme juga memangkas dan mengkerdilakan Islam hanya semata berada pada garis batas Negara.

Islam telah memerintahkan kepada ummat Islam untuk bersatu. Maka hilangkanlah sekat-sekat nasionalisme yang terbukti hanya menjadi alat mutilasi yang membunuh Islam. Mencegah ummat Islam bersatu. Membiarkan saudara-saudara muslim kita di Suriah, Palestina, Rohingya, Uigur, hingga Afrika dianiaya dan dibantai tanpa ampun. Atas nama nasionalisme, nyawa jutaan umat Islam tidak berharga.

Padahal Islam menjaga nyawa manusia apalagi muslim dengan sebenar-benarnya penjagaan. Rasulullah SAW bersabda yang artinya:

“Sungguh lenyapnya dunia masih lebih ringan di sisi Allah dibandingkan terbunuhnya satu orang muslim.” (HR. At Tirmidzi, An Nasaai, Ibnu majah). (***)

 

Tentang Penulis: admin

Gambar Gravatar
PT Kalosara Media Sultra | Penerbit www.kalosaranews.com merupakan anggota Serikat Media Siber Indonesia (SMSI) Sulawesi Tenggara (Sultra) serta tergabung dalam jaringan Siberindo.co