, , ,

Negara Santai, Jangan Abai

Ilustrasi
Ilustrasi

Oleh: Nurlaini

(Penulis Buku)

Semakin hari, tempat wisata Indonesia menjadi destinasi wisata favorit bagi wisatawan asing. Katakanlah Bali yang pesonanya begitu terkenal di luar negeri. Sudah banyak aktor dan aktris yang menjadikannya tempat melepas lelah setelah rutinitas yang padat. Mereka tak bisa dipungkiri membawa nama Indonesia semakin didengar oleh negara luar. Begitu populernya hingga Indonesia kini menduduki peringkat pertama dalam daftar negara paling santai di dunia untuk liburan. Haruskah kita bangga dengan prestasi tersebut?

Lastminute.com, menuliskan bahwa Indonesia sebagai Negara Paling Santai di Dunia, atau Most Chilled Out Countries in The World. Maksud dari julukan negara santai ini kaitannya dalam hal-hal yang positif.Yakni, berhubungan dengan relaksasi yang santai dan memanjakan momen liburan kamu. Indonesia punya banyak lokasi untuk melakukan relaksasi dan cocok jadi destinasi liburan.

Hasil peringkat ini berdasarkan sebuah penelitian yang dilakukan oleh Lastminute.com dan meninjau dari berbagai faktor.Mulai dari banyaknya cuti tahunan, faktor polusi suara, faktor cahaya (lingkungan), faktor Hak Asasi Manusia (HAM), budaya, dan banyak lokasi spa atau retreat lainnya.Laporan dari Lastminute.com ini kemudian membuat daftar 15 destinasi teratas sebagai negara paling santai di dunia.

“Surga tropis Indonesia berada di posisi pertama, sebagian berkat spa dan pusat kebugarannya. Ada lebih dari 186 ruang hijau dan memiliki suhu rata-rata 25 derajat Celcius dan 54.716 mil dari garis pantai,” dikutip dari Lonely Planet.  (travel.tribunnews.com, 26/01/2019)

Tempat wisata paling populer di Indonesia adalah pariwisata pantai, di mana merupakan tempat yang cenderung mempertontonkan pakaian minim dan lekuk badan. Hal ini tentunya bertentangan dengan moralitas islam. Islam memerintahkan kaum muslim untuk menutup aurat, akan tetapi yang terjadi di tempat ini justru sebaliknya. Aurat terlihat di berbagai sudut tempat wisata. Padahal Indonesia merupakan negeri muslim terbesar. Sayangnya pemberian gelar negara paling santai ini jutsru membuat negara semakin terbuai dan semakin mengembangkan pariwisata demi menarik perhatian wisatawan. Tanpa disadari hal tersebut berdampak masifnya proses liberalisasi dan sekulerisasi melalui pariwisata.

BACA JUGA :   Pekan Depan, Polres Konsel  Gelar Operasi Zebra Anoa 2019

Allah  berfirman:

“Berjalanlah di (muka) bumi, maka perhatikanlah bagaimana Allah menciptakan (manusia) dari permulaannya, kemudian Allah menjadikannya sekali lagi. Sesungguhnya Allah Maha Kuasa atas segala sesuatu. (QS. Al-Ankabut: 20)

Dalam Islam, wisata dimaksudkan untuk dapat mengambil pelajaran dan peringatan atas apa yang sudah disaksikan ketika melakukan perjalanan. Pariwisata yang paling direkomendasi adalah pariwisata yang berhubungan dengan spiritual, tempat-tempat yang bersejarah, serta tempat yang membuat kita semakin menyadari kebesaran ciptaan Tuhan.

Lalu, bagaimana kita menyikapi pembangunan pariwisata di Indonesia kini? Di mana dunia wisata seringkali cenderung lebih dekat dengan dengan kemaksiatan. Tentunya hal ini kembali lagi pada masyarakat. Masyarakat harus waspada terhadap upaya penjajahan negara barat. Hal ini bisa dilakukan dengan membongkar strategi penjajah yang pada akhirnya hanya akan merugikan masyarakat. Pariwisata mungkin tampak manis di luar, seperti uang yang bisa datang sendiri tanpa dicari seiring datangnya wisatawan. Hal yang tidak diketahui bahwa investasi sangat mungkin dilakukan dalam pengembangan pariwisata. Jadi, siapa yang paling diuntungkan? Tentu saja pemilik modal. Masyarakat ibaratnya hanya menikmati remah-remah sisa makanan yang ada. (***)

Tentang Penulis: admin

Gambar Gravatar
PT Kalosara Media Sultra | Penerbit www.kalosaranews.com merupakan anggota Serikat Media Siber Indonesia (SMSI) Sulawesi Tenggara (Sultra) serta tergabung dalam jaringan Siberindo.co