New Normal Berjalan, Nyawa Jadi Taruhan?


Oleh: Izzah Saifanah

(Pegiat Media Kolaka)


Dikutip dari CNN.com, Juru Bicara Pemerintah untuk Penanganan Covid-19, Achmad Yurianto menyatakan sebagian besar kasus pasien positif virus corona (Covid-19) yang baru ditemukan hari ini kebanyakan berstatus sebagai orang tanpa gejala (OTG). Yurianto menyatakan pasien dengan status OTG sama sekali tak merasakan keluhan dan tak merasakan sakit apapun meski sudah dinyatakan positif Covid-19.

“Secara keseluruhan sebagian kasus baru yg kita dapatkan pada hari ini adalah kasus baru yang tidak ada indikasi untuk dirawat di rumah sakit,” kata Yurianto dalam konferensi persnya di Kantor BNPB, Jakarta, Minggu (12/7). Melihat hal itu, Yurianto berpandangan pasien Covid-19 dengan status OTG wajib melaksanakan karantina mandiri secara ketat.

Hal itu bertujuan agar tak menjadi sumber penularan bagi orang lain. Yurianto pun menyatakan beban Rumah Sakit tak terdampak sampai saat ini meski kasus baru positif Covid-19 mengalami peningkatan. “Ini yang kemudian kita lihat kasus beban layanan rumah sakit tidak meningkat meskipun kasus baru kita temukan lebih banyak,” kata dia.

New Normal Berakibat Fatal?

Adaptasi tatanan kehidupan baru, telah membuat sejumlah tempat keramaian kembali dibuka. Beberapa hari terakhir angka kasus positif Covid-19 meningkat tajam. Meskipun didominasi oleh OTG, tentu kewaspadaan tetap harus diperhatikan. Sebab, OTG bukan berarti tidak dapat menjadi sumber penularan. Bahkan ini berbahaya, sebab yang terjangkit virus tidak menyadari bahwa dirinya telah terpapar. Penerapan new normal saat ini sepertinya tidak boleh disepelekan, tidak dipungkiri kasus positif meningkat lebih cepat dibanding sebelum diterapkannya new normal.

New normal tidak lain sebagai langkah untuk menghidupkan kembali ekonomi yang kollaps dihantam pandemi. Berkurangnya aktivitas ekonomi selama PSBB menyebabkan laju perputaran ekonomi melambat, pendapatan serta daya beli masyarakat juga terus mengalami penurunan. Melalui new normal inilah pelaksanaan kegiatan ekonomi nasional di berbagai sektor diharapkan dapat kembali pulih secara bertahap. Kegiatan yang beriringan dengan normal baru juga menjadi peluang bagi pemerintah untuk memperoleh pendapatan dari pajak usaha yang berjalan.

New normal memang bisa meningkatkan ekonomi, tapi perlu diingat kebijakan ini juga punya resiko yakni peningkatan jumlah positif Covid-19.  Pemerintah seyogianya menyadari, menekan angka penyebaran hingga memutus rantai penularan adalah hal yang utama dilakukan.

Tidak dipungkiri, bahwa cara paling ampuh untuk memutus rantai penyebaran virus adalah dengan membatasi aktivitas di ruang publik, mengedukasi publik atas pencegahan penularan, dan melakukan pemeriksaan secara massif, sehingga orang yang terpapar bisa segera melakukan pengobatan atau karantina. Namun, opsi ini seolah diabaikan sebab pemerintah lebih memilih new normal saat kondisi puncak pandemi belum terjadi.

Negara seolah telah menghilangkan fungsinya dalam memberikan jaminan kehidupan dan melindungi masyarakat dari marabahaya. Sejatinya, setiap kebijakan hendaknya diambil untuk mengatasi persoalan yang dialami publik, bukan dengan sikap tergesa-gesa yang justru berpotensi memperparah keadaan.

Belum lagi, dengan fakta baru yang dikeluarkan WHO bahwa penularan Covid-19 bisa terjadi melalui udara (9/7), WHO menyatakan kemungkinan terdapatnya penularan secara airborne pada kondisi ruang tertutup (indoor), ramai dan ventilasi yang kurang baik. Seperti di perkantoran yang menggunakan AC, keadaan ini membuat resiko penularan semakin tinggi.  Maka akankah new normal tetap dijalankan padahal nyawa rakyat sedang dipertaruhkan?

Menanti Pemimpin Sejati

Pemimpin adalah perisai atau pelindung bagi umat dari ancaman apapun. Maka sebagai pemimpin, berbagai strategi terbaik dalam menanggulangi musibah pandemi Corona akan dirancang dan diterapkan, disertai dengan sikap kehati-hatian  dalam mengeluarkan berbagai kebijakan. Rakyat menjadi fokus utama yang harus diperhitungkan, keselamatannya menjadi tanggungjawab negara. Tentu, kehadiran pemimpin yang demikian sangat dinantikan. Bukan pemimpin yang hanya mempertimbangkan materi semata.

Pemimpin sejati bersama seluruh jajaran pemerintahannya akan berupaya maksimal dalam menangani wabah Covid-19. Seperti tegas dalam mengambil kebijakan dan jauh dari pengaruh asing. Serta bekerjasama dengan para ahli yang kompeten dan terus menerus melakukan berbagai kajian dan riset. Pendisiplinan dan edukasi masyarakat terkait protokol kesehatan dilakukan secara manusiawi, hingga masyarakat paham bagaimana langkah yang tepat untuk mencegah penularan.

Upaya serius ini terus dilakukan dalam rangka menemukan jalan keluar terhadap berbagai persoalan. Dengan kebijakan yang tepat, yakinlah wabah ini akan berakhir. Terkait dengan ekonomi, tak apa jika Negara harus berhemat, berhenti sejenak dari aktivitas pembangunan yang bisa ditunda untuk mengalihkan anggaran demi terpenuhinya kebutuhan rakyat di masa pandemi seperti saat ini.

Pemimpin hendaknya menghadirkan rasa empati, melatih kepekaan hingga mampu merasakan kesulitan yang dihadapi rakyat. Ini akan menjadi bukti bahwa Negara benar-benar mencintai rakyatnya. Sebagaimana dipaparkan dalam buku The Great leader of Umar bin Khaththab bahwa ketika terjadi krisis ekonomi, Khalifah hidup lebih sederhana dan berhemat serta mendirikan posko bantuan untuk memenuhi kebutuhan rakyat.

Tak ada salahnya menengok bagaimana Islam menghadapi wabah. Salah satu upaya yang dilakukan Rasulullah saw pun, saat terjadi wabah kusta yang menular dan mematikan adalah dengan menerapkan karantina atau isolasi terhadap penderita. Hal ini dilakukan untuk mencegah wabah meluas ke wilayah lain.

Sebagaimana beliau bersabda : “Jika kalian mendengar wabah terjadi di suatu wilayah, janganlah kalian memasuki wilayah itu. Sebaliknya, jika wabah itu terjadi di tempat kalian tinggal, janganlah kalian meninginggalkan tempat itu” (HR al-Bukhari). Rasulullah juga membangun tembok untuk memastikan tidak ada orang yang memasuki wilayah terjangkit wabah dan mengawasi agar orang yang berada di dalam wilayah tersebut tidak keluar.

Wabah ini adalah ujian yang seharusnya membuat kita bermuhasabah dan meningkatkan aktivitas mendekatkan diri kepada Allah serta meminta pertolongan kepada-Nya sebagai pemilik alam semesta. Sungguh Rasulullah dan Umar telah mencontohkan sikap yang sebaiknya diambil seorang pemimpin saat terjadi wabah. Inilah pemimpin idaman yang menjaga rakyat dengan sebaik-baiknya. Dialah pemimpin sejati yang mencintai rakyat dan rakyatpun mencintainya. Dialah pemimpin yang sadar akan amanahnya hingga bekerja sebaik-baiknya.

Editor : Rj | Publizher : Iksan

error: Hak Cipta dalam Undang-undang