“New normal” Kebijakan ala Kapitalis


Oleh: Nita Karlina

(Aktivis Muslimah Kendari)


New normal adalah kebijakan yang diambil pemerintah karna kondisi atau situasi dalam negeri sudah membaik. Misal, penurunan jumlah kasus pasien Covid-19, berkurangnya angka kematian, dan kesadaran masyarakat sudah mulai tinggi. Maka wajar jika pemerintah menormalkan kembali aktifitas masyarakat seperti sedia kala.

Namun kalau kita melihat kondisi hari ini, sebenarnya Indonesia belum siap untuk menjalankan aktifitas new normal. Mengapa? karena jumlah kasus Covid-19 di Indonesia masih terus bertambah. Sebagaimana Gugus Tugas Percepatan Penanganan Covid-19 mencatat hingga Selasa (26/5/2020), jumlah kasus konfirmasi positif Covid-19  mencapai 23.165 orang. Sangat tidak memungkinkan untuk diberlakukan new normal bukan?

Sejak awal munculnya virus corona ini, pemerintah sudah salah langkah dalam mengambil kebijakan. Mereka menganggap Indonesia adalah daerah tropis sehingga tidak mudah untuk terjadinya penularan virus corona. Karenanya, mereka tetap membiarkan orang asing masuk ke Indonesia. Akibatnya, pandemi tersebut tak terhindarkan.

Kala itu, pemerintah hanya mengambil kebijakan phisycal distancing. Tapi pada faktanya, meski telah diberlakukan PSBB, jumlah Covid-19 bukan malah menurun, justru malah meningkat. Ini mengindikasikan bahwa PSBB saja tidak cukup untuk menghentikan penularan Covid-19.

Hal demikian berbeda jika kita menerapkan aturan Islam. Dimana solusi untuk menghentikan wabah pandemi adalah dengan diberlakukan lockdown atau karantina wilayah secara total. Pada saat yang sama, negara hadir untuk memenuhi kebutuhan masyarakatnya semasa lockdown, karena mereka harus berdiam diri di rumah dan menghindari keramaian. Segala kebutuhan pokok masyarakat pun ditanggung oleh negara. Walhasil, tidak ada lagi kepanikan masyarakat soal kebutuhan pokok, karena semua ditanggung oleh negara.

Secara historis, solusi Islam ini telah diterapkan pada masa Umar Bin Khattab R.A. Kala itu, di Syam ada wabah Thaun yang terjadi, Umar bin Khattab dan rombongan yang kala itu sedang dalam perjalanan, terpaksa harus menghentikan perjalanan kesana.

Hal ini juga pernah diterapkan oleh Rasulullah Saw. untuk mencegah wabah penyakit menular menjalar ke wilayah lain.  “Jika kalian mendengar wabah terjadi di suatu wilayah, janganlah kalian memasuki wilayah tersebut. Sebaliknya jika wabah itu terjadi di tempat kalian tinggal, janganlah kalian meninggalkan tempat itu” ( HR. Al-Bukhari ).

Memang akan ada resiko besar dari jika pemerintah kita saat ini memberlakukan lockdown, kacaunya sektor ekonomi misalnya, tetapi itu sudah menjadi tanggung jawab negara untuk melindungi rakyatnya. Bukan justru memaksakan new normal demi keberlangsungan ekonomi, padahal situasi belum baik-baik saja. Wallahualam bishowwab.

error: Hak Cipta dalam Undang-undang