Operasi Sikat Menekan Miras di Masyarakat

dr. Sofie
dr. Sofie

Oleh: dr. Sofie


 

Tahun 2020 akan segera berlalu namun nampaknya keresahan masyarakat masih tak berujung diakhir tahun  dikarenakan miras (minuman keras) masih beredar dan menimbulkan banyak kejadian yang menjadi pangkal utama tindak pidana.

 

Guna menekan penyakit masyarakat yang kian meresahkan warga Bombana, polisi menggelar operasi sikat di penghujung tahun 2020. Dalam operasi ini, polisi menemukan banyak peredaran minuman keras (miras).

 

Humas Polres Bombana, Ipda Tujiyanto, S.SH menyebutkan, Oparasi sikat dilaksanakan sejak tanggal 20 November hingga 5 Desember 2020. Berdasarkan temuan ditengah masyarakat, konsumsi dan peredaran miras masih tinggi .

“Hampir semua wilayah hukum Polsek di Bombana menemukan miras baik minuman impor (kemasan) maupun minuman lokal,” Ujar Tujianto kepada Telisik.id, Sabtu (5/12/2020) .

 

Kejadian tersebut terjadi dikarenakan tidak adanya aturan tegas pembatasan produksi dan distribusi miras dipusat dan daerah, Hal ini mengakibatkan miras mudah didapatkan oleh kalangan remaja maupun dewasa diberbagai tempat hiburan, pariwisata, hotel, ditoko-toko, bahkan dirumah warga sekalipun menjadi tempat produksi miras.

 

Selain itu, mahalnya miras berlabel mendorong penikmat miras membuat miras oplosan atau miras tradisional jenis tuak dan arak di Bombana. Tuak sendiri terbuat dari proses penyulingan nira aren dan kelapa, tidak jauh beda dengan arak yang terbuat dari fermentasi nira mayang kelapa, tebu, biji-bijian atau beras.

 

Perlu diketahui, Kadar Etanol dalam miras terbagi menjadi 3 kategori, yakni golongan A (kadar etanol kurang dari 5 persen), golongan B (5-20 persen), dan golongan C (20-55 persen). Yang dijual bebas adalah golongan A, sedangkan  golongan B dan C pembeli harus bisa menunjukkan identitasnya.

 

Kadar etanol yang tinggi dalam darah menimbulkan gangguan Kesehatan, seperti gangguan saraf, penyakit jantung, gangguan sistem metabolisme tubuh, penyakit liver, gangguan mental (depresi) dan lain sebagainya. Selain itu, miras memicu kasus kriminalitas, seperti pembunuhan, perkelahian, pemerasan, praktek prostitusi, kejahatan jalanan, kekerasan dalam rumah tangga, dan juga kecelakaan lalu lintas.

BACA JUGA :   Buka Kegiatan TMMD Ke 104, Kery : TMD Kedepannya Akan di Jadikan Proto Tipe Model

 

Dampak miras yang membahayakan tersebut tentu saja telah diketahui oleh pemerintah namun minuman tersebut tetaplah dilegalkan dengan berbagai alasan, yaitu menarik investasi, menyediakannya bagi wisatawan dan juga sumber pendapatan pajak . Intinya, pemerintah dalam hal ini mengambil manfaat ekonomi atas produksi dan peredaran miras.

 

Sikap ambigu pemerintah ini tak lepas dari kecenderungannya berpihak pada para kapitalis yang hanya mengambil keuntungan materi sebagai tujuan utama dan juga  prinsip bernegara yang menjadikan paham sekularisme (pemisahan agama dari kehidupan) sebagai acuan, menunjukkan lemahnya pemerintah dalam membuat regulasi untuk kepentingan rakyat dan menutup mata terhadap kepentingan kaum muslim.

 

Tentang Penulis: admin

Gambar Gravatar
PT Kalosara Media Sultra | Penerbit www.kalosaranews.com merupakan anggota Serikat Media Siber Indonesia (SMSI) Sulawesi Tenggara (Sultra) serta tergabung dalam jaringan Siberindo.co