Pacaran Berujung Maut, Inginkah?

Ummu Hamnah Azizah Asy-Syifa'
Ummu Hamnah Azizah Asy-Syifa'

Viral, mahasiswi yang masih berumur 23 tahun tewasbunuh diri dibawah pusaran ayahnya. Menurut berita yang sedang berkembang, mahasiswi ini terikat hubungan asmara dengan salah satu oknum polisi yang akhirnya membuat ia hamil. Sang oknum pun tidak mau bertanggungjawab bahkan berusaha memaksa korban untuk menggugurkan kandungannya. Apalagi, orang tua oknum turut mendukung anaknya dan mendesak mahasiswi ini untuk melakukan aborsi. Sehingga, depresi yang begitu mendalam, akhirnya mahasiswi ini mengakhiri hidupnya dengan cara bunuh diri.

 

Terlepas dari fakta diatas yang kini masih terus dikembangkan, maka poin utama dalam permasalahan ini adalah adanya’hubungan tanpa pernikahan’. Inilahbiang dari permasalahan yang berujung maut. Halsemacam ini sudah dianggap lumrah bahkan tidak keren dan tidak laku jika tidak memiliki ‘PACAR’.Padahal, pacaran hanya pelarian dari hawa nafsu yang terus bergejolak dan berakhir pada perzinaan.

 

Perzinaan dibalut dalam kata pacaran sehingga penikmatnya semakin terbuai. Anehnya,mereka tidak malu mempertontonkan hubungan mereka bahkan sampai dipublikasikan di berbagai media sosial yang mereka miliki. Padahal sejatinya, hubungan itu hanya mengantarkan mereka pada pelampiasan hawa nafsu belaka. Kemudian muncul istilah pacaran ‘Islami’ tetapi faktanya minus Islami.

 

Sebagai seorang muslim yang masih memiliki keimanan, perlu memahami bahwa tak ada satu pun dalil dari Al-Qur’an, Hadits, Ijma’dan Qiyas yang membolehkan adanya pacaran sebelum pernikahan. Malah Al-Qur’an mengharamkan perbuatan tersebut. Ketika Al-Qur’an telah mengharamkan maka siapapun yang menjadi pelaku pacaran dan dari kalangan apapun tetap saja hukum perbuatannya adalah dosa besar. Karena pedoman dalam bertingkah laku adalah hukum syara’ yang tercakup pada fardhu, sunnah, mubah, makruh dan haram.

 

Bagaimana Islam menjaga umatnya agar tidak terjebak dalam pergaulan bebas?

 

Pertama, Islam mewajibkan kaum muslim untuk menuntut ilmu, terutama ilmu mengenai agamanya. Karenaorang yang memiliki ilmu agama akan bisa menentukan sikap dalam mengambil sebuah perbuatan. Sebab pada faktanya, pelaku pergaulan bebas ini banyak diminati oleh orang yang tidak paham akan agamanya dan menjadikan pemikiran dan kebiasaan barat sebagai rujukannya.

 

Kedua, Islam mengatur hubungan pria dan wanita. Sebagaimana keduanya adalah manusia yang memiliki potensi dalam diri mereka masing-masing. Potensi itu memerlukan pemenuhan yang harus dipenuhi keduanya, diantaranya kebuhan jasmani atau hajat udhuwiyyah seperti rasa lapar, haus ataupun buang hajat. Serta adanya naluri (ghara’iz) yaitu naluri mempertahankan diri, naluri melestarikan keturunan dan naluri beragama. Adapun kebutuhan jasmani dan naluri ini terdapat pada pria dan wanita. Dan pemenuhannya tergantung dari pemahaman agama dari manusianya.

 

Ketiga, naluri melestarikan keturunan ini muncul ketika ada yang membangkitkanya sehingga ia akan menuntut pemuasannya apakah dengan cara menikah ataupun lewat pacaran. Diantaranya, adanya fakta–fakta yang dapat diindera, misalkan ia mendengar dan melihat foto ataupun video yang tidak layak ditonton dan kemudian ia memikirkan bahkan sampai membayangkannya. Jika salah satu faktor itu tidak ada maka naluri tidak akan bergejolak atau menuntut pemenuhan. Dalam pemenuhan naluri ini, manusia dapat mengatur kemunculannya dan mencegah bangkitnya. Misalnya laki- laki tidak melihat wanita yang dapat mengundang syahwat dan wanita harus menggunakan hijab syar’i agar tidakmengundang syahwat laki-laki. Tidak melihat video yang tidak senonoh, membaca cerita yang merusak akal sehat serta tidak melakukan hubungan pacaran. Allah berfirman:

 

 

“Dan janganlah kamu mendekati zina, sesungguhnya zina adalah suatu perbuatan yang keji. Dan suatu jalan yang buruk.” (QS. Al-Isra: 32)

 

Keempat, Islam mengatur hubungan pria dan wanita karena kenyataannya wanita dapat membangkitkan syahwat pria, demikian pun sebaliknya. Adapun interaksi yang dibolehkan dalam islam adalah kasih sayang antara bapak, ibu, anak, saudara, paman ataupun bibi karena ini adalah silaturahim antara mahrom. Islam juga membolehkan wanita dan pria aktivitas pendidikan, perdagangan, pertanian, industri dan sebagainyanamun tetap ada batasan sesuai yang telah disyariatkan oleh hukum syara’.

 

Walhasil, Islam memerintahkan kepada manusia baik pria dan wanita untuk menundukkan pandangan Allah berfirman:

 

“Katakanlah kepada orang laki-laki yang beriman hendaklah mereka menahan pandangannya dan memelihara kemaluannya yang demikian itu adalah lebih suci bagi mereka Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui apa yang mereka perbuat Dan katakanlah kepada wanita yang beriman hendaklah mereka menahan pandangannya dan memelihara kemaluannya”. (QS. An-Nur: 30-31)

 

Maka suatu kewajiban bagi kaum muslim baik pria dan wanita untuk tidak berpacaran. Karena bukan saja pacaran itu diharamkan namun juga pacaran sudah banyak menimbulkan kemudharatan hingga korban jiwa. Na’udzubillahi min dzalik.[AR]


Oleh: Ummu Hamnah Azizah Asy-Syifa’

(Relawan Media dan opini)

error: Hak Cipta dalam Undang-undang