Pariwisata Lokal Menggiurkan Investor?


Oleh : Masitah

(Anggota Smart With Islam Kolaka)

Posisi Sultra yang strategis dengan segala potensinya, harus menargetkan menjadi hubungan pariwisata untuk Kawasan Timur Indonesia (KTI) dengan memanfaatkan citra Wakatobi sebagai daya pikatnya. GIPI Sultra bersepakat, pengembangan pariwisata Sultra berpusat di Kota Kendari yang merupakan sentral hubungan bagi kabupaten/kota lainnya. Sedangkan daerah sekitar yang memiliki potensi sumber daya alam, kultur, sejarah, dan destinasi lainnya, wajib menyiapkan diri sebagai tujuan wisata. Kendari mesti menjadi kota untuk meeting, incentive, convention, and exhibition (MICE) berskala nasional dan internasional. “Pemerintah Kota Kendari harus mampu merebut event-event nasional dan internasional membawanya ke sini, dengan cara memasuki organisasi-organisasi yang melibatkan para pemimpin di dunia. Sedangkan pemerintah daerah yang memiliki potensi, harus menciptakan atraksi-atraksi di destinasi serta memperbaiki akses dan infrastruktur ke tujuan. Tapi bukan merubah orisinilitasnya,” jelas Hugua, Kamis (4/4/2019).

Pengembangan pariwisata yang terus dipusatkan terutama di Indonesia yang juga masuk dalam Kawasan Timur Indonesia yang memiliki berbagai macam potensi wisata bak di darat maupun di lautan. Terutama pada lautnya yang memiliki berbagai macam keragaman mulai dari terumbu karang, ikan dan sebagainya serta posisi laut yang membentang luas dan pulau-pulau yang mengelilinginya menjadikan banyak investor yang meliriknya. Apalagi saat ini pengembangan pariwisata menjadi agenda penting bagi kemajuan negara.

Kapitalisme Biang Kerok

Pariwisata saat ini kebanyakan lebih di olah oleh perusahaan asing swasta, lelang pembangunan dilakukan setiap kali ada wilayah yang berpotensi baik dalam wisata. Ide pengembangan wisata ini sangat baik dilakukan, tapi perlu diketahui bahwa pengelolaan suatu wilayah dalam suatu negara lebih menguntungkan jika pemilik wilayah tersebut yang mengelolanya dibandingkan diberikan izin kepada pihak asing. Karena peluang perizinan yang diberikan membuat pihak asing akan semena-mena dalam mengelola dan memanfaatkannya, bisa saja potensi yang terdapat diwilayah tersebut dikeruknya dengan dalih kerjasama yang dapat menguntungkan. Akhirnya pemiliki wilayah hanya akan menjadi kacungnya saja.

BACA JUGA :   Harga Bawang Meroket, Emak-emak Menjerit

Keserakahan kaum elit penguasa yang berada dibalik sistem kapitalisme dalam mengeruk sumber daya alam yang ada disuatu wilayah jajahannya. Melalui penawaran investasi untuk memajukan ekonomi masyarakat mereka pun siap dengan rencananya mengeruk potensi yang ada. Sayangnya Negara perlu menyadari bahwa harusnya mengelolanya sendiri, akhirnya Negara akan terus terjajah dan tidak akan maju serta dikendalikan oleh korporat asing, sehingga tak akan sadar jika potensi sumber daya alamnya di curi.

Kembali Kepada Islam

Saatnya masyarakat sadar, bahwa investasi yang ditawarkan pihak asing hanyalah bualan dan tipu daya saja untuk mengeruk SDA yang ada. Karena itu, dalam islam segala sesuatunya diukur berdasarkan tingkat ketakwaan kita terhadap Pencipta. Jika keberadaannya dapat melalaikan apalagi menjadi peluang untuk kemaksiatan lebih baik tidak dilakukan. Dalam dalam islam jelas bahwa pengelolaan wilayah terutama potensi sumber daya alam yang ada begitupun sumber daya manusianya, akan diefesienkan dan tidak dijual ke pihak asing apalagi kalau dikelola oleh asing. Adapun jika bekerjasama tentunya ada syarat dan ketentuan yang berlaku tidak seperti sekarang yang mana pihak asing diberikan wewenang untuk menguasainya. Bagaimana negara bisa maju jika negara sendiri tidak percaya diri dalam mengembangkan dan mengelola negaranya. Alhasil, Islam adalah solusi yang mampu menuntaskan semua manusia termasuk pariwisata, melalui penerapan  Islamiyyah. Wallahu a’lam

Tentang Penulis: admin

Gambar Gravatar
PT Kalosara Media Sultra | Penerbit www.kalosaranews.com merupakan anggota Serikat Media Siber Indonesia (SMSI) Sulawesi Tenggara (Sultra) serta tergabung dalam jaringan Siberindo.co