Pasien Covid19 Kendari Membludak, New Normal Gagal?


Oleh : Ummu Zhafran

(Praktisi Pendidikan, Muslimah Pegiat Literasi)


Sedih itu, saat menyimak warta grafik  penderita  covid19  terus menanjak.  Tanpa pandang bulu.  Bahkan di antaranya, tak luput menyasar pula sahabat.   Melansir data Gugus Tugas Percepatan Penanganan Covid-19 Kota Kendari, tercatat dalam 9 hari terakhir ada 85 warga terjangkit Covid–19. (kompas.com, 11/8/2020)

Ruang isolasi rumah sakit rujukan  membludak dipenuhi pasien.  Padahal belum lama rasanya new normal dicanangkan.  Sebuah anomali,  data gugus tugas di atas cukup jadi bukti.  Ada yang keliru dalam penanganan pandemi ini.  Tampak dari berbagai solusi yang berlaku, nyatanya belum mampu menghadang laju penyebaran si Covid.  Alih-alih siap mewaspadai datangnya gelombang kedua bahkan yang pertama saja belum pergi.

Bila dicermati, banyak faktor bisa jadi penyebab.  Tidak disiplin menggunakan masker dan tersilap mencuci tangan adalah beberapa di antaranya. Ditambah durasi pandemi yang sudah berjalan hampir separuh tahun,  tak ayal menerbitkan rasa lelah dan jenuh di tengah masyarakat.

Namun yang terpenting untuk di garisbawahi semua bermuara pada solusi beraroma kapitalistik.  Diabaikannya lockdown sejak mula karena  ambigu penguasa antara melindungi rakyat atau korporat adalah salah satu cirinya.  Semakin nyata ketika new normal ngotot dilakukan meski kurva pandemi meningkat tajam.  Demi menyelamatkan dunia usaha walau keselamatan publik yang jadi taruhannya.  Lebih berpihak pada korporat ketimbang mendahulukan kemaslahatan rakyat.

Jika ingin didaftar, masih banyak ciri lainnya.  Antara lain, naiknya iuran BPJS di tengah wabah melanda. Terbaru, BLT untuk para pegawai perusahaan swasta. Yang terakhir ini sukses bikin  para emak yang telah lama menanti hujan kuota gratis demi kegiatan anak belajar daring jadi terpana.  Bagaimana bisa?

Akibatnya, bagaikan peribahasa,  untung tak dapat diraih malang tak dapat ditolak, herd immunity yang dikawatirkan banyak pakar terjadi pasca new normal kini  perlahan seolah menjelma nyata.

Tampak jelas, ragam kebijakan ala kapitalisme gagap mengatasi imbas pandemi. Yang ada malah masalah semakin runyam. Dibutuhkan penanggulangan pandemi yang integral menyelesaikan sejak dari akar masalahnya, holistik serta sensitif pada kebutuhan rakyat.

Jawabnya ada dalam Islam.  Benarkah?  Sudah pasti.  Bila kapitalisme menempatkan fulus di atas segalanya, tidak dengan Islam yang menjadikan ridho Allah sebagai tujuan.  Kapitalisme berakar pada sekularisme yang menganggap sepi campur tangan Tuhan dalam kehidupan sedang Islam justru melandaskan segala sesuatunya pada syariat Sang Pencipta.  Karena bagi seorang muslim mutlak berlaku kaidah, di mana ada syariat di sana ada maslahat.

Maka kemaslahatan rakyat di sisi Islam menjadi yang terdepan.  Membiarkan herd immunity tentu tak dikenal dalam Islam.

Allah SWT berfirman,

 “Siapa yang menghilangkan nyawa seorang manusia, bukan karena orang itu (membunuh) orang lain, atau bukan karena membuat kerusakan di muka bumi, maka seakan-akan dia telah membunuh manusia seluruhnya.” (QS Al-Maidah  : 32)

Dengan sendirinya wabah tak akan diizinkan berlangsung hingga berkepanjangan.  Untuk itu karantina merupakan tindak prioritas yang harus berlaku.  Agar terpisah antara yang sehat dan yang sakit.

Nabi saw. bersabda,

“Janganlah yang sakit dicampurbaurkan dengan yang sehat.” (HR. Bukhari dan Muslim)

Di saat yang sama kebutuhan hidup rakyat  ditanggung sepenuhnya selama pandemi.   Tanpa memandang kaya maupun miskin. Pekerja swasta atau bukan.  Mulai dari sembako hingga pendidikan dan kesehatan.  Jaminan kebutuhan itu diberikan secara merata kepada rakyat, minus proses administrasi yang berbelit.

Dana untuk mencukupi keperluan  tersebut diambil  dari Baitul Mal. Di mana terdapat pos pendapatan negara yang diperoleh dari pengelolaan kepemilikan umum  oleh negara.  Seluruh hasilnya ditetapkan Islam untuk kepentingan rakyat, tidak untuk pribadi apalagi dijual ke pihak asing.

Mari berkaca pada apa yang dilakukan sosok Khalifah Umar bin Khattab ra. dalam menangani wabah kelaparan di Madinah. Sang khalifah memenuhi kebutuhan warga dengan memberikan semua bahan pangan yang bisa diangkut oleh setiap unta kepada individu rakyat.

Bahkan pernah suatu ketika perut Khalifah Umar ra. terdengar berbunyi keroncongan, maka sang khalifah hanya mengusap perutnya dan berkata, “Berbunyilah sesukamu sampai rakyatku kenyang.”

Alhasil, Islam yang diterapkan secara kaffah membuktikan kehandalannya dalam menyelesaikan persoalan dalam hidup manusia.  Jejaknya terpahat selama berabad-abad di panggung sejarah peradaban manusia. Mustahil dapat terhapus begitu saja.  Maklum, Islam diturunkan dari Yang Maha Mengetahui segala apa yang ada di langit dan bumi.  Termasuk manusia yang notabene ciptaan-Nya.

Cukup kiranya bagi kita firman Allah swt. berikut,

“Apakah hukum Jahiliyah yang mereka kehendaki, dan (hukum) siapakah yang lebih baik daripada (hukum) Allah bagi orang-orang yang yakin?” (QS Al Maidah :50) Wallaahu a’lam.

Editor : Rj | Publizher : Iksan

error: Hak Cipta dalam Undang-undang