Pemberdayaan Perempuan, Mampukah mengurai Masalah Ekonomi?

Nuhidayat Syamsir

(Mahasiswa Ilmu dan Teknologi Pangan UHO)

OPINI :Orang-orang perempuan maju berlomba merebut kehidupan, sehingga alat-alat penghias diri, alat-alat kecantikan lebih melebihi mahalnya. Kemudian muncullah lomba kecantikan, memperagakan diri, lomba ratu-ratuan” (Buya Hamka).

Melirik kutipan ulama, sastrawan, sejarawan serta politikus Indonesia, Abdul Malik Karim Amrullah yang kerap disapa Buya Hamka telah menyindir kehidupan perempuan saat ini. Berangkat dari kutipan beliau yang menggambarkan bagaimana keadaan perempuan dalam meretas kehidupan hingga.

Seorang buta yang bisa mendengar, seorang tuli yang bisa melihat, pun tak luput dari kepekaan jika ditanyai tentang berita kehidupan yang berhubungan dengan perempuan.

Seolah pusat keindahan, perbincangan paling menarik, dan kecenderungan perhatian seutuhnya dipelopori oleh kaum perempuan. Bagaimana tidak, nyaris disetiap sudut perbincangan masyarakat senantiasa ada kaitannya dengan perempuan. Mengapa demikian?

Data BPS (Badan Pusat Statistik) per Juni 2018 menyampaikan jumlah penduduk perempuan dan laki-laki berjumlah 131,88 juta jiwa:133,17 juta jiwa dengan angka tenaga kerja perempuan diatas 50% untuk semua sektor kerja. Pergaulan sosial, perekonomian, pemerintahan, pendidikan bahkan politik luar negeri tak luput dari pemandangan ini, artinya perempuan memiliki andil besar dalam dunia kerja.

Dalam satu pernyataan yang dimuat dalam detikfinance tanggal 09 oktober 2018 lalu, Menteri Keuangan, Sri Mulyani Indrawati menjelaskan bahwa perempuan sangat berperan untuk mendorong pertumbuhan ekonomi sebuah negara. Karena itu peran perempuan dalam sektor pekerjaan harus ditingkatkan.

Sekilas pernyataan tersebut terkesan lumrah, namun jika dicermati ini adalah seruan bagi perempuan untuk terjun ke ranah publik semata mengejar pertumbuhan ekonomi negara. lantas, Benarkah terjunnya perempuan ke bursa kerja akan mampu meningkatkan pertumbuhan ekonomi?

BACA JUGA :   Kepala BP4K Konawe miliki akun facebook Tipu-Tipu

Perempuan sesungguhnya memiliki kontribusi penting untuk kemajuan peradaban. Kedudukan perempuan sangatlah istimewa bagi satu negara, aset yang harus dilindungi, dijamin kehidupannya, serta dijaga kehormatannya.

Namun, sekalipun saat ini nyaris seluruh aspek ketenagakerjaan didominasi oleh kaum perempuan permasalahan ekonomi yang dihadapi negeri ini tak kunjung usai. Bukan hanya tak mencapai pertumbuhan ekonomi,berbagai kasus kekerasan, pelecehan seksual justru menjadi catatan tersendiri bagi perempuan pekerja.

Menyelesaikan masalah ekonomi,harus sistemik

Sebelum memberikan solusi atas sebuah permasalahan, maka hal pertama yang harus dilakukan adalah mengenali fakta agar tak salah dalam mengajukan solusi. Masalah ekonomi bukanlah permasalahan yang berdiri sendiri, namun mencakup sistem yang diterapkan saat ini. permasalahan ekonomi ini bukan karena kaum perempuannya tak terjun ke bursa kerja, bukan.

Jika menilik permasalahan ekonomi dinegeri kita, dapat kita jumpai bahwa yang menjadi akar masalahnya adalah Penerapan sistem ekonomi kapitalisme yang telah menciptakan gap sosial yang kian melebar, menciptakan kemiskinan, hingga menghasilkan perbedaan taraf ekonomi yang ekstrim antara si kaya dan si miskin.

Di sisi lain, Kebutuhan yang menuntut untuk dipenuhi, harga-harga kebutuhan pokok yang kian melangit pada akhirnya mengharuskan kaum perempuan untuk terjun ke dunia kerja, membantu ekonomi keluarga.

Masuknya perempuan ke dunia kerja pada akhirnya membuat kaum perempuan dihadapkan pada peran double yakni sebagai ibu rumahtangga untuk ranah domestik, dan sebagai perempuan pekerja untuk ranah publik. Pada akhirnya yang terjadi adalah benturan kedua peran tersebut yang pada akhirnya harus mengorbankan rumahtangga dan keluarga.

Inilah potret kelamnya hidup di negeri kapitalis. Saat materi dijadikan sebagai sumber kebahagiaan, saat keserakahan pemilik modal kian memperlebar kesenjangan sosial di antara warga masyarakat.

BACA JUGA :   Iklan Humas Pemda Konawe : Pengumuman CTKL PT VDNI & OSS 03/08/2020

Imbas dari segala permasalahan ini adalah rusaknya tatanan kehidupan keluarga, terjadinya ketimpangan peran antara suami-istri, anak menjadi korban ketidakharmonisan keluarga, termasuk didalamnya nihilnya pengawasan dan tanggungjawab pemerintah dalam menjamin kesejahteraan masyarakat secara merata. Butuh solusi sistemik untuk menyelesaikan permasalahn ini. sebab yang menjadi akar masalahnya pun bersifat sistemik.

Wallahu’alam bishawab.(***)

Tentang Penulis: admin

Gambar Gravatar
PT Kalosara Media Sultra | Penerbit www.kalosaranews.com merupakan anggota Serikat Media Siber Indonesia (SMSI) Sulawesi Tenggara (Sultra) serta tergabung dalam jaringan Siberindo.co