Pembiaran Negara Terhadap Komika Penghina Islam

Oleh : Renci Sari 

(Aktivis BMI Baubau)

OPINI : Bercanda menjadi sebuah cara untuk menumbuhkan chemistry dengan orang lain. Sering kali dalam candaan akan timbul tawa sehingga tampak sebagai suatu hiburan yang menyenangkan. Bahkan di era yang modern ini, ada yang menjadikan candaan sebagai suatu ajang kompetisi yang diperlombakan oleh masyarakat dengan berbagai usia.

Komika atau lawakan akhir-akhir ini banyak dibincangkan oleh warga net, mulai dari banyaknya yang pro dan kontra terkait materi-materi yang mereka sajikan kepada masyarakat luas agar terdengar lucu dan menghibur, sehingga segala cara harus mereka lakukan agar cerita yang mereka bawakan terlihat sempurna dengan gaya bahasa dan tektik yang mereka pertontonkan.

Komika atau lawakan tidak dilarang dalam Islam. Bahkan Rasulullah Saw pun dikenal sebagai seorang yang humoris atau suka melucu.

Pada praktiknya, di kalangan Komika atau Stand Up Comedian di Indonesia, umumnya para komika mengarang cerita alias berbohong agar penonton tertawa. Kalaupun ada unsur kebenaran dalam cerita, maka mereka akan melebih-lebihkan atau menambahkan cerita agar lucu.

Jadi, hukum komik, komika, stand up comedy, atau melawak pada dasarkan mubah (boleh). Namun, jika materi stand up comedy atau isi lawakannya berupa cerita bohong, maka hukumnya haram. Apalagi jika lawakannya atau materinya berisi pelecehan atau penghinaan terhadap Islam, jelas diharamkan dan pelakunya berdosa (akan diadzab Allah SWT)

Rasulullah Saw bersabda,

وَيْلٌ لِلَّذِى يُحَدِّثُ فَيَكْذِبُ لِيُضْحِكَ بِهِ الْقَوْمَ وَيْلٌ لَهُ وَيْلٌ لَهُ

“Celakalah orang yang bercerita kemudian dia berdusta agar suatu kaum tertawa karenanya. Kecelakaan untuknya, kecelakaan untuknya.” (HR Abu Daud no. 4990 dan Tirmidzi no. 2315)

Tentang Penulis: admin

Gambar Gravatar
PT Kalosara Media Sultra | Penerbit www.kalosaranews.com merupakan anggota Serikat Media Siber Indonesia (SMSI) Sulawesi Tenggara (Sultra) serta tergabung dalam jaringan Siberindo.co