Pembuangan Bayi Merajalela, Salah Siapa?

OPINI : Warga Anduonohu digegerkan dengan penemuan bayi perempuan di bawah pohon rambutan pada Minggu (23/9) di Lorong jambu, Jalan Martandu, Kota Kendari (Online Berita Kota Kendari, 25/09/2018).

Hal serupa juga terjadi Kelurahan Baruga Kecamatan Baruga Kota Kendari pada Rabu (15/08/2018) malam. Seorang pria tertangkap oleh CCTV membuang bayi dibungkus  kardus (Sultrakini.com, 16/08/2017).

Ada 54 bayi dibuang di jalanan pada Januari 2018. Indonesia Police Watch (IPW) mendata, sepanjang Januari 2018 bayi yang dibuang di Indonesia ada sebanyak 54 bayi. Angka ini mengalami kenaikan dua kali lipat (100 persen lebih) jika dibandingkan dengan periode yang sama pada Januari 2017, sebanyak 26 kasus.

“Di 2017 angka pembuangan bayi di Indonesia tergolong tinggi dalam sejarah, yakni ada 179 bayi yang dibuang di jalanan, 79 tewas, 10 masih bentuk janin dan 89 berhasil diselamatkan. Sepertinya di 2018 ini trennya akan meningkat lagi karena di Januari saja sudah naik 100 persen,” kata Ketua Presidium Indonesia Police Watch Neta S Pane, Rabu (31/1) dalam rilisnya yang diterima MedanBisnis (Medan Bisnis Daily, 03/02/2018)

Sekularisme Biang Kerok Pergaulan Bebas

Sekularisme (penyingkiran peran agama dari kehidupan) berhasil menancapkan pemikiran liberalisme (serba bebas) menjadikan ketakwaan individu semakin tipis, hingga menyeret remaja menuju gaya hidup seks bebas. Pembuangan Bayi umumnya dilakukan oleh wanita muda berusia 15 hingga 21 tahun (Medan Bisnis Daily, 03/02/2018). Motifnya karena kehamilan tak dikehendaki kerap terjadi.

Ketakutan akan sanksi sosial dari lingkungan keluarga, sekolah atau masyarakat sekitar banyak yang mengambil jalan pintas: menggugurkan kandungannya (aborsi) hingga membuangnya dalam keadaan hidup.

Perilaku seks bebas juga dipicu oleh pelegalan komoditi seksual baik pornografi maupun pornoaksi yang terus memunculkan hasrat.

BACA JUGA :   Konsel Siap Jadi Tuan Rumah MTQ Tingkat Sultra

Menteri Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak Yohana Susana Yembise mengatakan ada 25 ribu remaja Indonesia yang mengakses situs pornografi setiap hari. Jumlah itu, kata dia, diketahui dari tamu asal Thailand yang membidangi cyber crime (tempo.co, 04/05/2016).

Hal ini kian menambah daftar hitam perilaku bobrok remaja. Padahal, ditangan merekalah masa depan bangsa ditentukan. Merekalah pemegang estafet kepemimpinan.

Islam Solusi Tuntas

Potret buram generasi kini sebenarnya dapat dituntaskan dengan perbaikan sistem hidup yang mempengaruhi pemahaman serta perilaku. Maka dibutuhkan peran sekolah, keluarga, masyarakat dan negara yang bertanggungjawab dalam pembentukan kepribadian yang baik.

Keluarga adalah institusi pertama dan utama yang melakukan pembinaan dan pendidikan terhadap anak (generasi) di sinilah dasar-dasar keislaman ditanamkan. Sehingga terwujud kepribadian berdasarkan iman dan takwa.

Masyarakat adalah lingkungan remaja menjalani aktivitasnya, memiliki peran baik baik-buruknya proses pendidikan. Masyarakat harusnya bertindak membersihkan lingkungan dari perilaku buruk remaja dan mengajak untuk mengalihkan dengan kegiatan bermanfaat.

Peran strategis pembentukan kepribadian remaja ada pada negara. Melalui pemberlakuan sistem pendidikan. Paradigma pendidikan berasas akidah islam menentukan arah dan tujuan pendidikan.

Harus berlangsung secara berkesinambungan dari TK hingga Perguruan Tinggi. Ujungnya, diharapkan menghasilkan output peserta didik yang berkepribadian islam yang menguasai tsaqofah islam dan ilmu kehidupan (iptek dan keahlian).

Selain itu negara wajib mengontrol dan menindak tegas hal hal yang bisa merusak generasi. Utamanya media yang berpengaruh buruk dalam pendidikan dan pembinaan anak. Oleh karena itu, saatnya mewujudkan potret cemerlang remaja dan generasi dalam tatanan terbaik dari Sang Pencipta, Allah SWT.Wallahu a’lam bi ash-shawab

Warga Anduonohu digegerkan dengan penemuan bayi perempuan di bawah pohon rambutan pada Minggu (23/9) di Lorong jambu, Jalan Martandu, Kota Kendari (Online Berita Kota Kendari, 25/09/2018). Hal serupa juga terjadi Kelurahan Baruga Kecamatan Baruga Kota Kendari pada Rabu (15/08/2018) malam.

BACA JUGA :   Mbak Tutut Akan Dampingi Transmigran Memajukan Bangsa Ini

Seorang pria tertangkap oleh CCTV membuang bayi dibungkus  kardus (Sultrakini.com, 16/08/2017). Ada 54 bayi dibuang di jalanan pada Januari 2018. Indonesia Police Watch (IPW) mendata, sepanjang Januari 2018 bayi yang dibuang di Indonesia ada sebanyak 54 bayi. Angka ini mengalami kenaikan dua kali lipat (100 persen lebih) jika dibandingkan dengan periode yang sama pada Januari 2017, sebanyak 26 kasus.

“Di 2017 angka pembuangan bayi di Indonesia tergolong tinggi dalam sejarah, yakni ada 179 bayi yang dibuang di jalanan, 79 tewas, 10 masih bentuk janin dan 89 berhasil diselamatkan. Sepertinya di 2018 ini trennya akan meningkat lagi karena di Januari saja sudah naik 100 persen,” kata Ketua Presidium Indonesia Police Watch Neta S Pane, Rabu (31/1) dalam rilisnya yang diterima MedanBisnis (Medan Bisnis Daily, 03/02/2018)

Sekularisme Biang Kerok Pergaulan Bebas

Sekularisme (penyingkiran peran agama dari kehidupan) berhasil menancapkan pemikiran liberalisme (serba bebas) menjadikan ketakwaan individu semakin tipis, hingga menyeret remaja menuju gaya hidup seks bebas. Pembuangan Bayi umumnya dilakukan oleh wanita muda berusia 15 hingga 21 tahun (Medan Bisnis Daily, 03/02/2018).

Motifnya karena kehamilan tak dikehendaki kerap terjadi. Ketakutan akan sanksi sosial dari lingkungan keluarga, sekolah atau masyarakat sekitar banyak yang mengambil jalan pintas: menggugurkan kandungannya (aborsi) hingga membuangnya dalam keadaan hidup.

Perilaku seks bebas juga dipicu oleh pelegalan komoditi seksual baik pornografi maupun pornoaksi yang terus memunculkan hasrat. Menteri Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak Yohana Susana Yembise mengatakan ada 25 ribu remaja Indonesia yang mengakses situs pornografi setiap hari.

Jumlah itu, kata dia, diketahui dari tamu asal Thailand yang membidangi cyber crime (tempo.co, 04/05/2016). Hal ini kian menambah daftar hitam perilaku bobrok remaja. Padahal, ditangan merekalah masa depan bangsa ditentukan. Merekalah pemegang estafet kepemimpinan.

BACA JUGA :   1,7 Milyar Untuk Pembangunan Lanjutan Masjid Jabal Nur Tirawuta

Islam Solusi Tuntas

Potret buram generasi kini sebenarnya dapat dituntaskan dengan perbaikan sistem hidup yang mempengaruhi pemahaman serta perilaku. Maka dibutuhkan peran sekolah, keluarga, masyarakat dan negara yang bertanggungjawab dalam pembentukan kepribadian yang baik.

Keluarga adalah institusi pertama dan utama yang melakukan pembinaan dan pendidikan terhadap anak (generasi) di sinilah dasar-dasar keislaman ditanamkan. Sehingga terwujud kepribadian berdasarkan iman dan takwa. Masyarakat adalah lingkungan remaja menjalani aktivitasnya, memiliki peran baik baik-buruknya proses pendidikan.

Masyarakat harusnya bertindak membersihkan lingkungan dari perilaku buruk remaja dan mengajak untuk mengalihkan dengan kegiatan bermanfaat.

Peran strategis pembentukan kepribadian remaja ada pada negara. Melalui pemberlakuan sistem pendidikan. Paradigma pendidikan berasas akidah islam menentukan arah dan tujuan pendidikan.

Harus berlangsung secara berkesinambungan dari TK hingga Perguruan Tinggi. Ujungnya, diharapkan menghasilkan output peserta didik yang berkepribadian islam yang menguasai tsaqofah islam dan ilmu kehidupan (iptek dan keahlian). Selain itu negara wajib mengontrol dan menindak tegas hal hal yang bisa merusak generasi. Utamanya media yang berpengaruh buruk dalam pendidikan dan pembinaan anak. Oleh karena itu, saatnya mewujudkan potret cemerlang remaja dan generasi dalam tatanan terbaik dari Sang Pencipta, Allah SWT.Wallahu a’lam bi ash-shawab. (***)

 

Tentang Penulis: admin

Gambar Gravatar
PT Kalosara Media Sultra | Penerbit www.kalosaranews.com merupakan anggota Serikat Media Siber Indonesia (SMSI) Sulawesi Tenggara (Sultra) serta tergabung dalam jaringan Siberindo.co