Pembunuhan Marak, Bukti Kapitalisme Makin Merusak

Ketgam : Ilustrasi kapitalisme
Ketgam : Ilustrasi kapitalisme

Oleh : Sindy Utami

(Anggota Community SWI Kolaka)

OPINI : Bangkapos.Com, Bekasi – Kasus pembunuhan yang menewaskan satu keluarga di Jalan Bojong Nangka II, Jatirahayu, Pondok Melati, Kota Bekasi telah terungkap. Tersangka bernama Haris Simamora (30) diketahui telah membunuh Diperum Nainggolan (38) suami, Maya Boru Ambarita (37) istri, Sarah Boru Nainggolan (9) anak pertama, dan Arya Nainggolan (7) anak kedua. Haris kemudian ditangkap saat hendak mendaki Gunung Guntur di Garut, Jawa Barat.

Kabid Humas Polda Metro Jaya, Kombes Argo Yuwono mengatakan polisi menemukan Haris pada Rabu (14/11/2018) malam, sekitar pukul 22.00 WIB.

“Nyawa jaman sekarang murah sekali” begitu pendapat  kebanyakan masyarakat saat ini. Banyak kasus pembunuhan dengan modus yang sepele. Seperti contoh kasus di atas misalnya lantaran karena merasa sakit hati kerap kali di ejek pelaku tega membunuh korban beserta keluarga kecilnya. Selain itu alasan lain ia melakukannya adalah karena merasa direbut haknya.

Kapitalisme, Biang Kerok

Ekonomi kapitalis menuntut tiap individu untuk bersaing ketat dalam memperoleh modal, bahkan menghalalkan segala cara. Apa pun itu yang penting keuntungan dan kepentingan berpihak padanya. Kapitalis tidak memberikan ruang pada kebersamaan atas nama kebebasan individu. Hal ini berdampak pada kehidupan sosial masyarakat.

Pada akhirnya terbentuklah sekat-sekat yang timpang antar individu. Pemilik modal memiliki peranan yang paling penting. Bahkan sekaliber penguasa pun bisa dilobi oleh mereka.

Pembunuhan dengan latar belakang keuangan dan sakit hati marak terjadi karena lemahnya pengaruh dari penegakkan hukum. Hukum yang diterapkan berupa kurungan penjara faktanya tidak memberi efek jera pada para pelakunya. Dengan demikian wajarlah pembunuhan masih menjadi kasus yang selalu terulang lagi dan lagi.

BACA JUGA :   Melirik Potensi Pariwisata Sultra

Pembunuhan dilatarbelakangi berbagai motif. Ada yang karena sakit hati, menghilangkan jejak rampok, hingga alasan sepele. Motif ini sesungguhnya menunjukan kerusakan secara pemikiran-peraturan-perasaan.

Ikatan yang ada di tengah masyarakat bukan ikatan yang benar. Karena ikatannya dibangun berdasar pemisahan antara agama dan kehidupan (sekularisme). Begitu pula peraturan yang ada tidak memberikan efek jera. Perasaan masyarakat dipenuhi dengan materialisme dan ingin solusi instant. Solusi yang tanpa mempertimbangkan kaidah hukum dan kepentingan manusia lainnya.

Jika alasan membunuh didasari sakit hati. Hal ini menunjukan kejumudan berfikir. Pemenuhan keinginan sesaat dan disertai nafsu jahat. Mengalahkan logika dan akal sehat. Aneh juga, orang yang tidak dikenal pun jadi sasaran pembunuhan. Tak sedikit perampokan juga disertai pembunuhan. Lantas, dimana letak kesadaran orang saat ini? Sungguh jahat manusia saat ini. Sudah jahat sistem pun jahat.

Secara garis besar ada tiga faktor. Pertama, faktor individu pelakunya. Yakni, sikap dan mentalnya sudah rusak, misalnya tidak takut dosa, meremehkan nyawa manusia, kehilangan kontrol diri,  dan sebagainya. Kedua, faktor kondisi keluarga atau masyarakat. Misalnya ada sengketa rumah tangga, terlilit utang, gagal usaha, dan sebagainya.

Ini bisa mendorong orang nekat membunuh. Ketiga, faktor lemahnya penegakan hukum oleh negara. Misalnya hukum yang bisa direkayasa atau dibeli, atau hukuman ringan yang tidak menimbulkan efek jera.

Kondisi seperti ini jika dibiarkan berlarut-larut akan mengakibatkan masyrakat semakin rusak. Penghilangan nyawa yang begitu mudah menunjukan masyarakat dalam titik nadir. Seolah hidup dalam rimba belantara. Orang lain pun merasa tidak aman dan was-was.

Islam Punya Solusi

Dalam ajaran Islam, membunuh satu jiwa itu seakan-akan membunuh seluruh manusia (QS Al Maidah : 32). Bahkan jika korban pembunuhan itu seorang Muslim, Islam menilainya sebagai sesuatu yang sangat besar di sisi Allah, sampai-sampai Nabi SAW bersabda, “Sungguh hancurnya dunia lebih ringan di sisi Allah daripada terbunuhnya seorang Muslim.” (HR Ibnu Majah no 2619).

BACA JUGA :   Antara Ulama Dan Kekuasaan

Islam adalah segala bentuk aturan bukan hanya sekedar aturan ibadah. Aspek perasaan atau naluri sampai sistem ekonomi semua ada aturannya dalam Islam. Islam is the one solution. Islam memahami bahwa naluri dan kebutuhan jasmani adalah fitrahnya manusia. Adapun naluri mencakup naluri mempertahankan diri (baqa), jatuh cinta (nau’) dan kecenderungan mensucikan atau mengagungkan sesuatu (tadayyun).

Naluri manusia sejatinya memang harus terpenuhi, tetapi tidak akan menimbulkan gangguan kesehatan badan jika tidak terpenuhi. Seandainya naluri tidak terpenuhi maka pengaruhnya hanya kegundahan saja. Sedangkan kebutuhan jasmani adalah segala kebutuhan pada tubuh manusia yang jika tak terpenuhi dapat menimbulkan penyakit bahkan kematian contohnya makan, minum, eksresi dan lain sebagainya.

Meskipun Islam telah memahami hal-hal tersebut sebagai fitrah manusia, Islam tidak memberi kebebasan penuh kepada manusia untuk ketercapaiannya. Keseluruhannya diatur dalam kaidah-kaidah berdasarkan Al Qur’an dan tuntunan Rasulullah Muhammad SAW.

Kasus pembunuhan sekeluarga diatas dilandasi karena sakit hatinya pelaku yang sering mendapat penghinaan dari korban dan merasa hakmya direbut oleh korban, lantaran pengurus kos-kosan sebelumnya adalah dia. Seandainya pelaku memahami kaidah-kaidah Islam dalam memandang naluri mau pun kebutuhan jasmani dan menerapkan dalam kehidupannya maka hal ini tak akan terjadi.

Kasus di atas semakin menunjukkan betapa bobroknya hukum yang ada saat ini. Kasus pembunuhan terus menerus terjadi sepanjang tahun. Untuk menekan berbagai faktor tersebut, syariah Islam mengatasi masalah itu dengan dua cara.

Pertama, memperbaiki sikap dan mental individunya dengan memperkuat keimanan dan ketakwaannya. Syariah Islam, misalnya, telah menerangkan bahwa membenci orang lain itu tidak baik, kecuali membenci karena Allah, misalnya membenci orang yang berbuat maksiat. Dendam itu tidak baik, karena yang lebih utama adalah memberi maaf dan bersabar.

BACA JUGA :   Konawe Selatan Bertekad Rebut Emas dari 23 Cabor yang Diikuti

Kedua, menyelesaikan akar masalahnya, mengapa sampai timbul kebencian, dendam, mudah tersinggung, dll? Jika karena perselisihan rumah tangga, atau karena utang piutang, atau karena sengketa bisnis, syariah Islam mempunyai hukum-hukum syara’ yang sangat mencukupi sebagai solusinya, termasuk solusi berupa pengadilan syariah (al qadha`) yang adil.

Sudah saatnya kembali pada aturan yang paripurna milik Allah SWT. Di mana keadilan berada ditampuk syara’. InsyaAllah nyawa manusia yang begitu berharga pun dapat terjaga karena akidah melekat pada tiap individunya. Selain itu negara juga memegang peranan penting dalam menjaga tegaknya hukum-hukum Allah. Allahu Akbar!(***)

Tentang Penulis: admin

Gambar Gravatar
PT Kalosara Media Sultra | Penerbit www.kalosaranews.com merupakan anggota Serikat Media Siber Indonesia (SMSI) Sulawesi Tenggara (Sultra) serta tergabung dalam jaringan Siberindo.co