Penerapan New Normal Life, Efektifkah?


Oleh: Nurbaya


Dilansir dari tirto.id- Definisi new normal adalah skenario untuk mempercepat penanganan Covid-19 dalam aspek kesehatan dan social-ekonomi. Pemerintah Indonesia telah mengumumkan rencana untuk mengimplementasikan skenario new normal ini. Seperti penyataan Jokowi yang mengatakan bahwa “Kita harus berkompromi dan bisa hidup berdampingan dengan covid-19. Selain itu juru bicara pemerintah terkait penanganan Covid-19, Ahmad Yurianto juga mengatakan bahwa “Beberapa saat yang akan datang tentunya banyak daerah yang secara bertahap akan memulai mengimplementasikan kebiasaan baru ini sejalan dengan mulai dijalankan kembali aktivitas aktivitas produktif dalam rangka untuk mempertahankan kinerja keseluruhan kita,” Selasa (2/6/2020).

Dari pernyataan Presiden Jokowi dan juru bicara gugus tugas percepatan Covid-19 memberikan sinyal kepada masyarakat bahwa pengaktifan berbagai sarana umum beserta para sumber daya manusianya merupakan suatu keharusan bagi pemerintah. Tindakan tersebut merupakan upaya pemerintah untuk menyelamatkan roda perekonomian dari ancaman krisis yang kini  mengintai dan siap menerjang bangsa ini kapanpun.

Namun, penerapan new normal dilakukan ketika kasus covid-19 di Tanah Air masih tinggi ini terbilang sangat gegabah.  Data Covid-19.co.id, total kasus positif Covid-19 per 30 Mei 2020 mencapai 25.773 orang, 7.015 pasien sembuh dan 1.573 pasien meninggal dunia. Sedangkan pada data update virus corona rabu 10 juni 2020, di Indonesia mencapai 33.076 kasus, 11.414 orang pasien dinyatakan sembuh dan 1.923 pasien meninggal (tribunMataram.com)

Berdasarkan data tersebut terlihat bahwa semakin hari malah bertambah kasus orang yang terkena penularan Covid-19 ini. Jika Indonesia bersikeras ingin menerapkan New Normal seperti Negara lain dimungkinkan penularan covid-19 melonjak pesat dikarenakan Indonesia belum memenuhi syarat. Pemerintah seolah-olah melangkah dengan sembrono dan tergesa-gesa padahal belum ada kesiapan. Seperti kata Ridwan dalam sebuah diskusi publik yang dilakukan secara virtual, kamis (28/5/2020) “Indonesia masih dipuncak atau bahkan belum mencapai puncak sudah mau inplementasi jadinya terlalu dini, premature ini. Jadi  new normal prematur” sehingga nantinya menimbulkan ancaman penularan yang sangat tinggi. Bukannya membuat ekonomi semakin membaik namun malah membunuh masyarakat secara perlahan dan pasti. Ketika keputusan yang diambil hanya memikirkan keuntungan itulah pola pikir dari kapitalisme, kebijakannya hanya berorientasi keuntungan/materi sahaja meskipun nyawa rakyat dipertaruhkan.

Lain  halnya dengan Islam menyikapi suatu wabah.  Islam senantiasa menempatkan urusan umat sebagai urusan utama. Dalam sejarah, wabah penyakit menular pernah terjadi pada masa Rasulullah saw. Untuk mengatasi wabah tersebut, salah satu upaya Rasulullah saw. adalah menerapkan karantina atau isolasi terhadap penderita. Ketika itu Rasulullah saw. memerintahkan untuk tidak dekat-dekat atau melihat para penderita kusta tersebut. Beliau bersabda:

“Janganlah kalian terus-menerus melihat orang yang mengidap penyakit kusta” (HR al-Bukhari).

Rasulullah SAW. juga memperingatkan para sahabat untuk tidak mendekati wilayah yang sedang terkena wabah. Sebaliknya, jika sedang berada di tempat yang terkena wabah, mereka dilarang untuk keluar. Beliau bersabda:

“Jika kalian mendengar wabah terjadi di suatu wilayah, janganlah kalian memasuki wilayah itu. Sebaliknya, jika wabah itu terjadi di tempat kalian tinggal, janganlah kalian meninginggalkan tempat itu”. (HR al-Bukhari).

Metode penanganan wabah dengan cara karantina ini terbukti efektif mempercepat berakhirnya wabah.  Itulah Islam selalu menunjukkan keunggulannya sebagai agama sekaligus ideologi yang lengkap. Islam mengatur semua hal dan memberikan solusi atas segenap persoalan. Wallahua’lam bi ash-shawab.

Editor : Rj | Publizher : Iksan

error: Hak Cipta dalam Undang-undang